skip to main | skip to sidebar

Tentang Saya

Foto Saya
cicikretnowati
Jakarta, Indonesia
Ibu rumah tangga biasa yang tak ingin hidupnya biasa-biasa saja :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Arsip

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Followers

Kategori

  • Catatanku (6)
  • EKONOMI ISLAM (1)
  • HOME SCHOOLING (4)
  • MENULIS ITU MUDAH LHO (3)
  • MUHASABAH (3)
  • PARENTING (3)
  • SAJAK DAN PUISI (2)
  • SAMARA (1)

Isi Blog

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (10)
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Assalamualaykum...

Tidak ada yang istimewa dari blog ini selain sebagai tempat buat saya untuk berbagi kebaikan. Berbagi apa yang saya rasakan (tentunya yang layak untuk dibagikan. Karena pastinya ada hal-hal yang tak layak untuk saya bagikan, tapi cukup saya simpan), ide, gagasan-gagasan positif -entah itu dari saya sendiri atau dari orang lain-, dan tentunya menyampaikan kebenaran. Semoga bisa menjadi seperti mata air, yang memancarkan sumber kehidupan. Seperti cahaya yang berpendar terang tapi tak menyilaukan.

--- salam ---

Diberdayakan oleh Blogger.

Cahaya

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain

Jumat, 22 Agustus 2014

BENERMU BENERE SOPO?

Apa yang harus dilakukan oleh manusia jika mendapati sebuah masalah?. Lari dari masalah itu, meratapi masalahnya?, atau megurai permaslahan dan menyelesaikannya?
Bagi yang tak mau dianggap pecundang, pilihannya pastilah pada mengurai permasalahan dan menyelesaikannya. Iya kan?
Tapi berikutnya, dengan cara apa dan bagaimana seseorang tersebut menyelesaikan masalahnya? Ini dia yang masing-masing orang akan berbeda penyelesaiannya.

Sebagai contoh. Bagaimana seseorang memenuhi kebutuhannya untuk makan sedangkan pada saat itu dia tak punya apapun untuk dimakan, termasuk uang untuk membeli makanan?.  Akan banyak ditemukan banyak cara untuk mengatasinya.

Bagi si A bisa saja dia datang ke tetangga kemudian minta makan.
Sedangkan B mungkin punya cara yang lain, datang ke tempat hajatan, masuk, salaman, makan deh sepuasnya, menunya bisa milih lagi.
Sementara si C lain lagi caranya. Ia cari baju-baju terbaiknya, dia jual ke siapa saja yang mau beli kemudian hasil penjualannya itu ia pakai untuk beli makanan.
Demikian juga si D. Ia tak punya baju bagus, tapi ia bisa bantu nyuci piring, gosok baju atau ngepel rumah. Lalu ia tawarkan diri ke tetangga yang kebetulan asistennya sedang berhalangan. ia dibayar dan dibelikannya upah yang ia dapatkan itu untuk membeli makanan
Lain pula cara yang ditempuh si E. Ia melihat dagangan tetangga sebelah yang beraneka ragam. Ada lontong, bakwan, donat, wuih macam-macam lah.  Saat itu warung dalam keadan sepi tak ada yang jaga, tanpa ba bi bu secepat kilat 5 buah lontong dan 10 donat berhasil masuk ke kantong plastik. Segera ia pergi dari tempat itu dan makan hasil jarahannya itu hingga kenyang.
Beda lagi cara yang ditempuh si F. Ia datang ke tetangga, menceritakan permasalahan yang dihadapinya, kemudian ia sampaiakan maksud untuk pinjam uang. Uang yang didapatkan dari piutang tetangga itu, ia gunakan untuk membeli makanan.

Nah demikianah manusia menyelesaikan permasalahan hidupnya. Apapun langkah yang dijalankannya semua berdasarkan pada apa yang ada di pikirannya. Itulah yang dipahaminya. Selanjutnya, apakah semua yang dipahami masing-masing orang dalam contoh di atas bisa dikatakan benar?. Setiap orangpun akan mengukurnya berbeda-beda, tergantung pada sudut pandangnya masing-masing. Jika yang menjadi tolok ukur adalah efktifnya, cepat gak pake lama, ya cara si E lebih cepat bukan? (tapi jangan coba-coba...). Demikianlah manusia bisa berbeda-beda melihat sudut pandang penyelesaian masalahnya. Lalu bagaimana kalau semua mengklaim apa yang dilakukan benar. Saya jamin pasti semua akan kacau. Karena kalau semua menganggap benar, maka tidak akan ada yang salah. Iya kan?. Inilah titik lemah manusia.

Terus bagaiamana?. Maka kembalikanlah standard benar dan salah itu pada Dzat Yang Maha Benar.
Dialah Allah SWT. Jangan coba-coba manusia mengambil alih peran itu kalau ingin hidupnya aman, tentram, kerto raharjo...

-- Salam--
Jakarta, di pagi hari sambil nunggu nasi matang untuk sarapan ^_^

Diposting oleh cicikretnowati di 17.31 0 komentar
Label: Catatanku, MUHASABAH

Selasa, 19 Agustus 2014

Belajar Dari Padi

Setiap saya melihat hamparan padi menguning di sawah, saya mencoba untuk mengingat sebuah perjalan kehidupan. Tanaman ini memang banyak dipakai untuk perlambang kemakmuran, atau untuk sebuah pengingat agar kita tak lupa diri. Semakin berisi semakin merunduk. Dalem banget memang ya rasanya. Tapi bagi saya tak cukup itu sih.

Perjalanan panjang yang harus dijalani padi itu yang membuat saya menaruh perhatian khusus padanya. Padi yang siap panen pastilah melewati sebuah proses bermula dari butiran benih pilihan yang ditaburkan di lahan subur, bersemi tumbuh menjadi tunas pohon baru, ketika sudah cukup kuat akar menopang dia dicabut untuk dipindahkan sementara waktu dan selanjutnya kembali ditanam dengan barisan yang teratur. Para petani di Jawa menyebutnya dengan istilah tandur. Membutuhkan banyak orang untuk mengerjakan tandur ini. Setelah beberapa bulan, dengan perawatan yang luar biasa, perlahan bunga bersemi, berisi, berisi, dan semakin padat isi, semakin berat, bulir-bulir itu semakin memberatkan batang-batang penyangganya. Mereka merunduk.

Nah apa coba pelajaran yang bisa kita petik dari situ.
Ya... untuk bisa "berisi" membutuhkan sebuah proses. Tidak ujug-ujug mak bedunduk. Tidak sim salabim aba kedabra. Proses itu kadang lama, kadang juga cepat. Butuh bersabar untuk melewatinya. Betul apa betul. Sabar!. Aargh... satu kata ini cuman lima huruf, mudah untuk diucapkan tapi melaksanakannya banyak godaan yang harus dihadapi. Iya kan?
Setelah bertempur untuk bisa bersabar, hingga waktunya tiba buah dari kesabaran bisa kita nikmati. Tapi semakin berat isi padi, dia semakin berat merunduk.

Ini sebuah filosofi kehidupan yang luar biasa bagi saya.
Subhanallah... Maha suci Allah SWT yang telah menciptakan padi tak hanya untuk bisa kita makan. Tapi, di dalamnya tersemat sebuah pelajaran hidup yang spektakuler.
Sebuah pelajaran yang akan bisa diambil hanya bagi mereka yang mau berfikir.

-- Salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 14.58 0 komentar
Label: Catatanku, HOME SCHOOLING, MUHASABAH

Senin, 18 Agustus 2014

Tak Ada Judul

Baiklah... harus ada upaya penyelamatan terhadap CAHAYA; MATA AIR BUNDA dari tidur panjangnya kalau tidak ingin disebut pingsan atau malah koma agar tak sampai mati suri. Ya curhat-curhat ringan sajalah. Tentang saya dan anak-anak. Kalau curhatan tentang suami jangan di sini. Tak patut... (kata Mail)

Waktu berlalu benar-benar tak terasa. Bener. Ini bukan sok puitis. Tahu-tahu Mas Akmal sudah 5 tahun 6 bulan. Dek Ali, bulan Agustus ini genap 3 tahun. Masa yang tak singkat dengan segala unik perniknya. Naik turunnya emosi jiwa, pasang surutnya gelombang samudra... semua dirasakan.

Dan dalam perjalanannya ini, baru kemaren saya ngeh betapa kanak-kanak itu melewati prosesnya dan menjadi bagian dari proses saya. Ada kejutan-kejutan di setiap masa yang mereka lewati. Termasuk apa yang terjadi kemaren sore membuat saya lagi-lagi jumpalitan saking kagetnya *lebay yang ini mah. Dalam rentang waktu 5 tahun ini, saya baru menyadari kalau Mas Akaml itu suka "lompat-lompat". Bisa diartikan dalam arti yang sebenarnya, juga bisa tidak.

Duh Gusti... kemana saja saya selama ini?... hehehe... Enggak lah ya... Saya ada bersama mereka. Ada bersama dalam prosesnya.

Tapi memang begitulah perjalanan hidup ini seharusnya. Tidak statis. Dan Mas Akmal berada dalam lintasan perjalanan hidupnya. Berada pada alur proses pembentukan karakternya. Pernah dia melewati menjadi "pengamat", "pengikut", "trend setter". Semakin ke sini semakin tampak karakter yang dia miliki. Meskipun yang jelas manusia memang tak ada yang sempurna. Demikian juga bocah kecil itu. Ada pada satu kondisi dia begitu tak bisa mengendalikan dirinya ketika emosinya memuncak naik. Berteriak tak peduli dia sedang ada di mana. Oooo... Burukkah yang demikian itu? Sedihkah aku sebagai ibunya karena ia tak bisa bersikap manis semanis ibunya ini?... hihihi

Awalnya tentu saya sedih lah. Ketika anak-anak orang lain bisa begitu nurutnya dengan apa yang dikatakan orang tuanya, ternyata saya dapati generasi yang lahir dari rahim saya ini... alotnya kalau sedang bernegosiasi. Alhamdulillah saya cepat bisa disadarkan bahwa mereka sedang berproses. Saya harus cepat mengkoreksi diri, segera identifikasi, dan eksekusi. Hya... apaan nih...


Mengenalinya sedalam-dalamnya, saat apa mereka meledak-ledak, saat apa mereka lucu dan manis, bagaimana mereka bisa luluh, dan bagaimana mengendalikan diri. Ya. Itu saja tugas saya. Dan diantara tugas itu justru yang paling sulit adalah mengendalikan diri saya sendiri. Betul itu. Karena suasana hati saya pasti akan berpengaruh pada mereka.

Terakhir tapi yang terpenting, yang menjadi tugas saya adalah mendoakan mereka agar dalam perjalanan proses kehidupan yang kami jalani, kami tetap ada pada jalan-Nya.

-- Salam --



Diposting oleh cicikretnowati di 03.12 0 komentar
Label: Catatanku

Warisan KAOS KAKI SOBEK

*** 

Al-Kisah seorang kaya raya (Milyader), sedang sakit parah. Menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya... Beliau berwasiat: "Anak-anaku... jika ayah sudah dipanggil yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian. Tolong di pakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek, ayah ingin pake barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipake bila ayah dikubur nanti". Singkat cerita Akhirnya sang Ayah meninggal dunia. Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak2nya minta ke pak modin untuk memakaikan kaus kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya. Akan tetapi pak modin menolaknya: "maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dipakaikan kepada mayat..". Terjadi diskusi panas antara anak2 yg ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin yg juga ustad yg melarangnya. Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris. Beliau menyampaikan: "sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka ber-sama2 siapa tahu ada petunjuk.." Maka dibukalah surat wasiat alm milyader buat anak2nya yg di titipkan kepada Notaris tersebut. Ini bunyinya: Anak-anaku pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah... lihatlah anak2ku padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah dan sawah di-mana2, rumah mewah banyak... tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati. Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yg ikhlas. Anak2ku inilah yg ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dg dunia yg sementara. Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah... Semoga mengingatkan kita... 

*** 

Kisah di atas adalah sebuah kisah yang saya dapatkan dari seorang sahabat (hehe ngaku-ngaku), Ustadzah, sekaligus salah satu perempuan yang menginspirasi saya, di TL facebook. Bukan main. Jujur saja nih, pagi-pagi buka FB (ah ketahuan pagi-pagi sudah FB an) membaca tulisan itu rasanya semriwing hati saya. Betapa tiada berharganya segala apa yang kita dapatkan di dunia saat kita tiada. Bahkan barang yang tak bernilai (materi) tak bisa kita bawa serta.

Lalu... apakah dengan demikian, Allah SWT melarang kita untuk kaya?. Ternyata tidak!. Allah SWT tak pernah membatasi seberapa banyak harta yang bisa kita dapatkan saat di dunia. Tak ditemukan satu ayat pun dalam Al Quran atau bahkan dalam hadits yang menyatakan bahwa Allah SWT memberi batas kekayaan yang boleh dimiliki manusia. Secara jumlah Allah SWT tak melarangnya. Bahkan Dia telah nyatakan bahwa telah Dia ciptakan segala apa yang ada di bumi ini untuk manusia. Ini ada dalam firman-Nya di Surat Al Baqarah (2):29.

 هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (manusia), dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.  

Semua apa yang ada di dunia ini dalah milik Allah SWT karena memang Dialah yang menciptakan. Tapi, atas izin yang telah Dia berikan, manusia boleh untuk menikmati segala yang telah Allah SWT cipta. Tentu saja, itu berarti kesempatan bagi manusia untuk "memiliki" apa-apa yang telah Allah SWT izinkan untuk dinikmati. Tanpa batas. Allah SWT hanya memberikan larangan terhadap jenis dan cara memperolehnya. Bukan jumlah. 

"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya" (Terj. Q.S Al Maidah (5):88)

Jadi, demikianlah Allah SWT tak pernah melarang kita untuk itu. Bahkan Allah SWT perintahkan kita untuk tidak bermalas-malasan. Namun, ini semua tak lantas menjadi pembenar bagi manusia untuk berbuat semaunya atas harta yang telah ia dapatkan. Nah disinlah letak peringatannya. Allah SWT tidak membenarkan jika perolehan harta itu untuk menumpuk-numpuk harta atau bermegah-megahan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat Al An'am ayat 141 yang artinya:

"Janganlah kalian berbuat israf (menafkahkan harta di jalan kemaksiatan) karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf". (Terj Quran Surat Al An'am:141)

Dalam sebuah Hadits juga diriwayatkan:  

"Siapa saja yang mencari dunia demi mendapatkan yang halal, seraya menjaga dari kehinaan, untuk memenuhi nafkah keluarganya atau karena empati kepada tetangganya maka dia akan menemui Allah SWT, sementara wajahnya bagaikan sinar bulan purnama. Siapa saja yang mencari dunia untuk mendapatkan yang halal, namun demi suatu kebanggan, memperbanyak harta dan pamer kekayaan maka dia akan menemui Allah SWT, sementara Allah SWT murka kepadanya."
(hadis ini tercantum dalam Al-Mushannaf karya Ibn Abi Syaibah dari jalur Abu Hurairah).

Lalu, apa hubungannya dengan warisan kaos kaki tadi?

Yang pasti, walaupun Allah SWT tak melarang kita untuk menikmati apa yang ada di dunia -tentunya yang halal dan didapatkan dengan cara yang halal- tapi Allah SWT tak inginkan kita untuk mencintai dunia sebegitu rupa sampai kita tergila-gila. Karena, izin yang telah Allah SWT berikan itu hanya berlaku di dunia. Sesaat setelah kita tinggalkan dunia dan hingar bingar kehidupannya, semua yang ada di dunia otomatis habis masa berlakunya. Ekpired!.

Wallahu alam bisshowab

--Salam--
Diposting oleh cicikretnowati di 01.45 0 komentar
Label: Catatanku, MUHASABAH
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod