By
Iluvia Dama on Thursday, February 14, 2013 at 12:14pm
dr. Susan R. Johnson, FAAP
diterjemahkan oleh Ellen Kristi
* pernah dimuat secara bersambung dalam e-magazine Sekolah Rumah
PENGANTAR DARI PENERJEMAH
Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini
banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul
dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang
populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan
baca-tulis. Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru
diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib
di jenjang Taman Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).
Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar
baca-tulis semakin cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya,
mencekoki anak dengan pelajaran formal terlalu dini justru berbahaya?
Berikut ringkasan penuturan dari pakar perkembangan dan perilaku anak,
dokter Susan Johnson, yang layak dicermati para orangtua.
Bagian I – Sistem Proprioseptif
Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang, selalu bergeliat-geliut di
kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku, mengetuk-ngetukkan jari di
meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering terbangun sepanjang
tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan orangtua sebelum bisa
lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar sistem
proprioseptifnya belum matang.
Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui
keberadaan tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang
telah berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya
tanpa harus melihat atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa
diuji antara lain dengan melihat apakah seorang anak bisa berdiri
stabil di atas satu kaki dengan mata terpejam.
Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan
kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian. Selama tujuh
tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi otot,
tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh
duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak
tidak kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang
tidak mampu duduk tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai
penderita ADD (Attention Deficit Disorder).
Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan
belajar membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan
dari bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah
berlatih berpuluh-puluh kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b”
dan “d”, atau tanpa sadar menulis angka 2 atau 3 secara terbalik.
Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu
di punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa,
berarti sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.
Sistem proprioseptif menjadi kuat melalui gerakan-gerakan jasmani,
seperti menyapu, mendorong gerobak mainan, membawakan belanjaan,
mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, atau bergelantungan di
tangga lengkung taman bermain. Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi
antara benak dan reseptor di otot, tendon, dan sendi terbentuk. Saat
lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak kaki maju, mundur, naik,
turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai memperoleh kesadaran
tentang ruang di sekeliling mereka.
Dampaknya, saat nanti mereka
memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu mengikuti dan
melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu. Memori dari
gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas terbentuklah
gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf ini. Sebelum
mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai panduan.
Mereka tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2 dan
3.
Bagian II – Membaca, Mengeja, dan Menulis
Belakangan ini, kurikulum dalam Kelompok Bermain (playgroup)
dan Taman Kanak-kanak tampak semakin mendesak agar anak balita belajar
baca-tulis-eja. Tetapi betulkah waktunya sudah tepat? Sudah siapkah
mereka? Mari kita kaji dari aspek perkembangan otak anak.
Jika anak belajar membaca pada usia 4-7 tahun, maka bagian otak yang
akan dipakai adalah belahan otak kanan. Belahan ini membuat anak
mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf dan angka. Saat
diperkenalkan pada sebuah kata, anak akan mengingat huruf pertama dan
huruf terakhir, serta panjang dan bentuknya secara umum – dan
tergambarlah kata itu di benaknya.
Kelemahannya, kalau cara membaca dengan otak kanan itu terpatri di
pola pikir anak, di kemudian hari ia akan mengalami berbagai problem
belajar. Sebab, anak jadi terbiasa melihat kata sebagai gambar. Ia
melihat huruf pertama, huruf terakhir, panjang dan bentuknya lantas
menebak “kata apa itu?”. Kata BURUK bisa dibaca BUSUK atau BULUK. Jika
Anda pampangkan kata ARJOLI ia akan membacanya sebagai ARLOJI tanpa
sadar bahwa ia telah salah mengeja. Kata-kata seperti SIAP dan SUAP atau
SURAT, SARAT, dan SIRAT akan terlihat sama saja.
Membaca via otak kanan oke-oke saja untuk kata-kata pendek, tapi akan
sangat melelahkan untuk kata yang panjang, apalagi kalimat. Anak-anak
yang membaca dengan belahan otak kanan pasti bakal kewalahan setelah
membaca beberapa alinea. Lagipula, karena sibuk membunyikan kata, mereka
tak bisa menangkap makna utuh dari suatu bacaan. Tidak ada imaji
mental yang timbul sementara mereka membaca buku cerita. Ini akan
membatasi pemahaman menyeluruh mereka. Akibatnya, saat harus meringkas
atau melaporkan isi bacaan, mereka cenderung mencontek atau menyalin
teks apa adanya.
Karena pusat membaca di otak kanan melihat huruf dan angka sebagai
gambar, cara belajar membaca terbaik untuk usia 4-7 tahun adalah
menghubungkan huruf atau angka dengan gambar-gambar. Misalnya, huruf “M”
bisa diwakilkan oleh gambar dua puncak gunung dengan lembah di
tengahnya. Contoh lain termasuk menggambar seekor katak untuk huruf
“K”, seekor badak untuk huruf “B” atau wafer untuk huruf “W”.
Kita juga belajar mengenalkan bunyi huruf dengan mengaitkannya ke
benda nyata, misalnya bahwa bunyi “M” adalah bunyi pertama dari kata
“Mama”. Tapi cara ini tidak bisa dipakai untuk membuat anak hafal bentuk
hurufnya. Dari sudut ilmu perkembangan, sangat tidak masuk akal
mengharap anak hafal bagaimana menulis huruf B dengan bilang, “Babi,
Nak, babi!” karena huruf B sama sekali tidak mirip dengan babi, atau
huruf A dengan apel, dsb.
Tetapi untuk belajar membaca secara formal, masih perlu dipenuhi dua faktor lain. Pertama,
berkembangnya pusat baca di belahan otak kiri. Ini rata-rata terjadi
usia 7-9 tahun (pada anak perempuan bisa lebih cepat, sementara pada
anak lelaki bisa lebih lambat, sekitar umur 10-12 tahun). Pusat membaca
di otak kiri inilah yang menyanggupkan anak-anak untuk belajar membaca
secara fonetis (dari huruf ke huruf). Sekarang mereka dapat mengingat
lebih akurat bagaimana mengeja kata-kata.
Belahan otak kanan menyanggupkan anak membaca lewat ingatan visual,
sementara belahan otak kiri dengan metode fonik (membunyikan kata dari
huruf ke huruf). Membaca dengan ingatan visual sangat efisien untuk
kata-kata pendek, sementara metode fonik efisien untuk kata-kata
panjang. Jika kedua belahan otak itu telah berkembang dan saling
terhubung, anak bisa mengakses keduanya secara bersamaan. Akibatnya,
anak akan mampu membaca kata pendek maupun panjang dengan efisien.
Bagaimana kita tahu belahan otak kanan dan kiri telah saling
terhubung (integrasi bilateral)? Cobalah tes kemampuan mereka melakukan cross-lateral skip:
apakah mereka bisa mengayunkan kaki kiri dengan tangan kanan atau kaki
kanan dengan tangan kiri berbarengan tanpa berpikir atau
berkonsentrasi. Sebab gerakan-gerakan tubuh bagian kanan terhubung
dengan belahan otak kiri, sementara gerakan-gerakan tubuh bagian kiri
terhubung dengan belahan otak kanan. Kalau anak dapat menggerakan
tangan dan kaki yang berseberangan bersama-sama, berarti belahan otak
kanan dan kiri sedang “ngobrol” atau terhubung satu sama lain. Kalau
anak hanya bisa mengayunkan tangan dan kaki yang sama (homolateral skip), berarti mereka belum siap membaca, karena mereka belum bisa mengakses kedua belah otak secara simultan.
Kemampuan mengakses secara simultan pusat baca di belahan otak kiri
dan kanan memudahkan proses membaca anak. Sembari membaca, ia juga bisa
menciptakan imaji visual dalam benaknya tentang isi bacaan sebab ia
tidak terpaku pada kegiatan mengeja. Alhasil, saat diajak berdiskusi
atau disuruh menceritakan kembali, mereka mampu menguatakannya dengan
kata-kata mereka sendiri. Mengapa? Karena imaji itu hidup dalam otak
mereka. Mereka jadi lebih mudah memahami makna di balik cerita dan buku
yang mereka baca. Belajar mengeja pun akan jadi lebih mudah.
Saya kuatir melihat makin banyaknya siswa kelas 4, 5, 6 SD bahkan SMP
di sekolah negeri maupun swasta yang masih kesulitan mengeja atau
masih membaca secara visual. Pernah saya memberi tes. Saya minta
sejumlah anak membaca kalimat ini: Enam boach pergi brllibur berasma naik preahu mnemacing ikon.
Ternyata banyak yang tidak sadar bahwa kalimat itu mengandung salah
eja. Saat saya suruh mereka membaca kertas lain berisi kalimat yang sama
namun dieja dengan benar, mereka bilang kalimat kedua ini sama saja
dengan yang pertama. Paling banter mereka hanya menyadari 1-2 kata saja
yang berbeda ejaan.
Anak-anak ini telah didesak untuk membaca terlalu cepat, saat hanya
otak kanan mereka yang sudah siap. Mereka menutupinya dengan belajar
membaca segala sesuatu hanya dengan ingatan visual. Saat pusat baca di
belahan otak kiri mereka akhirnya siap, mereka masih terbiasa membaca
dengan otak kanan. Baru ketika kata yang mereka baca terlalu sulit,
mereka memakai pusat baca otak kiri. Tetapi mereka belum bisa memakai
pusat baca di otak kiri dan otak kanan bersama-sama.
Banyak dari anak-anak ini masih belum memiliki integrasi bilateral
dalam gerakan fisik mereka seperti juga dalam keterampilan baca mereka.
Sebagian anak membaca dengan lambat dan susah payah. Sebagian anak lain
punya ingatan visual begitu kuat sehingga mereka bisa membaca cepat
tetapi tingkat pehamaman dan ejaan mereka payah. Kedua kelompok ini
sama-sama tidak bisa membayangkan dengan mudah adegan-adegan dari teks
yang mereka baca atau mengingat bagaimana cara mengeja tiap kata satu
per satu.
Anak-anak tingkat akhir sekolah dasar yang masih kesulitan membaca
perlu diberikan terapi sesuai kasusnya. Ada banyak opsi terapi yang bisa
dipilih. Oh ya, mereka juga perlu sering dilatih melakukan gerakan
silang untuk menguatkan integrasi otak kiri dan otak kanan, misalnya
lewat permainan tenis, berenang dengan berbagai gaya, atau mendaki
gunung. Sebagai catatan, semua terapi ini jangan dijalankan dalam
suasana persaingan, sebab stres mengganggu pembentukan jalur syaraf.
Setelah itu, mereka harus dilatih ulang membaca fonik dengan otak kiri.
Sekolah dan orangtua berperan besar dalam mendukung proses belajar
anak lewat penyediaan makanan yang bergizi, buah dan sayuran segar,
dengan menghindari minyak yang setengah terhidrogenisasi dan lemak
trans. Tidur yang cukup – yang berarti bertambahnya persentase rapid eye movement (REM)
– akan membantu anak mencerna pelajaran yang ia terima di hari
sebelumnya. Yang tak kalah pentingnya adalah cinta kasih tanpa syarat.
Anak yang merasakan cinta kasih ini akan bertumbuh kembang lebih
optimal, termasuk kemampuan akademisnya.
Pembatasan ketat terhadap kegiatan menonton (televisi, video, games komputer),
bahkan meniadakannya sama sekali di hari-hari sekolah, akan
membebaskan pikiran anak untuk berpikir. Jika tidak, tontonan
elektronik itu akan membombardir otak anak dengan rentetan gambar yang
menginterupsi proses berpikir. Irama yang teratur dan rutin dalam pola
makan dan tidur serta kegiatan sehari-hari akan mendukung sistem syaraf
yang rileks dan anak pun lebih siap belajar.
Sekali lagi, anak tidak dapat belajar dengan baik, jaringan syaraf
pun tak berkembang sempurna, jika anak stres. Memaksa mereka menulis,
membaca, dan mengeja, atau memberi mereka tes-tes “standar” terlalu dini
(tidak sesuai dengan tahap perkembangannya) akan menciptakan perilaku
bermasalah dan problem-problem belajar, terutama pada anak laki-laki.
Mereka bisa benci sekolah, juga benci belajar.
Tahun pertama sekolah dasar adalah waktu untuk memperkenalkan
berbagai gambar bentuk. Anak-anak belajar dan membuat huruf-huruf yang
dijadikan gambar. Mereka berlatih tulis bersambung (kursif), setiap
huruf ditulis berulang kali (misalnya, bentuk kursif “c” disambung
seperti ombak lautan).
Satu atau dua tahun kemudian, saat anak sudah mahir berdiri di satu
kaki dengan mata tertutup, menebak huruf atau angka yang ditulis di
punggungnya, lompat tali maju mundur, dan melakukan gerakan silang –
artinya, otak kanan dan otak kiri telah sama-sama berkembang dan saling
terhubung – pelajaran formal untuk membaca, mengeja, dan menulis sudah
bisa dimulai.
Sudah waktunya untuk menyingkirkan meja-meja dari kelompok bermain
dan taman kanak-kanak. KB/TK perlu mengisi kurikulumnya dengan permainan
yang melatih integrasi syaraf, keterampilan motorik halus, kemampuan
motorik visual, keseimbangan, kekuatan otot, proprioseptif, selain
perkembangan sosial dan emosional anak. Kegiatan seperti drama,
memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan satu kaki),
lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap, melukis,
mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik, merajut,
serta keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka
untuk belajar. Anak-anak butuh semua gerakan yang sehat, harmonis,
ritmis, dan tak kompetitif ini untuk mengembangkan otak mereka. Sebab
gerakan tubuh itulah, bersama-sama dengan kecintaan mereka pada proses
belajar, yang menciptakan jalur-jalur syaraf di otak mereka, agar mereka
bisa membaca, menulis, mengeja, berhitung matematis, dan berpikir
kreatif
diambil dari amanyaulady*wordpress*com