Setiap saya melihat hamparan padi menguning di sawah, saya mencoba untuk mengingat sebuah perjalan kehidupan. Tanaman ini memang banyak dipakai untuk perlambang kemakmuran, atau untuk sebuah pengingat agar kita tak lupa diri. Semakin berisi semakin merunduk. Dalem banget memang ya rasanya. Tapi bagi saya tak cukup itu sih.
Perjalanan panjang yang harus dijalani padi itu yang membuat saya menaruh perhatian khusus padanya. Padi yang siap panen pastilah melewati sebuah proses bermula dari butiran benih pilihan yang ditaburkan di lahan subur, bersemi tumbuh menjadi tunas pohon baru, ketika sudah cukup kuat akar menopang dia dicabut untuk dipindahkan sementara waktu dan selanjutnya kembali ditanam dengan barisan yang teratur. Para petani di Jawa menyebutnya dengan istilah tandur. Membutuhkan banyak orang untuk mengerjakan tandur ini. Setelah beberapa bulan, dengan perawatan yang luar biasa, perlahan bunga bersemi, berisi, berisi, dan semakin padat isi, semakin berat, bulir-bulir itu semakin memberatkan batang-batang penyangganya. Mereka merunduk.
Nah apa coba pelajaran yang bisa kita petik dari situ.
Ya... untuk bisa "berisi" membutuhkan sebuah proses. Tidak ujug-ujug mak bedunduk. Tidak sim salabim aba kedabra. Proses itu kadang lama, kadang juga cepat. Butuh bersabar untuk melewatinya. Betul apa betul. Sabar!. Aargh... satu kata ini cuman lima huruf, mudah untuk diucapkan tapi melaksanakannya banyak godaan yang harus dihadapi. Iya kan?
Setelah bertempur untuk bisa bersabar, hingga waktunya tiba buah dari kesabaran bisa kita nikmati. Tapi semakin berat isi padi, dia semakin berat merunduk.
Ini sebuah filosofi kehidupan yang luar biasa bagi saya.
Subhanallah... Maha suci Allah SWT yang telah menciptakan padi tak hanya untuk bisa kita makan. Tapi, di dalamnya tersemat sebuah pelajaran hidup yang spektakuler.
Sebuah pelajaran yang akan bisa diambil hanya bagi mereka yang mau berfikir.
-- Salam --
Selasa, 19 Agustus 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar