skip to main | skip to sidebar

Tentang Saya

Foto Saya
cicikretnowati
Jakarta, Indonesia
Ibu rumah tangga biasa yang tak ingin hidupnya biasa-biasa saja :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar

Arsip

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Followers

Kategori

  • Catatanku (6)
  • EKONOMI ISLAM (1)
  • HOME SCHOOLING (4)
  • MENULIS ITU MUDAH LHO (3)
  • MUHASABAH (3)
  • PARENTING (3)
  • SAJAK DAN PUISI (2)
  • SAMARA (1)

Isi Blog

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Assalamualaykum...

Tidak ada yang istimewa dari blog ini selain sebagai tempat buat saya untuk berbagi kebaikan. Berbagi apa yang saya rasakan (tentunya yang layak untuk dibagikan. Karena pastinya ada hal-hal yang tak layak untuk saya bagikan, tapi cukup saya simpan), ide, gagasan-gagasan positif -entah itu dari saya sendiri atau dari orang lain-, dan tentunya menyampaikan kebenaran. Semoga bisa menjadi seperti mata air, yang memancarkan sumber kehidupan. Seperti cahaya yang berpendar terang tapi tak menyilaukan.

--- salam ---

Diberdayakan oleh Blogger.

Cahaya

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain

Senin, 18 Agustus 2014

Warisan KAOS KAKI SOBEK

*** 

Al-Kisah seorang kaya raya (Milyader), sedang sakit parah. Menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya... Beliau berwasiat: "Anak-anaku... jika ayah sudah dipanggil yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian. Tolong di pakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek, ayah ingin pake barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipake bila ayah dikubur nanti". Singkat cerita Akhirnya sang Ayah meninggal dunia. Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak2nya minta ke pak modin untuk memakaikan kaus kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya. Akan tetapi pak modin menolaknya: "maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dipakaikan kepada mayat..". Terjadi diskusi panas antara anak2 yg ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin yg juga ustad yg melarangnya. Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris. Beliau menyampaikan: "sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka ber-sama2 siapa tahu ada petunjuk.." Maka dibukalah surat wasiat alm milyader buat anak2nya yg di titipkan kepada Notaris tersebut. Ini bunyinya: Anak-anaku pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah... lihatlah anak2ku padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah dan sawah di-mana2, rumah mewah banyak... tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati. Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yg ikhlas. Anak2ku inilah yg ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dg dunia yg sementara. Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah... Semoga mengingatkan kita... 

*** 

Kisah di atas adalah sebuah kisah yang saya dapatkan dari seorang sahabat (hehe ngaku-ngaku), Ustadzah, sekaligus salah satu perempuan yang menginspirasi saya, di TL facebook. Bukan main. Jujur saja nih, pagi-pagi buka FB (ah ketahuan pagi-pagi sudah FB an) membaca tulisan itu rasanya semriwing hati saya. Betapa tiada berharganya segala apa yang kita dapatkan di dunia saat kita tiada. Bahkan barang yang tak bernilai (materi) tak bisa kita bawa serta.

Lalu... apakah dengan demikian, Allah SWT melarang kita untuk kaya?. Ternyata tidak!. Allah SWT tak pernah membatasi seberapa banyak harta yang bisa kita dapatkan saat di dunia. Tak ditemukan satu ayat pun dalam Al Quran atau bahkan dalam hadits yang menyatakan bahwa Allah SWT memberi batas kekayaan yang boleh dimiliki manusia. Secara jumlah Allah SWT tak melarangnya. Bahkan Dia telah nyatakan bahwa telah Dia ciptakan segala apa yang ada di bumi ini untuk manusia. Ini ada dalam firman-Nya di Surat Al Baqarah (2):29.

 هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (manusia), dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.  

Semua apa yang ada di dunia ini dalah milik Allah SWT karena memang Dialah yang menciptakan. Tapi, atas izin yang telah Dia berikan, manusia boleh untuk menikmati segala yang telah Allah SWT cipta. Tentu saja, itu berarti kesempatan bagi manusia untuk "memiliki" apa-apa yang telah Allah SWT izinkan untuk dinikmati. Tanpa batas. Allah SWT hanya memberikan larangan terhadap jenis dan cara memperolehnya. Bukan jumlah. 

"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya" (Terj. Q.S Al Maidah (5):88)

Jadi, demikianlah Allah SWT tak pernah melarang kita untuk itu. Bahkan Allah SWT perintahkan kita untuk tidak bermalas-malasan. Namun, ini semua tak lantas menjadi pembenar bagi manusia untuk berbuat semaunya atas harta yang telah ia dapatkan. Nah disinlah letak peringatannya. Allah SWT tidak membenarkan jika perolehan harta itu untuk menumpuk-numpuk harta atau bermegah-megahan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat Al An'am ayat 141 yang artinya:

"Janganlah kalian berbuat israf (menafkahkan harta di jalan kemaksiatan) karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf". (Terj Quran Surat Al An'am:141)

Dalam sebuah Hadits juga diriwayatkan:  

"Siapa saja yang mencari dunia demi mendapatkan yang halal, seraya menjaga dari kehinaan, untuk memenuhi nafkah keluarganya atau karena empati kepada tetangganya maka dia akan menemui Allah SWT, sementara wajahnya bagaikan sinar bulan purnama. Siapa saja yang mencari dunia untuk mendapatkan yang halal, namun demi suatu kebanggan, memperbanyak harta dan pamer kekayaan maka dia akan menemui Allah SWT, sementara Allah SWT murka kepadanya."
(hadis ini tercantum dalam Al-Mushannaf karya Ibn Abi Syaibah dari jalur Abu Hurairah).

Lalu, apa hubungannya dengan warisan kaos kaki tadi?

Yang pasti, walaupun Allah SWT tak melarang kita untuk menikmati apa yang ada di dunia -tentunya yang halal dan didapatkan dengan cara yang halal- tapi Allah SWT tak inginkan kita untuk mencintai dunia sebegitu rupa sampai kita tergila-gila. Karena, izin yang telah Allah SWT berikan itu hanya berlaku di dunia. Sesaat setelah kita tinggalkan dunia dan hingar bingar kehidupannya, semua yang ada di dunia otomatis habis masa berlakunya. Ekpired!.

Wallahu alam bisshowab

--Salam--
Diposting oleh cicikretnowati di 01.45
Label: Catatanku, MUHASABAH

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod