skip to main | skip to sidebar

Tentang Saya

Foto Saya
cicikretnowati
Jakarta, Indonesia
Ibu rumah tangga biasa yang tak ingin hidupnya biasa-biasa saja :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar

Arsip

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Followers

Kategori

  • Catatanku (6)
  • EKONOMI ISLAM (1)
  • HOME SCHOOLING (4)
  • MENULIS ITU MUDAH LHO (3)
  • MUHASABAH (3)
  • PARENTING (3)
  • SAJAK DAN PUISI (2)
  • SAMARA (1)

Isi Blog

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Assalamualaykum...

Tidak ada yang istimewa dari blog ini selain sebagai tempat buat saya untuk berbagi kebaikan. Berbagi apa yang saya rasakan (tentunya yang layak untuk dibagikan. Karena pastinya ada hal-hal yang tak layak untuk saya bagikan, tapi cukup saya simpan), ide, gagasan-gagasan positif -entah itu dari saya sendiri atau dari orang lain-, dan tentunya menyampaikan kebenaran. Semoga bisa menjadi seperti mata air, yang memancarkan sumber kehidupan. Seperti cahaya yang berpendar terang tapi tak menyilaukan.

--- salam ---

Diberdayakan oleh Blogger.

Cahaya

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain

Selasa, 19 Agustus 2014

Belajar Dari Padi

Setiap saya melihat hamparan padi menguning di sawah, saya mencoba untuk mengingat sebuah perjalan kehidupan. Tanaman ini memang banyak dipakai untuk perlambang kemakmuran, atau untuk sebuah pengingat agar kita tak lupa diri. Semakin berisi semakin merunduk. Dalem banget memang ya rasanya. Tapi bagi saya tak cukup itu sih.

Perjalanan panjang yang harus dijalani padi itu yang membuat saya menaruh perhatian khusus padanya. Padi yang siap panen pastilah melewati sebuah proses bermula dari butiran benih pilihan yang ditaburkan di lahan subur, bersemi tumbuh menjadi tunas pohon baru, ketika sudah cukup kuat akar menopang dia dicabut untuk dipindahkan sementara waktu dan selanjutnya kembali ditanam dengan barisan yang teratur. Para petani di Jawa menyebutnya dengan istilah tandur. Membutuhkan banyak orang untuk mengerjakan tandur ini. Setelah beberapa bulan, dengan perawatan yang luar biasa, perlahan bunga bersemi, berisi, berisi, dan semakin padat isi, semakin berat, bulir-bulir itu semakin memberatkan batang-batang penyangganya. Mereka merunduk.

Nah apa coba pelajaran yang bisa kita petik dari situ.
Ya... untuk bisa "berisi" membutuhkan sebuah proses. Tidak ujug-ujug mak bedunduk. Tidak sim salabim aba kedabra. Proses itu kadang lama, kadang juga cepat. Butuh bersabar untuk melewatinya. Betul apa betul. Sabar!. Aargh... satu kata ini cuman lima huruf, mudah untuk diucapkan tapi melaksanakannya banyak godaan yang harus dihadapi. Iya kan?
Setelah bertempur untuk bisa bersabar, hingga waktunya tiba buah dari kesabaran bisa kita nikmati. Tapi semakin berat isi padi, dia semakin berat merunduk.

Ini sebuah filosofi kehidupan yang luar biasa bagi saya.
Subhanallah... Maha suci Allah SWT yang telah menciptakan padi tak hanya untuk bisa kita makan. Tapi, di dalamnya tersemat sebuah pelajaran hidup yang spektakuler.
Sebuah pelajaran yang akan bisa diambil hanya bagi mereka yang mau berfikir.

-- Salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 14.58
Label: Catatanku, HOME SCHOOLING, MUHASABAH

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod