skip to main | skip to sidebar

Tentang Saya

Foto Saya
cicikretnowati
Jakarta, Indonesia
Ibu rumah tangga biasa yang tak ingin hidupnya biasa-biasa saja :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Arsip

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Followers

Kategori

  • Catatanku (6)
  • EKONOMI ISLAM (1)
  • HOME SCHOOLING (4)
  • MENULIS ITU MUDAH LHO (3)
  • MUHASABAH (3)
  • PARENTING (3)
  • SAJAK DAN PUISI (2)
  • SAMARA (1)

Isi Blog

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Assalamualaykum...

Tidak ada yang istimewa dari blog ini selain sebagai tempat buat saya untuk berbagi kebaikan. Berbagi apa yang saya rasakan (tentunya yang layak untuk dibagikan. Karena pastinya ada hal-hal yang tak layak untuk saya bagikan, tapi cukup saya simpan), ide, gagasan-gagasan positif -entah itu dari saya sendiri atau dari orang lain-, dan tentunya menyampaikan kebenaran. Semoga bisa menjadi seperti mata air, yang memancarkan sumber kehidupan. Seperti cahaya yang berpendar terang tapi tak menyilaukan.

--- salam ---

Diberdayakan oleh Blogger.

Cahaya

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain

Jumat, 22 Agustus 2014

BENERMU BENERE SOPO?

Apa yang harus dilakukan oleh manusia jika mendapati sebuah masalah?. Lari dari masalah itu, meratapi masalahnya?, atau megurai permaslahan dan menyelesaikannya?
Bagi yang tak mau dianggap pecundang, pilihannya pastilah pada mengurai permasalahan dan menyelesaikannya. Iya kan?
Tapi berikutnya, dengan cara apa dan bagaimana seseorang tersebut menyelesaikan masalahnya? Ini dia yang masing-masing orang akan berbeda penyelesaiannya.

Sebagai contoh. Bagaimana seseorang memenuhi kebutuhannya untuk makan sedangkan pada saat itu dia tak punya apapun untuk dimakan, termasuk uang untuk membeli makanan?.  Akan banyak ditemukan banyak cara untuk mengatasinya.

Bagi si A bisa saja dia datang ke tetangga kemudian minta makan.
Sedangkan B mungkin punya cara yang lain, datang ke tempat hajatan, masuk, salaman, makan deh sepuasnya, menunya bisa milih lagi.
Sementara si C lain lagi caranya. Ia cari baju-baju terbaiknya, dia jual ke siapa saja yang mau beli kemudian hasil penjualannya itu ia pakai untuk beli makanan.
Demikian juga si D. Ia tak punya baju bagus, tapi ia bisa bantu nyuci piring, gosok baju atau ngepel rumah. Lalu ia tawarkan diri ke tetangga yang kebetulan asistennya sedang berhalangan. ia dibayar dan dibelikannya upah yang ia dapatkan itu untuk membeli makanan
Lain pula cara yang ditempuh si E. Ia melihat dagangan tetangga sebelah yang beraneka ragam. Ada lontong, bakwan, donat, wuih macam-macam lah.  Saat itu warung dalam keadan sepi tak ada yang jaga, tanpa ba bi bu secepat kilat 5 buah lontong dan 10 donat berhasil masuk ke kantong plastik. Segera ia pergi dari tempat itu dan makan hasil jarahannya itu hingga kenyang.
Beda lagi cara yang ditempuh si F. Ia datang ke tetangga, menceritakan permasalahan yang dihadapinya, kemudian ia sampaiakan maksud untuk pinjam uang. Uang yang didapatkan dari piutang tetangga itu, ia gunakan untuk membeli makanan.

Nah demikianah manusia menyelesaikan permasalahan hidupnya. Apapun langkah yang dijalankannya semua berdasarkan pada apa yang ada di pikirannya. Itulah yang dipahaminya. Selanjutnya, apakah semua yang dipahami masing-masing orang dalam contoh di atas bisa dikatakan benar?. Setiap orangpun akan mengukurnya berbeda-beda, tergantung pada sudut pandangnya masing-masing. Jika yang menjadi tolok ukur adalah efktifnya, cepat gak pake lama, ya cara si E lebih cepat bukan? (tapi jangan coba-coba...). Demikianlah manusia bisa berbeda-beda melihat sudut pandang penyelesaian masalahnya. Lalu bagaimana kalau semua mengklaim apa yang dilakukan benar. Saya jamin pasti semua akan kacau. Karena kalau semua menganggap benar, maka tidak akan ada yang salah. Iya kan?. Inilah titik lemah manusia.

Terus bagaiamana?. Maka kembalikanlah standard benar dan salah itu pada Dzat Yang Maha Benar.
Dialah Allah SWT. Jangan coba-coba manusia mengambil alih peran itu kalau ingin hidupnya aman, tentram, kerto raharjo...

-- Salam--
Jakarta, di pagi hari sambil nunggu nasi matang untuk sarapan ^_^

Diposting oleh cicikretnowati di 17.31 0 komentar
Label: Catatanku, MUHASABAH

Selasa, 19 Agustus 2014

Belajar Dari Padi

Setiap saya melihat hamparan padi menguning di sawah, saya mencoba untuk mengingat sebuah perjalan kehidupan. Tanaman ini memang banyak dipakai untuk perlambang kemakmuran, atau untuk sebuah pengingat agar kita tak lupa diri. Semakin berisi semakin merunduk. Dalem banget memang ya rasanya. Tapi bagi saya tak cukup itu sih.

Perjalanan panjang yang harus dijalani padi itu yang membuat saya menaruh perhatian khusus padanya. Padi yang siap panen pastilah melewati sebuah proses bermula dari butiran benih pilihan yang ditaburkan di lahan subur, bersemi tumbuh menjadi tunas pohon baru, ketika sudah cukup kuat akar menopang dia dicabut untuk dipindahkan sementara waktu dan selanjutnya kembali ditanam dengan barisan yang teratur. Para petani di Jawa menyebutnya dengan istilah tandur. Membutuhkan banyak orang untuk mengerjakan tandur ini. Setelah beberapa bulan, dengan perawatan yang luar biasa, perlahan bunga bersemi, berisi, berisi, dan semakin padat isi, semakin berat, bulir-bulir itu semakin memberatkan batang-batang penyangganya. Mereka merunduk.

Nah apa coba pelajaran yang bisa kita petik dari situ.
Ya... untuk bisa "berisi" membutuhkan sebuah proses. Tidak ujug-ujug mak bedunduk. Tidak sim salabim aba kedabra. Proses itu kadang lama, kadang juga cepat. Butuh bersabar untuk melewatinya. Betul apa betul. Sabar!. Aargh... satu kata ini cuman lima huruf, mudah untuk diucapkan tapi melaksanakannya banyak godaan yang harus dihadapi. Iya kan?
Setelah bertempur untuk bisa bersabar, hingga waktunya tiba buah dari kesabaran bisa kita nikmati. Tapi semakin berat isi padi, dia semakin berat merunduk.

Ini sebuah filosofi kehidupan yang luar biasa bagi saya.
Subhanallah... Maha suci Allah SWT yang telah menciptakan padi tak hanya untuk bisa kita makan. Tapi, di dalamnya tersemat sebuah pelajaran hidup yang spektakuler.
Sebuah pelajaran yang akan bisa diambil hanya bagi mereka yang mau berfikir.

-- Salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 14.58 0 komentar
Label: Catatanku, HOME SCHOOLING, MUHASABAH

Senin, 18 Agustus 2014

Tak Ada Judul

Baiklah... harus ada upaya penyelamatan terhadap CAHAYA; MATA AIR BUNDA dari tidur panjangnya kalau tidak ingin disebut pingsan atau malah koma agar tak sampai mati suri. Ya curhat-curhat ringan sajalah. Tentang saya dan anak-anak. Kalau curhatan tentang suami jangan di sini. Tak patut... (kata Mail)

Waktu berlalu benar-benar tak terasa. Bener. Ini bukan sok puitis. Tahu-tahu Mas Akmal sudah 5 tahun 6 bulan. Dek Ali, bulan Agustus ini genap 3 tahun. Masa yang tak singkat dengan segala unik perniknya. Naik turunnya emosi jiwa, pasang surutnya gelombang samudra... semua dirasakan.

Dan dalam perjalanannya ini, baru kemaren saya ngeh betapa kanak-kanak itu melewati prosesnya dan menjadi bagian dari proses saya. Ada kejutan-kejutan di setiap masa yang mereka lewati. Termasuk apa yang terjadi kemaren sore membuat saya lagi-lagi jumpalitan saking kagetnya *lebay yang ini mah. Dalam rentang waktu 5 tahun ini, saya baru menyadari kalau Mas Akaml itu suka "lompat-lompat". Bisa diartikan dalam arti yang sebenarnya, juga bisa tidak.

Duh Gusti... kemana saja saya selama ini?... hehehe... Enggak lah ya... Saya ada bersama mereka. Ada bersama dalam prosesnya.

Tapi memang begitulah perjalanan hidup ini seharusnya. Tidak statis. Dan Mas Akmal berada dalam lintasan perjalanan hidupnya. Berada pada alur proses pembentukan karakternya. Pernah dia melewati menjadi "pengamat", "pengikut", "trend setter". Semakin ke sini semakin tampak karakter yang dia miliki. Meskipun yang jelas manusia memang tak ada yang sempurna. Demikian juga bocah kecil itu. Ada pada satu kondisi dia begitu tak bisa mengendalikan dirinya ketika emosinya memuncak naik. Berteriak tak peduli dia sedang ada di mana. Oooo... Burukkah yang demikian itu? Sedihkah aku sebagai ibunya karena ia tak bisa bersikap manis semanis ibunya ini?... hihihi

Awalnya tentu saya sedih lah. Ketika anak-anak orang lain bisa begitu nurutnya dengan apa yang dikatakan orang tuanya, ternyata saya dapati generasi yang lahir dari rahim saya ini... alotnya kalau sedang bernegosiasi. Alhamdulillah saya cepat bisa disadarkan bahwa mereka sedang berproses. Saya harus cepat mengkoreksi diri, segera identifikasi, dan eksekusi. Hya... apaan nih...


Mengenalinya sedalam-dalamnya, saat apa mereka meledak-ledak, saat apa mereka lucu dan manis, bagaimana mereka bisa luluh, dan bagaimana mengendalikan diri. Ya. Itu saja tugas saya. Dan diantara tugas itu justru yang paling sulit adalah mengendalikan diri saya sendiri. Betul itu. Karena suasana hati saya pasti akan berpengaruh pada mereka.

Terakhir tapi yang terpenting, yang menjadi tugas saya adalah mendoakan mereka agar dalam perjalanan proses kehidupan yang kami jalani, kami tetap ada pada jalan-Nya.

-- Salam --



Diposting oleh cicikretnowati di 03.12 0 komentar
Label: Catatanku

Warisan KAOS KAKI SOBEK

*** 

Al-Kisah seorang kaya raya (Milyader), sedang sakit parah. Menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya... Beliau berwasiat: "Anak-anaku... jika ayah sudah dipanggil yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian. Tolong di pakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek, ayah ingin pake barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipake bila ayah dikubur nanti". Singkat cerita Akhirnya sang Ayah meninggal dunia. Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak2nya minta ke pak modin untuk memakaikan kaus kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya. Akan tetapi pak modin menolaknya: "maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dipakaikan kepada mayat..". Terjadi diskusi panas antara anak2 yg ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin yg juga ustad yg melarangnya. Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris. Beliau menyampaikan: "sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka ber-sama2 siapa tahu ada petunjuk.." Maka dibukalah surat wasiat alm milyader buat anak2nya yg di titipkan kepada Notaris tersebut. Ini bunyinya: Anak-anaku pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah... lihatlah anak2ku padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah dan sawah di-mana2, rumah mewah banyak... tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati. Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yg ikhlas. Anak2ku inilah yg ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dg dunia yg sementara. Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah... Semoga mengingatkan kita... 

*** 

Kisah di atas adalah sebuah kisah yang saya dapatkan dari seorang sahabat (hehe ngaku-ngaku), Ustadzah, sekaligus salah satu perempuan yang menginspirasi saya, di TL facebook. Bukan main. Jujur saja nih, pagi-pagi buka FB (ah ketahuan pagi-pagi sudah FB an) membaca tulisan itu rasanya semriwing hati saya. Betapa tiada berharganya segala apa yang kita dapatkan di dunia saat kita tiada. Bahkan barang yang tak bernilai (materi) tak bisa kita bawa serta.

Lalu... apakah dengan demikian, Allah SWT melarang kita untuk kaya?. Ternyata tidak!. Allah SWT tak pernah membatasi seberapa banyak harta yang bisa kita dapatkan saat di dunia. Tak ditemukan satu ayat pun dalam Al Quran atau bahkan dalam hadits yang menyatakan bahwa Allah SWT memberi batas kekayaan yang boleh dimiliki manusia. Secara jumlah Allah SWT tak melarangnya. Bahkan Dia telah nyatakan bahwa telah Dia ciptakan segala apa yang ada di bumi ini untuk manusia. Ini ada dalam firman-Nya di Surat Al Baqarah (2):29.

 هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (manusia), dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.  

Semua apa yang ada di dunia ini dalah milik Allah SWT karena memang Dialah yang menciptakan. Tapi, atas izin yang telah Dia berikan, manusia boleh untuk menikmati segala yang telah Allah SWT cipta. Tentu saja, itu berarti kesempatan bagi manusia untuk "memiliki" apa-apa yang telah Allah SWT izinkan untuk dinikmati. Tanpa batas. Allah SWT hanya memberikan larangan terhadap jenis dan cara memperolehnya. Bukan jumlah. 

"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya" (Terj. Q.S Al Maidah (5):88)

Jadi, demikianlah Allah SWT tak pernah melarang kita untuk itu. Bahkan Allah SWT perintahkan kita untuk tidak bermalas-malasan. Namun, ini semua tak lantas menjadi pembenar bagi manusia untuk berbuat semaunya atas harta yang telah ia dapatkan. Nah disinlah letak peringatannya. Allah SWT tidak membenarkan jika perolehan harta itu untuk menumpuk-numpuk harta atau bermegah-megahan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat Al An'am ayat 141 yang artinya:

"Janganlah kalian berbuat israf (menafkahkan harta di jalan kemaksiatan) karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf". (Terj Quran Surat Al An'am:141)

Dalam sebuah Hadits juga diriwayatkan:  

"Siapa saja yang mencari dunia demi mendapatkan yang halal, seraya menjaga dari kehinaan, untuk memenuhi nafkah keluarganya atau karena empati kepada tetangganya maka dia akan menemui Allah SWT, sementara wajahnya bagaikan sinar bulan purnama. Siapa saja yang mencari dunia untuk mendapatkan yang halal, namun demi suatu kebanggan, memperbanyak harta dan pamer kekayaan maka dia akan menemui Allah SWT, sementara Allah SWT murka kepadanya."
(hadis ini tercantum dalam Al-Mushannaf karya Ibn Abi Syaibah dari jalur Abu Hurairah).

Lalu, apa hubungannya dengan warisan kaos kaki tadi?

Yang pasti, walaupun Allah SWT tak melarang kita untuk menikmati apa yang ada di dunia -tentunya yang halal dan didapatkan dengan cara yang halal- tapi Allah SWT tak inginkan kita untuk mencintai dunia sebegitu rupa sampai kita tergila-gila. Karena, izin yang telah Allah SWT berikan itu hanya berlaku di dunia. Sesaat setelah kita tinggalkan dunia dan hingar bingar kehidupannya, semua yang ada di dunia otomatis habis masa berlakunya. Ekpired!.

Wallahu alam bisshowab

--Salam--
Diposting oleh cicikretnowati di 01.45 0 komentar
Label: Catatanku, MUHASABAH

Selasa, 03 Juni 2014

MENGAJAR ANAK MEMBACA, MENULIS DAN MENGEJA


By Iluvia Dama on Thursday, February 14, 2013 at 12:14pm
dr. Susan R. Johnson, FAAP
diterjemahkan oleh Ellen Kristi
* pernah dimuat secara bersambung dalam e-magazine Sekolah Rumah

PENGANTAR DARI PENERJEMAH
Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis. Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).

Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar baca-tulis semakin cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya, mencekoki anak dengan pelajaran formal terlalu dini justru berbahaya? Berikut ringkasan penuturan dari pakar perkembangan dan perilaku anak, dokter Susan Johnson, yang layak dicermati para orangtua.

Bagian I – Sistem Proprioseptif

Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang, selalu bergeliat-geliut di kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku, mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering terbangun sepanjang tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan orangtua sebelum bisa lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar sistem proprioseptifnya belum matang.

Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus melihat atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa diuji antara lain dengan melihat apakah seorang anak bisa berdiri stabil di atas satu kaki dengan mata terpejam.

Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian. Selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang tidak mampu duduk tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai penderita ADD (Attention Deficit Disorder).

Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah berlatih berpuluh-puluh kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b” dan “d”, atau tanpa sadar menulis angka 2 atau 3 secara terbalik. Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu di punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.

Sistem proprioseptif menjadi kuat melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak mainan, membawakan belanjaan, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, atau bergelantungan di tangga lengkung taman bermain. Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi antara benak dan reseptor di otot, tendon, dan sendi terbentuk. Saat lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak kaki maju, mundur, naik, turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai memperoleh kesadaran tentang ruang di sekeliling mereka.

Dampaknya, saat nanti mereka memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu mengikuti dan melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu. Memori dari gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas terbentuklah gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf ini. Sebelum mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai panduan. Mereka tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2 dan 3.

Bagian II – Membaca, Mengeja, dan Menulis

Belakangan ini, kurikulum dalam Kelompok Bermain (playgroup) dan Taman Kanak-kanak tampak semakin mendesak agar anak balita belajar baca-tulis-eja. Tetapi betulkah waktunya sudah tepat? Sudah siapkah mereka? Mari kita kaji dari aspek perkembangan otak anak.

Jika anak belajar membaca pada usia 4-7 tahun, maka bagian otak yang akan dipakai adalah belahan otak kanan. Belahan ini membuat anak mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf dan angka. Saat diperkenalkan pada sebuah kata, anak akan mengingat huruf pertama dan huruf terakhir, serta panjang dan bentuknya secara umum – dan tergambarlah kata itu di benaknya.

Kelemahannya, kalau cara membaca dengan otak kanan itu terpatri di pola pikir anak, di kemudian hari ia akan mengalami berbagai problem belajar. Sebab, anak jadi terbiasa melihat kata sebagai gambar. Ia melihat huruf pertama, huruf terakhir, panjang dan bentuknya lantas menebak “kata apa itu?”. Kata BURUK bisa dibaca BUSUK atau BULUK. Jika Anda pampangkan kata ARJOLI ia akan membacanya sebagai ARLOJI tanpa sadar bahwa ia telah salah mengeja. Kata-kata seperti SIAP dan SUAP atau SURAT, SARAT, dan SIRAT akan terlihat sama saja.

Membaca via otak kanan oke-oke saja untuk kata-kata pendek, tapi akan sangat melelahkan untuk kata yang panjang, apalagi kalimat. Anak-anak yang membaca dengan belahan otak kanan pasti bakal kewalahan setelah membaca beberapa alinea. Lagipula, karena sibuk membunyikan kata, mereka tak bisa menangkap makna utuh dari suatu bacaan. Tidak ada imaji mental yang timbul sementara mereka membaca buku cerita. Ini akan membatasi pemahaman menyeluruh mereka. Akibatnya, saat harus meringkas atau melaporkan isi bacaan, mereka cenderung mencontek atau menyalin teks apa adanya.

Karena pusat membaca di otak kanan melihat huruf dan angka sebagai gambar, cara belajar membaca terbaik untuk usia 4-7 tahun adalah menghubungkan huruf atau angka dengan gambar-gambar. Misalnya, huruf “M” bisa diwakilkan oleh gambar dua puncak gunung dengan lembah di tengahnya. Contoh lain termasuk menggambar  seekor katak untuk huruf “K”, seekor badak untuk huruf “B” atau wafer untuk huruf “W”.

Kita juga belajar mengenalkan bunyi huruf dengan mengaitkannya ke benda nyata, misalnya bahwa bunyi “M” adalah bunyi pertama dari kata “Mama”. Tapi cara ini tidak bisa dipakai untuk membuat anak hafal bentuk hurufnya. Dari sudut ilmu perkembangan, sangat tidak masuk akal mengharap anak hafal bagaimana menulis huruf B dengan bilang, “Babi, Nak, babi!” karena huruf B sama sekali tidak mirip dengan babi, atau huruf A dengan apel, dsb.

Tetapi untuk belajar membaca secara formal, masih perlu dipenuhi dua faktor lain. Pertama, berkembangnya pusat baca di belahan otak kiri. Ini rata-rata terjadi usia 7-9 tahun (pada anak perempuan bisa lebih cepat, sementara pada anak lelaki bisa lebih lambat, sekitar umur 10-12 tahun). Pusat membaca di otak kiri inilah yang menyanggupkan anak-anak untuk belajar membaca secara fonetis (dari huruf ke huruf). Sekarang mereka dapat mengingat lebih akurat bagaimana mengeja kata-kata.

Belahan otak kanan menyanggupkan anak membaca lewat ingatan visual, sementara belahan otak kiri dengan metode fonik (membunyikan kata dari huruf ke huruf). Membaca dengan ingatan visual sangat efisien untuk kata-kata pendek, sementara metode fonik efisien untuk kata-kata panjang. Jika kedua belahan otak itu telah berkembang dan saling terhubung, anak bisa mengakses keduanya secara bersamaan. Akibatnya, anak akan mampu membaca kata pendek maupun panjang dengan efisien.

Bagaimana kita tahu belahan otak kanan dan kiri telah saling terhubung (integrasi bilateral)? Cobalah tes kemampuan mereka melakukan cross-lateral skip: apakah mereka bisa mengayunkan kaki kiri dengan tangan kanan atau kaki kanan dengan tangan kiri berbarengan tanpa berpikir atau berkonsentrasi. Sebab gerakan-gerakan tubuh bagian kanan terhubung dengan belahan otak kiri, sementara gerakan-gerakan tubuh bagian kiri terhubung dengan belahan otak kanan. Kalau anak dapat menggerakan tangan dan kaki yang berseberangan bersama-sama, berarti belahan otak kanan dan kiri sedang “ngobrol” atau terhubung satu sama lain. Kalau anak hanya bisa mengayunkan tangan dan kaki yang sama (homolateral skip), berarti mereka belum siap membaca, karena mereka belum bisa mengakses kedua belah otak secara simultan.
Kemampuan mengakses secara simultan pusat baca di belahan otak kiri dan kanan memudahkan proses membaca anak. Sembari membaca, ia juga bisa menciptakan imaji visual dalam benaknya tentang isi bacaan sebab ia tidak terpaku pada kegiatan mengeja. Alhasil, saat diajak berdiskusi atau disuruh menceritakan kembali, mereka mampu menguatakannya dengan kata-kata mereka sendiri. Mengapa? Karena imaji itu hidup dalam otak mereka.  Mereka jadi lebih mudah memahami makna di balik cerita dan buku yang mereka baca. Belajar mengeja pun akan jadi lebih mudah.

Saya kuatir melihat makin banyaknya siswa kelas 4, 5, 6 SD bahkan SMP di sekolah negeri maupun swasta yang masih kesulitan mengeja atau masih membaca secara visual. Pernah saya memberi tes. Saya minta sejumlah anak membaca kalimat ini: Enam boach pergi brllibur berasma naik preahu mnemacing ikon. Ternyata banyak yang tidak sadar bahwa kalimat itu mengandung salah eja. Saat saya suruh mereka membaca kertas lain berisi kalimat yang sama namun dieja dengan benar, mereka bilang kalimat kedua ini sama saja dengan yang pertama. Paling banter mereka hanya menyadari 1-2 kata saja yang berbeda ejaan.
Anak-anak ini telah didesak untuk membaca terlalu cepat, saat hanya otak kanan mereka yang sudah siap. Mereka menutupinya dengan belajar membaca segala sesuatu hanya dengan ingatan visual. Saat pusat baca di belahan otak kiri mereka akhirnya siap, mereka masih terbiasa membaca dengan otak kanan.  Baru ketika kata yang mereka baca terlalu sulit, mereka memakai pusat baca otak kiri. Tetapi mereka belum bisa memakai pusat baca di otak kiri dan otak kanan bersama-sama.

Banyak dari anak-anak ini masih belum memiliki integrasi bilateral dalam gerakan fisik mereka seperti juga dalam keterampilan baca mereka. Sebagian anak membaca dengan lambat dan susah payah. Sebagian anak lain punya ingatan visual begitu kuat sehingga mereka bisa membaca cepat tetapi tingkat pehamaman dan ejaan mereka payah. Kedua kelompok ini sama-sama tidak bisa membayangkan dengan mudah adegan-adegan dari teks yang mereka baca atau mengingat bagaimana cara mengeja tiap kata satu per satu.
Anak-anak tingkat akhir sekolah dasar yang masih kesulitan membaca perlu diberikan terapi sesuai kasusnya. Ada banyak opsi terapi yang bisa dipilih. Oh ya, mereka juga perlu sering dilatih melakukan gerakan silang untuk menguatkan integrasi otak kiri dan otak kanan, misalnya lewat permainan tenis, berenang dengan berbagai gaya, atau mendaki gunung. Sebagai catatan, semua terapi ini jangan dijalankan dalam suasana persaingan, sebab stres mengganggu pembentukan jalur syaraf. Setelah itu, mereka harus dilatih ulang membaca fonik dengan otak kiri.

Sekolah dan orangtua berperan besar dalam mendukung proses belajar anak lewat penyediaan makanan yang bergizi, buah dan sayuran segar, dengan menghindari minyak yang setengah terhidrogenisasi dan lemak trans. Tidur yang cukup – yang berarti bertambahnya persentase rapid eye movement (REM) – akan membantu anak mencerna pelajaran yang ia terima di hari sebelumnya. Yang tak kalah pentingnya adalah cinta kasih tanpa syarat. Anak yang merasakan cinta kasih ini akan bertumbuh kembang lebih optimal, termasuk kemampuan akademisnya.

Pembatasan ketat terhadap kegiatan menonton (televisi, video, games komputer), bahkan meniadakannya sama sekali di hari-hari sekolah, akan membebaskan pikiran anak untuk berpikir. Jika tidak, tontonan elektronik itu akan membombardir otak anak dengan rentetan gambar yang menginterupsi proses berpikir. Irama yang teratur dan rutin dalam pola makan dan tidur serta kegiatan sehari-hari akan mendukung sistem syaraf yang rileks dan anak pun lebih siap belajar.

Sekali lagi, anak tidak dapat belajar dengan baik, jaringan syaraf pun tak berkembang sempurna, jika anak stres. Memaksa mereka menulis, membaca, dan mengeja, atau memberi mereka tes-tes “standar” terlalu dini (tidak sesuai dengan tahap perkembangannya) akan menciptakan perilaku bermasalah dan problem-problem belajar, terutama pada anak laki-laki. Mereka bisa benci sekolah, juga benci belajar.

Tahun pertama sekolah dasar adalah waktu untuk memperkenalkan berbagai gambar bentuk. Anak-anak belajar dan membuat huruf-huruf yang dijadikan gambar. Mereka berlatih tulis bersambung (kursif), setiap huruf ditulis berulang kali (misalnya, bentuk kursif “c” disambung seperti ombak lautan).

Satu atau dua tahun kemudian, saat anak sudah mahir berdiri di satu kaki dengan mata tertutup, menebak huruf atau angka yang ditulis di punggungnya, lompat tali maju mundur, dan melakukan gerakan silang – artinya, otak kanan dan otak kiri telah sama-sama berkembang dan saling terhubung – pelajaran formal untuk membaca, mengeja, dan menulis sudah bisa dimulai.

Sudah waktunya untuk menyingkirkan meja-meja dari kelompok bermain dan taman kanak-kanak. KB/TK perlu mengisi kurikulumnya dengan permainan yang melatih integrasi syaraf, keterampilan motorik halus, kemampuan motorik visual, keseimbangan, kekuatan otot, proprioseptif, selain perkembangan sosial dan emosional anak. Kegiatan seperti drama, memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan satu kaki), lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap, melukis, mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik, merajut, serta keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka untuk belajar. Anak-anak butuh semua gerakan yang sehat, harmonis, ritmis, dan tak kompetitif ini untuk mengembangkan otak mereka. Sebab gerakan tubuh itulah, bersama-sama dengan kecintaan mereka pada proses belajar, yang menciptakan jalur-jalur syaraf di otak mereka, agar mereka bisa membaca, menulis, mengeja, berhitung matematis, dan berpikir kreatif


diambil dari amanyaulady*wordpress*com
Diposting oleh cicikretnowati di 02.53 0 komentar
Label: HOME SCHOOLING, PARENTING

Selasa, 20 Mei 2014

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan

Tempel ini di sini karena EYD saya masih acak adul. Bahan untuk belajar lebih dalem lagi. EYD... EYD...

Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang relevan untuk Wikipedia.(diambil dari WIKIPEDIA)
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:
Islam Quran
Kristen Alkitab
Hindu Weda
Allah
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.


Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.


Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.


Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Jawa Tengah

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.


Misalnya:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.


Misalnya:
Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
6. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.


Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere


Catatan:

(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).


Misalnya:
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama

(2) Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.


Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adham
Siti Fatimah binti Salim
Zaitun binti Zainal

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
pascal second Pas
J/K atau JK-1 joule per Kelvin
N Newton

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.


Misalnya:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa Indonesia

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.


Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.


Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Lebaran hari Natal

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.


Misalnya:
Perang Candu
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.


Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi.


Misalnya:
Banyuwangi Asia Tenggara
Cirebon Amerika Serikat
Eropa Jawa Barat

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.


Misalnya:
Bukit Barisan Danau Toba
Dataran Tinggi Dieng Gunung Semeru
Jalan Diponegoro Jazirah Arab
Ngarai Sianok Lembah Baliem
Selat Lombok Pegunungan Jayawijaya
Sungai Musi Tanjung Harapan
Teluk Benggala Terusan Suez

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.


Misalnya:
ukiran Jepara pempek Palembang
tari Melayu sarung Mandar
asinan Bogor sate Mak Ajad

d. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.


Misalnya:
berlayar ke teluk mandi di sungai
menyeberangi selat berenang di danau

e. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.


Misalnya:
nangka belanda
kunci inggris
harimau sumatera
petai cina
pisang ambon
10. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.


Misalnya:


Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.


Misalnya:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang yang berlaku


Catatan:
Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.


Misalnya:
Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.
Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.

Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:
Dr. doktor
S.E. sarjana ekonomi
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
S.Kp. sarjana keperawatan
M.A. master of arts
M.Hum. magister humaniora
Prof. profesor
K.H. kiai haji
Tn. tuan

Ny. nyonya
Sdr. saudara

Catatan:
Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.
14. b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.


Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.
16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada EYD pasal I B, I C, I E, dan II F15).
Diposting oleh cicikretnowati di 18.35 0 komentar
Label: MENULIS ITU MUDAH LHO

Suamiku Bukan Suamiku

Ilustrasi hasil dari googling. Asli BUKAN foto saya dengan suami :)



"Aku jenuh Yan..."
Sesaat kamu terdiam dan menarik nafas panjang.
"Aku masih belum bisa menerima Mas Radit sepenuhnya. Banyak hal yang kuinginkan dari seorang suami tapi tak kutemukan pada dirinya. Kami sering berseberangan pendapat. Apa yang kuanggap penting, dia tak menganggapnya. Bagiku, dia terlalu lemah sebagai seorang laki-laki apalagi kepala keluarga. Passif" Kamu mulai ungkapkan gundah... Matamu mulai berair, meleleh pelan dan akhirnya terisak.
"Aku iri sama kamu Yana... Kamu mendapatkan orang yang tepat sebagai pendamping hidup. Kamu bisa mendapatkan banyak nasehat dari dia, semangat, arahan. Bang Eri bisa diandalkan menjadi teladan bagi anak-anak."

***
Wey... serius banget bacanya... penggalan dialog tadi itu bukan calon cerpen ya... Tadi itu secuplik kisah saja. Fiktif... Tapi ternyata ini nyata lho. Ada di sekitar kita. Pasangan suami istri yang mememui titik jenuh dalam kehidupan berumah tangga (Jenuh?... hah kok bisa?). Atau... jangan-jangan Anda juga mengalaminya? Yang pasti tokoh "Kamu" di atas bukan Anda lho ya... Sekali lagi itu tadi kisah fiktif, jika ada kesamaan peristiwa dan nama itu adalah kebetulan semata (hey serasa nulis skenario sinetron saja...)

Yup... Kejenuhan dalam berumah tangga, tidak bisa menerima kekurangan pasangan, sering menjadi pemicu retaknya jalinan kasih dalam satu ikatan pernikahan... Lalu... ketika hal itu terjadi apa sih yang harus kita perbuat? Bagaimana sebenarnya agama (Islam) mengatur dan menuntun kita mencapai SAMARA? Sakinah Mawaddah wa Rahmah.

Tetep pantengin frekuensi ini ya (ahay...) Tulisan ini bersambung... (ih kebiasaan deh...) Ya maaf... saya baru bisa menuangkan apa yang ada di kepala saya ke depan lepy tua kesayangan nan berjasa ini di waktu-waktu me time, bukan prime time hehehe... dan me time nya saya itu tengah malam. Sumpah kayak Kalong saya... hehehe...
oke Lanjut nanti...

-- Salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 15.03 1 komentar
Label: SAMARA
Postingan Lama
Langganan: Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod