Baiklah... harus ada upaya penyelamatan terhadap CAHAYA; MATA AIR BUNDA dari tidur panjangnya kalau tidak ingin disebut pingsan atau malah koma agar tak sampai mati suri. Ya curhat-curhat ringan sajalah. Tentang saya dan anak-anak. Kalau curhatan tentang suami jangan di sini. Tak patut... (kata Mail)
Waktu berlalu benar-benar tak terasa. Bener. Ini bukan sok puitis. Tahu-tahu Mas Akmal sudah 5 tahun 6 bulan. Dek Ali, bulan Agustus ini genap 3 tahun. Masa yang tak singkat dengan segala unik perniknya. Naik turunnya emosi jiwa, pasang surutnya gelombang samudra... semua dirasakan.
Dan dalam perjalanannya ini, baru kemaren saya ngeh betapa kanak-kanak itu melewati prosesnya dan menjadi bagian dari proses saya. Ada kejutan-kejutan di setiap masa yang mereka lewati. Termasuk apa yang terjadi kemaren sore membuat saya lagi-lagi jumpalitan saking kagetnya *lebay yang ini mah. Dalam rentang waktu 5 tahun ini, saya baru menyadari kalau Mas Akaml itu suka "lompat-lompat". Bisa diartikan dalam arti yang sebenarnya, juga bisa tidak.
Duh Gusti... kemana saja saya selama ini?... hehehe... Enggak lah ya... Saya ada bersama mereka. Ada bersama dalam prosesnya.
Tapi memang begitulah perjalanan hidup ini seharusnya. Tidak statis. Dan Mas Akmal berada dalam lintasan perjalanan hidupnya. Berada pada alur proses pembentukan karakternya. Pernah dia melewati menjadi "pengamat", "pengikut", "trend setter". Semakin ke sini semakin tampak karakter yang dia miliki. Meskipun yang jelas manusia memang tak ada yang sempurna. Demikian juga bocah kecil itu. Ada pada satu kondisi dia begitu tak bisa mengendalikan dirinya ketika emosinya memuncak naik. Berteriak tak peduli dia sedang ada di mana. Oooo... Burukkah yang demikian itu? Sedihkah aku sebagai ibunya karena ia tak bisa bersikap manis semanis ibunya ini?... hihihi
Awalnya tentu saya sedih lah. Ketika anak-anak orang lain bisa begitu nurutnya dengan apa yang dikatakan orang tuanya, ternyata saya dapati generasi yang lahir dari rahim saya ini... alotnya kalau sedang bernegosiasi. Alhamdulillah saya cepat bisa disadarkan bahwa mereka sedang berproses. Saya harus cepat mengkoreksi diri, segera identifikasi, dan eksekusi. Hya... apaan nih...
Mengenalinya sedalam-dalamnya, saat apa mereka meledak-ledak, saat apa mereka lucu dan manis, bagaimana mereka bisa luluh, dan bagaimana mengendalikan diri. Ya. Itu saja tugas saya. Dan diantara tugas itu justru yang paling sulit adalah mengendalikan diri saya sendiri. Betul itu. Karena suasana hati saya pasti akan berpengaruh pada mereka.
Terakhir tapi yang terpenting, yang menjadi tugas saya adalah mendoakan mereka agar dalam perjalanan proses kehidupan yang kami jalani, kami tetap ada pada jalan-Nya.
-- Salam --
Senin, 18 Agustus 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar