Apa yang harus dilakukan oleh manusia jika mendapati sebuah masalah?. Lari dari masalah itu, meratapi masalahnya?, atau megurai permaslahan dan menyelesaikannya?Bagi yang tak mau dianggap pecundang, pilihannya pastilah pada mengurai permasalahan dan menyelesaikannya. Iya kan?
Tapi berikutnya, dengan cara apa dan bagaimana seseorang tersebut menyelesaikan masalahnya? Ini dia yang masing-masing orang akan berbeda penyelesaiannya.
Sebagai contoh. Bagaimana seseorang memenuhi kebutuhannya untuk makan sedangkan pada saat itu dia tak punya apapun untuk dimakan, termasuk uang untuk membeli makanan?. Akan banyak ditemukan banyak cara untuk mengatasinya.
Bagi si A bisa saja dia datang ke tetangga kemudian minta makan.
Sedangkan B mungkin punya cara yang lain, datang ke tempat hajatan, masuk, salaman, makan deh sepuasnya, menunya bisa milih lagi.
Sementara si C lain lagi caranya. Ia cari baju-baju terbaiknya, dia jual ke siapa saja yang mau beli kemudian hasil penjualannya itu ia pakai untuk beli makanan.
Demikian juga si D. Ia tak punya baju bagus, tapi ia bisa bantu nyuci piring, gosok baju atau ngepel rumah. Lalu ia tawarkan diri ke tetangga yang kebetulan asistennya sedang berhalangan. ia dibayar dan dibelikannya upah yang ia dapatkan itu untuk membeli makanan
Lain pula cara yang ditempuh si E. Ia melihat dagangan tetangga sebelah yang beraneka ragam. Ada lontong, bakwan, donat, wuih macam-macam lah. Saat itu warung dalam keadan sepi tak ada yang jaga, tanpa ba bi bu secepat kilat 5 buah lontong dan 10 donat berhasil masuk ke kantong plastik. Segera ia pergi dari tempat itu dan makan hasil jarahannya itu hingga kenyang.
Beda lagi cara yang ditempuh si F. Ia datang ke tetangga, menceritakan permasalahan yang dihadapinya, kemudian ia sampaiakan maksud untuk pinjam uang. Uang yang didapatkan dari piutang tetangga itu, ia gunakan untuk membeli makanan.
Nah demikianah manusia menyelesaikan permasalahan hidupnya. Apapun langkah yang dijalankannya semua berdasarkan pada apa yang ada di pikirannya. Itulah yang dipahaminya. Selanjutnya, apakah semua yang dipahami masing-masing orang dalam contoh di atas bisa dikatakan benar?. Setiap orangpun akan mengukurnya berbeda-beda, tergantung pada sudut pandangnya masing-masing. Jika yang menjadi tolok ukur adalah efktifnya, cepat gak pake lama, ya cara si E lebih cepat bukan? (tapi jangan coba-coba...). Demikianlah manusia bisa berbeda-beda melihat sudut pandang penyelesaian masalahnya. Lalu bagaimana kalau semua mengklaim apa yang dilakukan benar. Saya jamin pasti semua akan kacau. Karena kalau semua menganggap benar, maka tidak akan ada yang salah. Iya kan?. Inilah titik lemah manusia.
Terus bagaiamana?. Maka kembalikanlah standard benar dan salah itu pada Dzat Yang Maha Benar.
Dialah Allah SWT. Jangan coba-coba manusia mengambil alih peran itu kalau ingin hidupnya aman, tentram, kerto raharjo...
-- Salam--
Jakarta, di pagi hari sambil nunggu nasi matang untuk sarapan ^_^

0 komentar:
Posting Komentar