skip to main | skip to sidebar

Tentang Saya

Foto Saya
cicikretnowati
Jakarta, Indonesia
Ibu rumah tangga biasa yang tak ingin hidupnya biasa-biasa saja :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Arsip

  • ▼ 2014 (20)
    • ► Agustus (4)
    • ► Juni (1)
    • ▼ Mei (10)
      • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurn...
      • Suamiku Bukan Suamiku
      • Eyang BJ Habibie: Sebuah Catatan di Hari Kebangkit...
      • Catatan di Hari Kebangkitan Nasional
      • IDE OH IDE (2)
      • INDAHNYA EKONOMI ISLAM
      • BALITA SUKA MENENDANG
      • KETIKA AKMAL BELANJA BUKU
      • IDE OH IDE
      • Pendidikan Anak Sejak Usia Tamyiz (7 tahun) Hingga...
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Followers

Kategori

  • Catatanku (6)
  • EKONOMI ISLAM (1)
  • HOME SCHOOLING (4)
  • MENULIS ITU MUDAH LHO (3)
  • MUHASABAH (3)
  • PARENTING (3)
  • SAJAK DAN PUISI (2)
  • SAMARA (1)

Isi Blog

  • ▼ 2014 (20)
    • ► Agustus (4)
    • ► Juni (1)
    • ▼ Mei (10)
      • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurn...
      • Suamiku Bukan Suamiku
      • Eyang BJ Habibie: Sebuah Catatan di Hari Kebangkit...
      • Catatan di Hari Kebangkitan Nasional
      • IDE OH IDE (2)
      • INDAHNYA EKONOMI ISLAM
      • BALITA SUKA MENENDANG
      • KETIKA AKMAL BELANJA BUKU
      • IDE OH IDE
      • Pendidikan Anak Sejak Usia Tamyiz (7 tahun) Hingga...
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Assalamualaykum...

Tidak ada yang istimewa dari blog ini selain sebagai tempat buat saya untuk berbagi kebaikan. Berbagi apa yang saya rasakan (tentunya yang layak untuk dibagikan. Karena pastinya ada hal-hal yang tak layak untuk saya bagikan, tapi cukup saya simpan), ide, gagasan-gagasan positif -entah itu dari saya sendiri atau dari orang lain-, dan tentunya menyampaikan kebenaran. Semoga bisa menjadi seperti mata air, yang memancarkan sumber kehidupan. Seperti cahaya yang berpendar terang tapi tak menyilaukan.

--- salam ---

Diberdayakan oleh Blogger.

Cahaya

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain

Selasa, 20 Mei 2014

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan

Tempel ini di sini karena EYD saya masih acak adul. Bahan untuk belajar lebih dalem lagi. EYD... EYD...

Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang relevan untuk Wikipedia.(diambil dari WIKIPEDIA)
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:
Islam Quran
Kristen Alkitab
Hindu Weda
Allah
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.


Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.


Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.


Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Jawa Tengah

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.


Misalnya:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.


Misalnya:
Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
6. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.


Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere


Catatan:

(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).


Misalnya:
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama

(2) Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.


Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adham
Siti Fatimah binti Salim
Zaitun binti Zainal

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
pascal second Pas
J/K atau JK-1 joule per Kelvin
N Newton

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.


Misalnya:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa Indonesia

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.


Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.


Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Lebaran hari Natal

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.


Misalnya:
Perang Candu
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.


Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi.


Misalnya:
Banyuwangi Asia Tenggara
Cirebon Amerika Serikat
Eropa Jawa Barat

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.


Misalnya:
Bukit Barisan Danau Toba
Dataran Tinggi Dieng Gunung Semeru
Jalan Diponegoro Jazirah Arab
Ngarai Sianok Lembah Baliem
Selat Lombok Pegunungan Jayawijaya
Sungai Musi Tanjung Harapan
Teluk Benggala Terusan Suez

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.


Misalnya:
ukiran Jepara pempek Palembang
tari Melayu sarung Mandar
asinan Bogor sate Mak Ajad

d. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.


Misalnya:
berlayar ke teluk mandi di sungai
menyeberangi selat berenang di danau

e. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.


Misalnya:
nangka belanda
kunci inggris
harimau sumatera
petai cina
pisang ambon
10. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.


Misalnya:


Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.


Misalnya:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang yang berlaku


Catatan:
Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.


Misalnya:
Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.
Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.

Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:
Dr. doktor
S.E. sarjana ekonomi
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
S.Kp. sarjana keperawatan
M.A. master of arts
M.Hum. magister humaniora
Prof. profesor
K.H. kiai haji
Tn. tuan

Ny. nyonya
Sdr. saudara

Catatan:
Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.
14. b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.


Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.
16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada EYD pasal I B, I C, I E, dan II F15).
Diposting oleh cicikretnowati di 18.35 0 komentar
Label: MENULIS ITU MUDAH LHO

Suamiku Bukan Suamiku

Ilustrasi hasil dari googling. Asli BUKAN foto saya dengan suami :)



"Aku jenuh Yan..."
Sesaat kamu terdiam dan menarik nafas panjang.
"Aku masih belum bisa menerima Mas Radit sepenuhnya. Banyak hal yang kuinginkan dari seorang suami tapi tak kutemukan pada dirinya. Kami sering berseberangan pendapat. Apa yang kuanggap penting, dia tak menganggapnya. Bagiku, dia terlalu lemah sebagai seorang laki-laki apalagi kepala keluarga. Passif" Kamu mulai ungkapkan gundah... Matamu mulai berair, meleleh pelan dan akhirnya terisak.
"Aku iri sama kamu Yana... Kamu mendapatkan orang yang tepat sebagai pendamping hidup. Kamu bisa mendapatkan banyak nasehat dari dia, semangat, arahan. Bang Eri bisa diandalkan menjadi teladan bagi anak-anak."

***
Wey... serius banget bacanya... penggalan dialog tadi itu bukan calon cerpen ya... Tadi itu secuplik kisah saja. Fiktif... Tapi ternyata ini nyata lho. Ada di sekitar kita. Pasangan suami istri yang mememui titik jenuh dalam kehidupan berumah tangga (Jenuh?... hah kok bisa?). Atau... jangan-jangan Anda juga mengalaminya? Yang pasti tokoh "Kamu" di atas bukan Anda lho ya... Sekali lagi itu tadi kisah fiktif, jika ada kesamaan peristiwa dan nama itu adalah kebetulan semata (hey serasa nulis skenario sinetron saja...)

Yup... Kejenuhan dalam berumah tangga, tidak bisa menerima kekurangan pasangan, sering menjadi pemicu retaknya jalinan kasih dalam satu ikatan pernikahan... Lalu... ketika hal itu terjadi apa sih yang harus kita perbuat? Bagaimana sebenarnya agama (Islam) mengatur dan menuntun kita mencapai SAMARA? Sakinah Mawaddah wa Rahmah.

Tetep pantengin frekuensi ini ya (ahay...) Tulisan ini bersambung... (ih kebiasaan deh...) Ya maaf... saya baru bisa menuangkan apa yang ada di kepala saya ke depan lepy tua kesayangan nan berjasa ini di waktu-waktu me time, bukan prime time hehehe... dan me time nya saya itu tengah malam. Sumpah kayak Kalong saya... hehehe...
oke Lanjut nanti...

-- Salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 15.03 1 komentar
Label: SAMARA

Eyang BJ Habibie: Sebuah Catatan di Hari Kebangkitan Nasional

Eyang BJ Habibie... Rasa-rasanya dia satu-satunya tokoh nasional -birokrat- idola saya. Entahlah... diantara sejumlah tokoh nasional negri ini -yang pejabat- tak ada yang melebihi beliau, entah karismatiknya, geniusnya, keuletannya, perjuangannya. Sejak dari kecil saya benar-benar terpukau bahkan hingga saat ini saya sudah punya dua orang putra, beliau masih tetap menjadi idola.

Setiap manusia memang punya salah, termasuk beliau. Tapi, diluar aspek itu, banyak hal positif terus terang yang luar biasa membius saya. Dan, barusan, ketika saya menamatkan membaca buku biografi beliau "Habibie, Tak Boleh Lelah dan Kalah", obsesi untuk bertemu dengan beliau begitu membuncah. Untuk apa? Saya ingin mengenalkannya kepada anak-anak saya. Saya ingin katakan kepada anak-anak saya itu "Nak, inilah kebanggan negeri ini. Tapi sayang, di negeri ini, saat ini, orang-orang seperti beliau ini tersingkir. Tak terpakai. Kelak, saat masamu tiba, Ummi berharap perubahan telah terjadi. Negri ini telah bangkit dengan kebangkitan yang hakiki, hingga orang-orang hebat dan cerdas seperti beliau bisa berada pada tempat yang semestinya. Untuk membangun sebuah bangsa yang beradab, berbudaya tinggi. Menjadi apapun kamu, kawal negri ini sebaik-baiknya. Ummi bisikkan sesuatu. Kebangkitan negri ini hanya bisa dan akan bisa dengan Maba' Islam. Saat ini, Ummi dan teman-teman seperjuangan ummi perjuangkan. dan kelak kaulah yang menjaganya, mengisinya, dan mengawalnya. Kamu bisa lebih hebat dari dia sayang... "

Taqdir membawa saya tinggal menetap di Jakarta, hmmm semakin dekat sebenarnya jarak antara saya dengan beliau (eya memangnya tahu rumahnya di mana? ). Akankah apa yang saya impikan bisa terwujud? Pengidolaan saya ini tak lebih dari seorang anak pada ayahnya, cucu pada eyangnya, generasi muda bangsa pada pemimpinnya.






-- salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 14.03 0 komentar
Label: Catatanku

Catatan di Hari Kebangkitan Nasional

Apa yang seharusnya dilakukan anak muda Indonesia untuk membuat negri ini lebih baik?

Jawaban Eyang Habibie: "Meningkatkan disiplin, produktivitas dan kualitas berpikir, bekerja, serta berkarya sesuai kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Untuk mencapai ini, anak muda Indonesia harus cinta pada karya sesama manusianya, cinta pada lingkungan hidupnya, cinta pada pekerjaannya, dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT." (dari buku Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah)

===== >> YES! sepakat bingit... dan... kalimat yang paling akhir itu lho Eyang... cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT! harus bin kudu memang Yang... (Eyang maksudnya lho ya... bukan SaYang! ) dan kecintaan pada Allah SWT yang Esa inilah yang melahirkan konsekwensi kita untuk tunduk dan patuh hanya pada titahNya saja. dalam segala urusan kehidupan kita. Karena, Dia telah rancang segala titahNya itu untuk mengatur segala urusan kehidupan manusia... Ya... kita... Kita MANUSIA. Dia telah atur semua. Untuk yang mengimaniNya maupun yang tidak mengimaniNya.

Untuk yang tidak mengimani-Nya... Dia biarkan dan tak putuskan Rahman-Nya. Ya sudahlah gak pa pa kalau gak mau mengimani-Nya karena itu adalah pilihan hidup mereka. Masalah Aqidah memang tak bisa dipaksakan. Karena itu lahir dari pembenarannya yang pasti sebagai manusia terhadap fakta kehidupan, manusia dan alam semesta serta hubungan ketiganya dengan sebelum kehidupan, kehidupan, dan sesudah kehidupan, Dia tak pernah paksa manusia untuk mengimani-Nya (di Dunia) cukuplah nanti pertanggungjawaban di akhirat yang akan berbicara, karena pertanggungjawaban makhluk-Nya yang bernama manusia memang bukan di dunia, melainkan di akhirat.

So... kepada yang tak mengimani-Nya, cukuplah ketundukan mereka hidup di dunia ini untuk diatur urusan hidup bermasyarakatnya dengan aturan yang sudah Dia buat. Seorang khalifah yang amanahlah yang akan mengatur bagaimana nanti pelaksanaannya. Tentu juga dengan standart operasional yang juga sudah Allah buatkan dan Rasulullah Muhammad telah contohkan bagimana modelnya.

Dan... kepada yang telah mengimani-Nya Allah khususkan kepada-Nya sebuah konsekwensi atas pilahan hidup-Nya. Perjanjian berat telah mengikat mereka. Kesaksian bahwa hanya Allah SWT Yang Maha Mencipta. Tiada duanya, Dan Muhammad adalah utusan-Nya untuk menyampaikan risalah-risalah-Nya. Untuk apa risalah itu? Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengatur kehidupan manusia. Dalam segala urusan kehidupan. Oh... seketat itukah? Tak adakah ruang gerak bagi manusia?.. Hmm tidak begitu maksudnya. Karena ternyata dalam urusan tertentu Allah berikan ruang bagi manusia untuk berkreasi memenuhi hajatnya. Dan... ruang itu ada pada wilayah cara dan sarana. Dengan inilah Allah SWT pelihara fitrah kita sebagai manusia sebagai makhluk yang berakal.
Eyang Habibie adalah contoh manusia yang telah memanfaatkan akal yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita manusia.

Demikian kira-kira Eyang... Ah... seandainya generasi bangsa ini juga mau memanfaatkan dengan baik akal yang sudah Allah SWT karuniakan kepada mereka dengan berfikir jernih, mendalam dan menyeluruh tapi tentu saja dikawal ayat-ayat Nya... Saya yakin dengan seyakin-yakinnya mereka akan menemukan metode untuk bangkit. Bangkit menjadi bangsa yang mulia dan beradab.

Secercah harap bahwa bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan. Dan benarlah harapan itu ada di tangan kami para generasi muda bangsa ini.

Dan... Hari ini tanggal 20 Mei. Kita bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari kebangkitan nasional.

Semoga Allah SWT kabulkan doa kita.




Diposting oleh cicikretnowati di 13.40 0 komentar
Label: Catatanku

Minggu, 18 Mei 2014

IDE OH IDE (2)

Mau menuntaskan tanggungan yang belum tuntas. Okey kita lanjutkan bahas tentang IDE (ehm gayanya sudah kayak mentor saja :) )

Terakhir... waktu itu sudah bahas ya bahwa ide adalah sesuatu yang berharga. Sebenarnya ini bukan mutlak milik penulis saja sih. Hampir di semua aspek kehidupan, ide adalah hal penting. Sepakat dong. Saking penting dan berharganya, kita gak mau kan ide kita dicuri orang. Sampai-sampai manusia kepikir tuh membuat perlindungan hukumnya dengan undang-undang perlindungan kekayaan intelektual dan hak paten.

Yup... lanjut... Nah kalau sudah dapat ide, simpan baik-baik, catat atau rekam. Biasanya kalau pas lagi super duper, ide nih bisa datang beruntun. Wui... seneng dong. Pastinya... Tapi, karena saking banyaknya, justru ini bisa jadi masalah. Lho kok? Iya, begitulah kira-kira yang sering saya alami. Begitu banyak ide, pikiran ini lalu menjelajah ke mana-mana. Gak fokus. Belum selesai nulis yang ini, tiba-tiba mandeg karena keingat yang itu. Ini masalah saya (jadi berasa belum pantas jadi penulis. Ya emang... lha wong nulis saja nunggu mood, dan itu si mood luama banget nongolnya. Hiks). Kalau Anda?

So... apa yang harus dilakukan jika si ide datang beruntun?. Ini dia tips yang sering saya dapatkan di berbagai training penulisan. Buat list, kemudian pilah-pilah dan eksekusi. bagaimana caranya memilah, lha wong semua bagus je?. Oke sepakat. semua ide itu bagus. Gak ada ide yang jelek, kecuali kemaksiyatan :), tapi coba deh dipertimbangkan apakah semua ide itu akan kita tulis saat ini juga? Tidak kan?. Maka buatlah prioritas. Demikian pesan mentor saya. :)

Memilih dan memilah ide bisa berdasar pada beberapa hal. Apa saja?. Ini nih ilmu yang saya peroleh di kelas penulisan Sekolah Perempuan di IIDN.
1. Mana yang lebih realistis
2. Mana yang sumbernya tersedia (literatur maksudnya)
3. Mana yang paling mungkin bisa kita kerjakan
4. Mana yang paling sesuai dengan latar kita
5. Mana yang paling kita minati
6. Mana yang sesuai dengan kondisi saat ini (up to date).
Nah itu kira-kira yang mungkin bisa jadi solusi saat kita bingung dengan membanjirnya ide yang masuk ke kepala kita :)

Selanjutnya... Tentukan satu pilihan. Eksekusi. Dan... menulislah... jangan ditunda... keburu ngilang lagi lho si idenya. Silahkan dituangkan ke dalam bentuk tulisan (genre) yang diminati. Fiksi atau non fiksi. Untuk segmen anak-anak, remaja, atau dewasa. Silahkan dipilih. Cuman... harus diingat...
  • Kalau pilihannya jatuh pada non fiksi, kita harus mengembangkan fakta dan data yang otentik, bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan personal. Kita tidak boleh berimajinasi sesuka hati kita. Apalagi kalau nulis soal agama misal, cuplikan-cuplikan dalil gak boleh main-main. Copas dari literatur? Sah-sah saja, asal... jangan lupa cantumkan dari mana sumbernya. 
  • Nah... kalau  pilihannya pada fiksi -entah itu cerpen, cerbung, ataukah novel-, silahkan saja mau berandai-andai tanpa perlu mengecek kebenaran kisah itu.
Satu hal lagi yang juga gak boleh dilanggar, jangan sekali-kali menuliskan sesuatu yang bisa mengantarkan pada kesesatan atau bertentangan dengan aturan agama ya... misal tulisan-tulisan cabul alias porno. Naudzubillah...
Syukur-syukur kalau tulisan kita bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Wah te o pe be ge te tuh. Bisa jadi lahan ibadah dakwah deh...
Sip... Tuntas sudah tanggungan melanjutkan catatan tentang ide ini. Semoga bermanfaat...

Selamat menulis...
Semangat... Semoga diterima di media, dan semoga bisa jadi satu buku ya... (yang ini menyemangati diri sendiri :) )

--- SELESAI ---
^_^

# senangnya sekolah di Sekolah Perempuan IIDN.
# dapat ilmu, dapat teman. Nambah ilmu, nambah saudara.
Diposting oleh cicikretnowati di 10.47 0 komentar
Label: MENULIS ITU MUDAH LHO

INDAHNYA EKONOMI ISLAM



Ekonomi Islam itu
Tak cuma melarang dan mengatakan haram atas riba dan bunga perbankan
Tapi Islam memberikan jalan keluar, jual beli (berdagang) diperbolehkan
Islam juga jelaskan bagaimana ketika modal tak ada di tangan
Apa yang bisa pedagang akan lakukan

Ekonomi Islam itu
Tak cuma melarang kau berpangku tangan
Tapi Islam juga jelasakan bagaimana mendapatkan kepemilikan
Berbagi keuntungan, bahkan bagaimana menjadi majikan
Dan juga ketika harus jadi karyawan

Ekonomi Islam itu
Tak cuma bicara etika ketika bekerja
Tapi juga jelaskan bagaimana mengelola harta
Mana yang boleh kau punya,
Dan mana yang harus dipunya oleh semua
Bahkan mana harta yang jadi milik negara

Ekonomi Islam itu
Juga bicara soal tanah
mana yang boleh kau kelola,
dan mana yang tak boleh kau jamah.

Ekonomi Islam itu
Tak sekedar haruskan zakat terbayarkan
Tapi juga jelaskan untuk siapa disalurkan
Siapa yang harusnya kelola dan jadi "loket" pembayaran

Ekonomi Islam itu
Tak cuman bicarakan kantong pribadi
Tapi juga tetapkan bagaimana mengatur kantong sebuah negri

Ekonomi Islam itu
Tak cuman bahas agar perhatikan ekonomi dalam negri
Tapi juga bagaiman berkiprah dalam percaturan ekonomi luar negri

Jika demikian, bisakah pribadi muslim yang ingin taat menjalankan agamanya bisa jalankan ini dengan kemampuan individualnya
Jika sekompleks ini peraturannya, pastilah memang butuh negara yang mengelola dan menerapkannya
Dengan kebijakan politik yang bersandar pada Islam juga tentunya
Karena Islam juga mengatur politik, mengatur bagaimana berkuasa.

Sekian
terima kasih
mohon maklum adanya
pembelajar yang sedang terbata membaca firmanNya
Diposting oleh cicikretnowati di 01.58 0 komentar
Label: EKONOMI ISLAM, SAJAK DAN PUISI

Senin, 05 Mei 2014

BALITA SUKA MENENDANG

Yang ini copas dari Ayahbunda.co.id
(Simpan di sini. Sedang menghadapi masalah yang kurang lebih sama. :) )

Secepat kilat kakinya menyasar apa saja setiap kali keinginannya tidak terpenuhi. Balita sedang belajar tentang dalil sebab akibat. Ia melihat dampak dari perbuatannya, termasuk juga menendang.
Anak mengamati efek tendangannya bisa memicu reaksi. Sekalipun tendangannya tidak keras, tetapi bisa menyebabkan orang di dekatnya terkejut dan benda-benda kecil berantakan. Hasil pengamatan ini yang kemudian membuat anak menggunakan tendangan sebagai salah satu cara menyatakan ketidaknyamanan, kekesalan atau putus asa.

Nah, di sini sebaiknya Anda peka dan tepat menangani balita sebelum ia terbiasa menggunakan tendangan untuk mencapai maksud tertentu. Apa yang bisa Anda lakukan? Jangan cuma memastikan tidak ada benda yang bisa ditendangnya. Bantu dia memahami yang Anda harapkan darinya.
Segera bertindak sejak pertama kali melihat balita menendang sesuatu. Jangan biarkan ia mengulangi kelakuannya. “Stop Nak, jangan ulangi lagi!” Peringatan ini bisa membuat balita berhenti menendang.
Kendalikan reaksi seperti mengomel, mencubit, atau mencapnya sebagai anak nakal. Kalau Anda bereaksi seperti itu berarti Anda justru memberikan contoh padanya bahwa ada cara lain untuk mengungkapkan kekesalan. Sebaliknya ketika ia melihat Anda tetap tenang, ia akan mencontoh cara Anda bereaksi.

Tetapkan konsekuensi ketika balita menendang teman atau kakaknya saat bermain. Ajak ia segera menjauh, dan jelaskan konsekuensi dari perbuatannya. “Kamu boleh main lagi, jika tidak menendang. Sekarang, duduk dulu bersama ibu sampai kamu tenang.” Hindari penjelasan yang mengajaknya berempati, misalnya, “Kalau kamu yang ditendang gimana?” Pada usia ini, anak belum memiliki kematangan kognitif untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Tetapi dia secara mudah bisa memahami konsekuensi yang harus dialaminya.

Konsisten dan pastikan Anda selalu melakukan hal yang sama setiap kali balita melancarkan jurus tendangan kungfunya. Hanya dengan proses yang selalu sama polanya, anak usia ini bisa memahami konsekuensi yang diterima akibat perbuatannya.

Asah Benar. Menendang adalah bagian dari perkembangan psikomotor anak sehingga gerakan ini harus diasah. Terlebih jika pendekar cilik Anda termasuk aktif bergerak. Cara yang tepat untuknya antara lain
Aktivitas luar ruang agar anak leluasa melatih semua gerakan motorik kasar, termasuk menendang bola.
Pastikan faktor keamanan supaya ketika ia berlatih menendang tidak menghadapi risikonya terluka.
Ciptakan kesempatan menendang-nendang benda yang memang khusus disediakan. Seperti tumpukan kardus, botol-botol plastik. Pastikan anak mengenakan alas kaki untuk mencegah cedera.
Tendang angin adalah cara paling sederhana melatih anak. Tetapi aktivitas ini justru membutuhkan kemampuan mengatur keseimbangan tubuh yang baik.

Belajar Ungkap Keinginan. Setelah emosinya mereda, beritahu dia untuk meminta maaf atas perbuatannya. Sadarkan dirinya bahwa sekalipun marah, ia tidak boleh main tendang sesukanya. Lebih baik ia melakukan hal lain ketika kesal, sedih atau putus asa. Ajarkan anak mengungkapkan keinginannya secara langsung. Di usia 1 – 2 tahun, anak belum bisa membuat kalimat lengkap. Tetapi, paling tidak, dia bisa mengatakan “Jangan” atau “Pinjam” untuk membuat kakak atau temannya mengerti keinginannya. Mengalihkan perhatian anak pada mainan atau hal lain, berisiko membuatnya keliru memahami situasi. Atau justru merasa tidak perlu menyatakan perasaan tidak nyamannya, yang justru dapat memicu masalah lain dalam perkembangannya kelak.
Diposting oleh cicikretnowati di 23.54 0 komentar
Label: PARENTING

Sabtu, 03 Mei 2014

KETIKA AKMAL BELANJA BUKU

Masih punya hutang melanjutkan sambungan si "IDE". Tapi bentar ah... tunda dulu yang itu ya. Mau menumpahkan kegembiraan dan "hasil belajar" hari ini tadi. Ini ide nih, kalau dilewatkan, bubar deh... (aplikasi ilmu).

Jadi, ceritanya begini (perasaan... dari kemaren ada kalimat ini juga ya?. Apakah kalimat seperti ini memang tidak bisa dihilangkan, selalu ada gitu. Entah di tulisan, waktu ngobrol. Hmmm ini "IDE" juga kan?... Ah sudah. Balik ke topik)

Sudah ada hitungan 6 bulan lebih kami sekeluarga gak cuci mata di toko buku. Terus terang ini mengganggu. Mengganggu kestabilan ketenangan hati dan kesehatan mata. Walau sebenarnya ada "dampak" yang berbahaya juga kalau ke sana. Efek samping terhadap kesehatan kantong Saudara-saudara... Karena lapar mata. Duh...lapar yang satu ini, kalau dituruti ternyata berbahaya. Bukan malah tambah gemuk. Tapi, malah tambah kurus. Isi kantongnya :)

Mengagendakan mengunjungi toko buku bagi saya itu perlu. Yang pertama, karena memang saya suka baca. Dan, ke toko buku adalah cara jitu mendapat bacaan gratisan. Hehehe... penyakit bawaan jaman kuliah ini gak bisa ilang ternyata. Jadi inget, dulu bisa berjam-jam di Gramedia. Apalagi kalau yang diputer sama Mbak-mbak dan Mas-mas operator adalah instrumennya Kenny G... Wuah... makin betah saja tuh... Baca sampai habis... kalau gak malu!!!. Jadi, ke toko buku bukan buat beli buku, tapi buat baca. Padahal... Gramedia bukan perpustakaan!. hehehe... Ah tapi ini sih banyak juga pelakunya. Saya gak sendirian. Betul kan?. he...

Nah yang kedua, sebagai orang tua yang baik, maka kami ingin anak-anak kami juga menjadi anak yang baik, sholih, cerdas, pintar, terampil, suka menolong, rajin menabung... (memenuhi standart dasa darma pramuka)

Membaca buku adalah hal yang baik. Dan... kebiasaan ini harus ditumbuhkan sedari mereka kecil. Mencintai buku, karena buku adalah jendela ilmu. Betul kan. Nah... budaya literasi yang saat ini sudah mulai tergerus arus jaman ini yang harus ada di mereka. Gak boleh hilang. Aku gak mau anak-anak lebih suka main game daripada baca buku. Jadi, mendekatkan mereka ke buku, itu harus!. Ke toko buku dan membiarkan mereka memilih mana buku yang akan dibeli dan akan menjadi miliknya yang harus dirawat juga bagian dari belajar mereka lho. Dan juga jadi ajang belajar kita (ini nanti yang jadi topik cerita saya). Pasti banyak yang setuju dengan pendapat saya. Yang setuju angkat tangannya...

Setengah tahun gak menginjakkan kaki ke toko buku. Ini adalah "prestasi" :) . Bahkan kemaren melewatkan momen IBF (Islamic Book Fair), sebuah ajang pameran buku terbesar, itu adalah ironi... (tapi ya sudahlah, kemaren karena memang sedang ada halangan. Pada hari yang direncanakan, Adek Ali sedang sakit T_T).

Yup enam bulan... Hmmm lama juga ya. Selama jelang waktu itu kami seringnya belanja buku secara online. Dan itu sudah cukup untuk memenuhi nutrisi otak kami. Tapi, tetep saja ada yang terasa hilang. Meskipun belanja online ini memudahkan kami dari sisi kepraktisannya. Praktis waktu, dan praktis tenaga dan perasaan :). Secara... ke toko buku dengan membawa pasukan kecil -walau cuman dua- itu rempong. Karena seringnya Mas Akmal, kalau sudah dapat yang dimau, menganggap sudah selesai, pulang. Padahal, saya belum menjamah yang tadi sudah saya lirik-lirik sambil jalan... Pengorbanan seorang Ibu... T_T . Kalau saya bilang "Sebentar ya sayang, Ummi dan Abi juga mau lihat-lihat dulu". Dijawabnya "Ummi lihat-lihat mulu, ceklis dong... biar cepet... Ummi maunya beli buku apa? Sudah. Ambil. Selesai. Pulang". Aih-aih... sok bijak banget ya ni bocah... Gak inget tuh berjam-jam tadi, waktu habis buat siapa ya? Buat dia... Belanja buku gak sama dengan belanja kebutuhan bulanan Say... kalau belanja bulanan ambil, masuk ranjang. Bayar, sudah selesai, pulang. Nah kalau belanja buku, gak harus ambil masuk ranjang. Tapi... ambil samplenya, buka, baca, masuk ke otak, simpan. Jika diperlukan untuk di beli, masukkan buku ke dalam kantong belanjaan. Tapi kalau harus ditunda, bukunya gak harus dibeli, tapi isi bukunya sudah masuk dan bisa kita bawa pulang. Betul tidak?... Nah... si bocah 5 tahun ini belum mengerti tentang hal itu... Ya... gak pa pa... suatu saat nanti, jika kamu dewasa kau akan mengerti ini semuan Boy... :)

Akhirnya... kegelisahan ini saya sampaikan ke suami. Dan deal... ya bulan ini kita ke toko buku.  Kami memang tidak mengagendakan ke toko buku setiap bulan. Minimal 3 bulan sekali. Ini karena alasan ekonomis saja :) . Tapi, gak gitu-gitu juga sih. Kami merasa, buku yang kami beli ini cukup untuk persediaan selama 3 bulan itu. Buku kan gak sama dengan makanan, yang sekali lahap, lep, habis, sudah. kalau buku, sudah habis dibaca, masih bisa dibaca lagi kan. Apalagi kalau sudah jadi favorit, bocah-bocah kecil itu gaaak bosan-bosannnya miinta dibacaiiin terus... malah sayanya yang bosan :) Jadi, tiga bulan cukup rasanya.
Cuman... ada yang kurang ini, ada yang belum saya sampaikan ke suami. Untuk kali ini, saya maunya ke Gramedia. Bukan ke toko buku yang biasanya kami ke sana. Toko Buku Wali Songo. Selama ini, sejak Akmal mulai bisa memilih, kira-kira usia 2.5 tahunan lah, kami memang tidak pernah ke gramedia bersama-sama. Menurut suami, itu tidak aman. Kenapa? Ya karena Gramedia itu kan lengkap banget ya... 4 lantai itu bukan cuman buku isinya. Lantai dasar dan lantai satu itu adalah godaan buat Akmal. Belum lagi kalau melewati buku anak-anak impor. Wola... pokoknya gak boleh berlama-lama di situ. Buku-buku anak impor itu tampilannya memang lebih "hidup" jadi wajarlah kalau bocah-bocah itu terkesima. Dan bagi kami, orang tua yang penghasilannya pas-pasan... :) harus terpaksa menahan air mata melihat kekecewaan mereka. Jadi... daripada tersiksa... kami lebih memilih toko buku yang lain. Dan... selama ini Wali Songo jadi pilihan. Sesuai namanya, toko buku ini memang hanya menyediakan buku-buku Islami. Kalaupun ada yang lain itu sedikit banget jumlahnya. Toko Buku ini juga nyaman. Ada Masjid di Lantai Dasar. Masjid lho ya. Bukan musholla. Terus, kalau sedang ada pengajian di Masjid itu, suaranya dimasukkan ke toko. Jadi, sambil milih-milih buku, juga bisa denger pengajiannya. Kemudian lagi, di bagian buku anak, ada pojok khusus yang digelar karpet untuk selonjoran. Ini pojok favorit. Serasa di taman bacaan dah pokoknya. Bukan di toko buku :)

Nah balik lagi. Kenapa sekarang saya pengennya ke Gramed?. Bukan... bukan karena bosan dengan Wali Songo, tapi semata-mata karena kebutuhan Akmal sudah mulai beragam dan mulai njlimet. Di tahun-tahun kemaren prioritas memang ke buku-buku Islam ya, tapi... seiring bertambahnya usia dan wawasannya, anak-anak itu sudah mulai butuh nutrisi tambahan yang lain untuk otaknya. (Dan, Anda tahu Saudara? Emaknya ini sering kelimpungan nyari jawaban kalau pertanyaannya sudah mulai aneh-aneh). Ini yang tidak didapatkan di Toko Buku Wali Songo itu. Di sisi yang lain, saya juga mulai dirambati kerinduan untuk menapakkan kaki ke sana (sok romantis). Ditambah lagi memang ada "misi" khusus juga sih ke Gramed. Apa? Ssttt rahasia... hehehe... Entar ya. Diceritain lain kali saja. Belum waktunya :)

So, kayaknya memang harus ke Gramed deh Bi. Gitu kata saya ke suami. Aku tatap wajahnya (cie) ada gurat kegelisahan di sana (weh jadi cerpen ini nanti). Hmmm... aha... (pake gaya De Ali). Ummi tahu jawabannya. Ya Ummi tahu Bi... (heboh). Kalau memang kegelisahan itu disebabkan karena Akmal yang mulai "liar", kenapa kita tidak jadikan ini sebagai tantangan kita Bi. Kita uji nyali di sana. Teori menghadapi anak sudah kita dapet nih, soal-soal ujiannya kayaknya harus ditambah fariasinya. Gimana? Alhamdulillah Suami bersedia menerima tantangan ini. Sip... Kami mulai charge stok sabar yang banyak. Dan... Welcome to the jungle ... he  he he he he...

Gembiranya hati krucil-krucil itu waktu saya sampaikan kita akan ke toko buku... kita akan ke Gramedia...
tralalalalala

Hari H tiba... sip dah pokoknya... Di sinilah kisah bermula...
Deg-degan saat kami sampai di latar parkiran... Bismillah... Yuhu... belum sampai masuk, di pelataran itu kami sudah mendapatkan soal ujian no.1. Tapi, alhmdulillah terselesaikan dengan baik. Lanjut... Buka pintu, masuk... Wuahhhh... anak-anak itu gembira luar biasa... (hahaha norak banget.). Dan... betul deh... Tapi, di awal ini maslah kok cepet selesai ya. Dia gampang banget diingatkan... wey... Alhamdulillah... Dia manggut-manggut saja saat kami mengingatkan komitmen kami ke Gramed bukan untuk beli mainan, tapi beli buku. Berhasil... Apa kata dia "oh iya, aku kan baru saja beli mainan. Okey... ayo Bi cepet kita ke atas..." Saya beradu pandang dengan suami, sama-sama tersenyum, dengan satu perasaan yang sama. Legaaa....
Sampailah kami di tempat yang dituju... Dua bocah itu heboh luar biasa. Ahay... seneng deh lihat mereka seperti itu. Sayang tadi tidak sempat mengabadikan kehebohan mereka memilih buku. Tapi... saya perhatikan kehebohan mereka masih terbatas pada sampul. Belum isi. Ya sudahlah gak pa pa... Toh memang itu kecenderungan balita. Lha wong mereka memang belum bisa baca. Satu-satunya yang menarik bagi mereka pastilah gambar di sampul depan. Okey... sekarang saatnya mengajarkan ke mereka, bahwa membeli buku tidak cukup dengan melihat sampul. Tapi mesti tahu isinya apa, kita perlukan tidak untuk kita beli. Mulai... Hmmm... cukup alot.. tapi alhamdulillah... Berhasil!. Buku-buku mulai dipilih berdasarkan kebutuhannya... Asik memilih buku, tiba-tiba Mas Akmal ingat sesuatu... Yo ha... Dia sudah jenuh rupanya. Dan... Ayo sudah... Kita belum ke permainan katanya... Huft...Belum sayang... Ummi belum menjalankan misi nih... :) Alhamdulillah Abi berbaik hati. Mempersilahkan Ummi ber-solo- ria dan siap mengawal sendiri anak-anak. Terima kasih Abi... :)

Saat saya sedang sendiri inilah ada pelajaran berharga -bagi saya- dari seorang bapak yang luar biasa sabaaar banget menemani anaknya belanja buku. Sama sih seperti Akmal. Semua semua pengen dibeli (rata-rata anak memang begitu sih ya. Orang dewasa juga). Tapi, si anak ini cenderung kalem. Gak seheboh Akmal. Mungkin karena usia juga. Diam-diam saya perhatikan si bapak menangani anaknya itu. Bapak itu membiarkan anaknya memilih apa saja yang mau dibeli si anak. Setelah dibolak-balik, tahu isinya, suka, ambil, diserahkan ke bapak. Dia gak bawa kantong belanjaan. Begitu seterusnya sampai ada beberapa buku, yang kisaran harganya mungkin sampai 300an lebih. Lha kalau satu bukunya saja 70 - 80 ribu, dikalikan 5 saja, sudah berapa tuh. Sebenarnya angka segitu mungkin biasa saja sih bagi dia -lihat dari penampilannya :) - Cuman, bukan itu pelajarannya. Tapi, bagaimana si bapak dengan sabar menunggu dan menagarahkan si anak untuk menentukan mana yang akan dibeli. Ini pelajaran saya.
ternyata buku-buku yang sudah dipilih tadi tidak dibeli semua Saudara...

Setelah semua dipilih, buku yang terkumpul itu kemudian dibahas satu per satu. Bapak meminta si anak mengeluarkan uang yang akan dipakai belanja. Dan, eksekusi dimulai, mereka berhitung. Sejumlah uang itu cukupnya untuk beli buku yang mana diantara buku-buku yang sudah dipilih. Dan sampai pada satu kalimat "Mana yang adek mau prioritaskan untuk dibeli?". Prioritas!. Sebenarnya, apa yang baru saja saya dan suami lakukan kepada Akmal dan adeknya juga tentang prioritas. Tapi, cara si bapak tadi itu yang menurut saya menarik. Bagi saya. Bisa jadi, banyak juga yang sudah melakukan hal ini. Sementara, saya belum. Dan, saya fikir, di usia Akmal sekarang, cara itu sudah bisa dilakukan. Karena dengan cara seperti itu, sekaligus bisa mengajarkan tentang uang. Bukan saja dari sisi jumlah. Tapi juga bagaimana dia mengelola uang yang dia punya. Mana yang diprioritaskan untuk dibeli, dan mana yang harus ditunda, sesuai kebutuhan. Ini pelajaran untuk saya. Selama ini dia memang tak pernah belanja sendiri. Bahkan untuk sekedar jajan di warung, dia selalu saya temani. Malah, sebenernya jarang juga jajan. Yang ada jajanan sudah saya sediakan di rumah. Bukan karena tak mau melepaskan anak sendirian, atau pelit kasih uang jajan. Tapi, untuk memastikan bahwa makanan yang dia beli adalah makanan yang aman. Dan, agar dia juga tidak terbiasa jajan. Dia memilih, saya cek, aman, tanya harganya, uang saya berikan ke dia, dia yang serahkan ke penjualnya.

Nah itulah pelajaran yang saya peroleh dari si bapak untuk anaknya yang kelas 1 itu. (Kok tahu kalau kelas 1?. Karena tadi saya berbincang sedikit dengan si anak). Uang belanja diberikan ke anak sedari dia di rumah. Dia simpan. Memilih, kumpulkan, seleksi lagi, mana yang lebih dibutuhkan, dan sesuai dengan anggaran yang sudah disiapkan. Itu pelajaran untuk saya.

Tapi tunggu... apa kabar krucil2 di zona permainan?... hohoho abi menghadapi ujiannya sendirian :). Selesai dengan ini itu kami memutuskan pulang. Abi gendong Dek Ali, dan saya gandeng Mas Akmal plus tenteng buku-buku yang sudah diborong. Huhuhu di perjalanan pulang ternyata ujian datang. Dia lupa dengan komitmennya... Wuih ada lego, mobil2 imut itu. Semacam hot wheels. Saya lupa merknya apa.


Untung saja diantara pajangan lego yang dia minati tertera usia yang bukan usianya, jadi gampang… begitu juga dengan si mobil imut nan ciamik harganya itu. Beruntung baru dua hari yang lalu Abi belikan hot wheels untuk dia. Jadi… selamat... Tapi, belum selesai Saudara-saudara… dia bergerak ke arah yang lain. Masih mobil juga… -anak cowok memang gak bisa dipisah dari mainan mobil ya. Ya iyalah kalau dia mainin Barbie malah bahaya jadinya. Glek. Naudzubillah-. Nah, kali ini mainan mobil import yang satu set bisa nyampai 800ribu harganya menjadi inceran. Duh Nak itu bisa buat belanja berapa hari itu Say. Tapi… ahay… kemasan ini bisa jadi senjata untuk menjawab soal kok. “Mas… (kata saya lembut. Ehm). Ini pakai Bahasa Jepang nih. Ummi gak bisa bacanya. Akan sulit nanti baca buku petunjuknya kalau kita merangkai track dan blok mobil-mobilnya. Kita cari yang pake Bahasa Indonesia saja ya." Hiks ternyata dia jawab apa saudara-saudara… “Ummi belajar dong. Biar Ummi bisa… Kan Ummi anak pintar” Lalala Ummi anak pintar katanya… “Okey sayang, Ummi akan usahakan belajar dulu ya. Ehmm Kak Hafshah bisa tuh. Kan Dia sekarang di Jepang. Tapi, kalau nanti ketemu dan sempat ya.” Bla bla bla bla (jurus-jurusnya dikeluarkan semua) Kak Hafshah itu anak teman saya. Alhamdulillah lolos lubang jarum lagi… Saya cuman bisa nyengir dilihatin Mbak-mbak sales di ujung rak. Ke lantai dasar… Oh No… Mata si imut ini tertuju pada CD edukatif. Untungnya dia bisa terhibur walau hanya dengan mencoba di tempat. Dan, saya bisikkan di telinganya, “Wuih Mas Akmal hebat, cepet menyelesaikannya. Mirip-mirip dengan yang kita punya di rumah ya…” Berhasilllllll… hehehe Ummi mah harus jago merayu…

Ini dia buku-buku yang masuk ke kantong belanja kami. Eh kok ada struk belanjaannya *malu... untung gak kelihat angkanya euy..

Minta dipoto bareng-bareng bukunya, setelah lihat Ummi sibuk poto-poto buku :)
Dek Ali tumben ogah narsis. :) oh sedang asyik dengan Diva dan hijaiyyah baru rupanya
Abi tersenyum bahagia. Lulus ujuan ternyata. Selamat ya Pak. dan si dia manyun! Lihat ekspresinya :D



--- selesai ---

Diposting oleh cicikretnowati di 15.00 0 komentar
Label: HOME SCHOOLING

Kamis, 01 Mei 2014

IDE OH IDE

Ide di manakah kau berada... sungguh aku ingin jumpa... meski lewat kata (aih merubah lagu Mas Katon Bagaskara)
Entahlah, apa karena faktor U, saya sering banget kebingungan mencari mahluk dan menemukan makhluk ini. Yang mengesalkan adalah seringnya dia datang tiba-tiba. Sudah gitu kedatangannya pada saat yang tidak tepat pula. Atau, yang juga menyebalkan lagi, pas dia datang, saya terima, saya silahkan duduk, saya tinggal sebentar ke belakang untuk membuatkannya secangkir teh manis, dan begitu saya kembali eh dianya sudah pergi. Gak pamit. Hmmm...
Sebenarnya dia itu sering aku lihat wajahnya. Cuman saya kok sering kebingungan ya. Karena, ketika dia datang, mendadak, terus menampakkan banyak muka!. Bingunglah saya...
Tapi, alhamdulillah... banyak teman-teman mencoba untuk membantu saya. Mereka bangkitkan lagi semangat 45 saya, dan mengingatkan lagi bagaimana "menjebak" IDE... hahahaha *ups... muslimah gak boleh gitu tertawanya... :)

Jadi, begini.
IDE. MENCIPTAKAN IDE

Ya betul. Sebenarnya ide itu ada. Dia ada di mana-mana. Ide bisa kita dapatkan atau temukan dari diri kita sendiri, atau dari orang lain. Pada saat kapan?. Kapan saja. Kadang pada saat kita sedang membaca, melamun (kalau ini jangan dilakukan ya. Melamun itu bahaya), saat sedang dalam perjalanan (naik angkot, bus, metromini, becak, bersepeda, pesawat, dll), ketika ngobrol dengan teman (asal ngobrolnya jangan ngerasanin orang ya), nunggu antrian di ruang tunggu pasien, santai di taman, berkebun, hadir di majlis taklim, dengar penjelasan dari guru, bengong di pasar, di tempat parkir, nungguin anak sekolah, jenguk teman atau kerabat yang sedang sakit, arisan, bengong di kamar mandi (ngapain?), banyak lah. Di mana saja...
Nah, pada saat mereka datang, yang segera harus dilakukan adalah tangkap eh maksudnya catat!. Catat di mana? ya di mana saja. Kita bisa catat di kertas, buku catatan kecil kita, hp (hp sekarang kan canggih-canggih tuh), atau kita bisa rekam suara merdu kita. Yang punya gadget lain seperti tablet, notebook jangan cuman dipakai untuk ngegame saja. Gunakan fitur-fitur canggih yang ada di dalamnya untuk catat ide. Kenapa? Karena, bagi seorang penulis, ide itu adalah harta. Gak usah berlagak jenius dengan hanya mengandalkan ingatan. Karena, pikun sudah menggejala bahkan di usia muda. Kapasitas memori kita terbatas Saudara-saudara...

Berikutnya... dari semua ide yang "mampir" itu, pilah-pilah. Seleksi. Kenapa?

Bersambung ya... sudah terdengar adzan subuh. Harus sholat dulu, masak, siapin sarapan, mandiim anak, bebenah rumah (sengaja dieksplore biar keliahatan sibuk?. Astaghfirullahal'adzim... Semoga tidak riya'. Bukan. Bukan ya. Gak ada niatan itu. Biar makin kelihatan saja kalo saya ini sudah emak-emak rempong... hihihi sama aja itu mah)

Catatan ini orisinil coretan saya dari berbagai sumber, dari buku tips menulis, training kepenulisan Penulis Ideologis, materi-materi yang saya dapat di kelas kepenulisan online di IIDN, dan ngobrol sharing dengan teman-teman yang sudah terbang lebih duluan.


Salam.


Diposting oleh cicikretnowati di 14.51 0 komentar
Label: MENULIS ITU MUDAH LHO

Pendidikan Anak Sejak Usia Tamyiz (7 tahun) Hingga Baligh



(Tulisan ini diambil dari villailmu.wordpress.com)

Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat kelak diserulah anak-anak kaum Muslim, ‘Keluarlah kalian dari kubur kalian’.  Merekapun keluar dari kuburnya.  Lalu, mereka diseru, ‘Masuklah kedalam sorga bersama-sama’.  Seraya mereka berkata: ‘Duhai, Tuhan kami, apakah orang tua kami turut bersama kami?’  Hingga pertanyaan keempat kalinya menjawablah Dia, ‘Kedua orang tua kalian bersama kalian’.  Berloncatanlah setiap anak menuju ayah ibunya, memeluk dan menggandeng mereka, mereka memasukkan orang tuanya kedalam sorga.  Mereka lebih mengenal ayah dan ibu mereka pada hari itu melebihi pengenalan kalian terhadap anak-anak kalian di rumah kalian.”  (Kitab Nuzhah al-Majalis wa Muntakhib an-Nafais, ash-Shufuri, dikeluarkan oleh Abu Na’im dari jalan ath-Thabrani)

Pembinaan Anak Usia 7 hingga 10 Tahun
Pada rentang usia ini, secara emosi maupun sosial anak mengalami perubahan yang sangat signifikan dibanding tahap usia sebelumnya.  Usia  7 tahun mengindikasikan seorang anak yang mulai dapat membedakan baik dan buruk dan menilai sesuatu bermanfaat atau tidak untuk dirinya.  Dalam istilah fiqh pada usia ini dikenal dengan tamyiz.


Dalam hukum syariat, seseorang yang dikatakan tamyiz memiliki kedudukan dan peran hukum tersendiri.  Beberapa diantaranya, ia dapat dilepaskan dari masa hadhonah (pengasuhan), sehingga ia diperbolehkan memilih orang tua yang hendak ia tinggali bersama, jika kedua orang tuanya berpisah.  Masa lepasnya seorang anak dari hadhonah menunjukkan bahwa anak sudah seharusnya bersikap mandiri, yaitu mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan ibu atau pengasuh lainnya.  Meski demikian, perwalian anak ersebut masih berada di tangan ayah hingga usianya baligh.

Rasulullah Saw. juga memerintahkan kepada anak usia 7 tahun ini untuk melaksanakan sholat, meski tidak dengan perintah yang tegas.  Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah atas hal tersebut jika telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya.”

Laki-laki tamyiz juga memiliki kedudukan tersendiri dalam hukum menutup aurat bagi wanita.  Sebab, wanita hanya boleh memperlihatkan aurat kepada anak-anak yang belum mengerti aurat wanita, yaitu mereka yang belum tamyiz (QS A- Nuur : 31).  Ini artinya, laki-laki tamyiz dianggap sudah mengerti aurat wanita.
Secara sosial, pada umumnya usia 7 tahun merupakan masa usia sekolah dasar (dengan kurikulum yang lebih padat dibandingkan masa sebelumnya dan waktu belajar di sekolah yang lebih lama).  Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap penerimaan pendidikan di lingkungan keluarga.  Faktor lingkungan luar rumah juga sudah mulai banyak berpengaruh.

Melihat kedudukan yang cukup berarti dalam hukum syariat tersebut dan kondisi sosial yang dihadapi, perlu kiranya setiap muslim memperhatikan perkembangan anak pada usia ini.  Selanjutnya, harus dipersiapkan bentuk pendidikan yang sesuai dengan kondisinya tersebut.

Bentuk umum pendidikan
Pada fase usia tamyiz, proses pendidikan harus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya.  Melihat kemandirian yang sudah mulai ada, metodenya pun dapat divariasikan mengikuti perkembangan kemampuan anak.  Secara umum bentuk pendidikan pasca tamyiz harus mengacu pada konsep umum pendidikan dalam Islam yaitu bertujuan untuk untuk membentuk manusia yang: (1) memiliki kepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu pengetahuan (iptek) dan (4) memiliki ketrampilan yang memadai.
Dengan kerangka tersebut, maka sejak anak memasuki usia tamyiz (sekitar 7 tahun), anak harus diarahkan untuk :
1.       Penguatan pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam.  Berikut bentuk pendidikan sebagaimana yang pernah diterapkan Rasulullah Saw.
a.       melakukan pembinaan aqidah dengan teknik yang sesuai dengan karakter aqidah Islam yang merupakan aqidah aqliyyah (aqidah yang muncul melalui proses perenungan pemikiran yang mendalam). Outputnya berupa aqidah yang lurus, cinta Allah dan Rasulullah Saw., dekat dengan Al Qur’an.
b.      mengajaknya untuk selalu bertekad menstandarkan aqliyyah dan nafsiyyahnya pada aqidah Islam yang dimilikinya.  Outputnya berupa pelaksanaan syariat Islam dalam perkara sederhana/pribadi, pembiasaan berakhlak mulia, terbiasa beribadah (sholat 5 waktu, puasa Ramadhan dan berdoa dengan standar syariah bukan sekedar ikut-ikutan), takut kepada murka Allah SWT.
c.       mengembangkan aqliyyah Islamnya dengan tsaqofah Islam dan mengembangkan nafsiyyah Islamnya dengan dorongan untuk menjadi lebih bertaqwa, lebih dekat hubungannya dengan Penciptanya, dari waktu ke waktu.
2.       Menguasai tsaqofah Islamiyyah.  Tsaqofah Islam ini dipelajari semata-mata karena dorongan untuk terikat pada Islam dalam kehidupannya, bukan pengetahuan belaka. Meski masih berusia 7 tahun, selayaknya anak sudah dikenalkan dengan tsaqofah Islamiyyah. Hal ini bertujuan agar anak sudah mulai memahami kerangka mengapa harus terikat dengan hukum syariat.  Karena itulah ia mulai diperkenalkan pada ilmu-ilmu tentang al qur’an, al hadits, bahasa Arab sederhana dan fiqh. Sejarah kebudayaan Islam juga perlu disampaikan kepada anak agar mulai memahami bentuk kehidupan Islam yang sesungguhnya, terutama kehidupan di masa Nabi Saw dan khulafaur rasyidin.  Orang tua selayaknya memperhatikan persoalan ini, terutama bila anak tidak disekolahkan di sekolah agama.
3.       Mengusai iptek.  Meski penguasaan iptek lebih dominan dilakukan di sekolah, selayaknya orang tua mengawal berjalannya proses tersebut.  Hal itu bisa dilakukan dengan menemani anak dalam mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan sain dan teknologi.  Tumbuhkan pula kecintaan terhadap ilmu dan semangat belajar yang tinggi.
4.       Penguasaan ketrampilan (life skill).  Meski di sekolah hal ini telah diajarkan, orang tua dapat berperanan lebih dalam membentuk kemampuan ketrampilan hidup bagi anak.  Misalnya, untuk anak perempuan mulai sertakan dalam tugas-tugas kerumahtanggaan.  Sementara bagi anak laki-laki diajarkan ketrampilan lain yang lebih menguras fisik, termasuk olah raga dan melatih jiwa kepemimpinan (siap memimpin dan dipimpin).

Fase tamyiz hingga baligh pada anak dapat dibagi dalam 2 (dua) periode yaitu :
1.       Periode usia 7 tahun hingga 10 tahun
2.       Periode 10 tahun hingga baligh.

Pembagian ini didasarkan pada adanya perbedaan perlakuan pada kedua periode tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw ketika mengajarkan anak-anak sholat.  Adapun ciri khusus. Berikut beberapa ciri bentuk pendidikan untuk anak pada periode usia 7 tahun hingga 10 tahun :
  • pengenalan kewajiban dalam bentuk pembiasaan terhadap kewajiban.
  • pemberian nasihat Islami disertai argumentasi syara’ secara sederhana
  • tidak memberikan sanksi fisik
Adapun untuk periode 10 tahun hingga baligh, pendidikan anak bercirikan :
  • pengajaran hukum-hukum Islam (Fiqih)
  • pemberian beban dan tanggung jawab
  • pemberian sanksi fisik (bila perlu) jika melanggar

Materi Pembinaan (kurikulum) bagi orang tua
Berdasarkan kedua ciri jenis pendidikan pada periode tersebut, dapat disusun kurikulum (materi pembinaan) berikut ini.

Usia 7 tahun hingga 10 tahun:
1.       Penguatan aqidah : memberikan kesadaran tentang siapa diri kita dan hakikat Sang Pencipta sehingga mampu memahami konsep dasar aqidah Islam.
a.       Menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT
b.      Menumbuhkan keyakinan akan pertolongan Allah SWT
c.       Mengkaitkan setiap yang dijumpainya dalam kehidupan dengan konsep aqidah Islam, tentang kekuasaan Allah SWT, sifat-sifat-Nya dan kelemahan manusia.
2.       Membangun keterikatan terhadap hukum syara’:
a.       Mengenalkan sumber-sumber hukum syara’ dengan mendekatkan anak kepada al-Qur’an dan As Sunnah.
b.      Mentarget anak untuk bisa membaca al Qur’an sebelum usia 10 tahun
c.       Menghafal beberapa hadits sesderhana
d.      Mengajarkan cara menulis al Qur’an.
e.      Mengajari dan membiasakan beribadah secara benar; berwudlu, sholat dan doa-doa harian, dan berpuasa.  Rasulullah Saw. bersabda : “Suruhlah nak-anakmu mengerjakan sholat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka pada usia 10 tahun bila mereka tidak sholat, dan pisahkan mereka dari tempat tidurnya (laki-laki dan perempuan).” [HR. al-Hakim dan Abu Dawud].
f.        Melarang akhlak tercela seperti menggunjing, berdusta, mencela, menipu mencuri (QS Al Mumtahanah [60]:12), mengambil hak orang lain, suka pamer, sombong, dsb. Sebaliknya dibiasakan melakukan akhlak baik dengan bersikap jujur, sabar, meminta maaf dan gemar memaafkan, menghormati orang tua (QS Luqman [31]:14), qonaah, gemar bersyukur, bersikap sopan santun dalam berbicara dan bertingkah laku, dll. Rasulullah Saw bersabda:
“Apabila anak telah mencapai usia 6 tahun, maka hendaklah ia diajarkan adab dan sopan santun.” [HR. Ibnu Hibban].
g.       Membiasakan melafadzkan kalimah thayyibah; alhamdulillah, subhanallah, inna lillahi wa inna ilayhi raji’uun, Allahu akbar, la ilaah illallaah, insyaAllah, masyaAllah.
h.      Mengajarkan halal dan haram; dalam memilih makanan dan minuman, menggunakan benda apapun, dll
i.         Mengajarkan berthaharoh secara benar; mengetahui perkara najasah dan hadats kecil dan besar, membersihkan diri ketika buang air, adab di kamar kecil, membersihkan badan dan gigi secara baik.
j.        Belajar memilih aktivitas yang baik; tidak menonton film yang tidak Islami, bermain yang manfaat, mengisi waktu luang dengan banyak membaca dan menulis.
k.       Menanamkan persudaraan yang baik, kepada saudara kandung maupun teman-temannya; membiasakan salam, gemar berbagi (makanan), tidak menyakiti saudara dan teman.
3.       Menanamkan jiwa perjuangan
a.       Menceritakan kehidupan rasulullah Saw. dan para shahabat
b.      Menceritakan berbagai konflik di wilayah dan solusinya menurut Islam
c.       Menanamkan semangat membela dan memperjuangkan Islam
d.      Menanamkan keinginan menjadi mujahid
e.      Menanamkan semangat melawan kekufuran
4.       Membiasakan memberikan nasihat (secara verbal tanpa sanksi fisik) dengan menedepankan argumentasi syara’. Hukuman non fisik dapat berupa isolasi (dikurung dalam kamar selama sekian menit), dihapus hak istimewa (seperti di larang nonton TV selama sehari, atau dilarang bermain selama berapa lama) , peringatan, dan lain-lain. Anak akan menerima hukuman dengan lapang dada asal tidak dipermalukan, dibentak atau dikritik terlalu tajam.
5.       Dengan kemampuannya untuk mencerna suatu instruksi secara rasional, maka dianjurkan untuk menstimulasi nalar berfikirnya. Misalnya, mengajak berdiskusi tentang nilai benar dan salah, baik dan buruk. Juga perbedaan antara kebenaran menurut etika sosial dan secara agama. Misalnya, nilai benar dan salah dalam etika sosial adalah berdasarkan kesepakatan manusia. Sedang nilai benar dan salah secara Islam adalah berdasar wahyu Al Quran dan Hadits Nabi (menurut Syara’).
6.       Orang tua harus konsisten menjadi qudwah yang baik.
7.       Orang tua harus menjadi teman dan sahabat yang baik bagi anaknya karena mereka kini mulai memiliki banyak teman.  Jangan sampai kepercayaan pada orang tua luntur gara-gara anak lebih mempercayai temannya.  Memperbanyak diskusi dan memberikan kasih sayang da perhatian lebih dapat mendekatkan hubungan anak dan orang tua.

Untuk usia 10 tahun hingga baligh:
1.       Penguatan aqidah : melanjutkan yang sudah diberikan pada periode sebelumnya ditambah dengan pendetilan dalil-dalil, baik aqliy maupun naqliy.  Anak harus sudah mampu meyakinkan dirinya mengapa memilih Islam bukan aqidah atau agama yang lain.
2.       Memahamkan tentang identitas dirinya.
a.       Mengetahui visi dan misi hidupnya
b.      Menumbuhkan kebanggaan sebagai muslim
c.       Memahami harapan orang tua kepada anak
d.      Memiliki cita-cita dan berupaya merealisasikannya
e.      Terdorong menjadi manusia mulia sebagaimana generasi Islam terdahulu.
3.       Memahamkan konsep baligh.
4.       Memberikan pemahaman dan pelaksanaan beberapa hukum syara’ seperti kewajiban menutup aurat dan berpakaian menurut syara’, meminta ijin memasuki rumah, menundukkan pandangan, tentang mahram, khalwat, ikhtilat, tabarruj dan etika berhias, rasa malu, dsb.
5.       Menanamkan jiwa maskulinitas kepada anak laki-laki dan femininitas kepada anak perempuan.
a.       Tidak berpakaian menyerupai pakaian jenis kelamin yang lain.
b.      Memisahkan diri dari kelompok jenis kelamin yang berbeda
c.        Lebih menyukai aktivitas sesuai tabiat jenis kelaminnya.
6.       Lebih mendisiplinkan pelaksanaan ibadah khususnya yang wajib, bukan sekedar kebiasaan namun sudah disertai dengan kesadaran atas wajibnya aktivitas tersebut.
7.       Memahamkan tanggung jawab
a.       Jelaskan konsekuensi semua perbuatan manusia baik secara syara maupun secara langsung bagi dirinya.
b.      Melatih tanggung jawabnya, misal dengan beberapa tugas baik dalam rumah tangga maupun bersama lingkungannya
c.       Menanamkan rasa senang bertanggung jawab dan tidak merasa terbebani.
d.      Memahamkan kepada siapa seharusnya anak-anak berkomunikasi dalam menyelesaikan persoalannya.
8.       Mengarahkan pertimbangan dalam memilih sebuah urusan/sesuatu
a.       Tanamkan konsep halal dan haram dalam pertimbangan memilih sesuatu
b.      Jelaskan kedudukan maslahat dalam Islam
c.       Mendudukkan rasa suka dan tidak suka di hadapan perkara baik dan buruk
d.      Mengetahui konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
9.       Melatih kedisiplinan anak. Berikut beberapa langkah untuk memudahkan proses pendisiplinan anak.
a.       Buat aturan yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh. Yang baik dan tidak baik. Plus cantumkan juga sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. Tanpa itu mana mungkin anak tahu perbuatan yang melanggar dan tidak.
b.      Tulis aturan-aturan tersebut di kertas karton. Kalau perlu minta si anak yang menulis. Tempel di dinding rumah di posisi yang paling menyolok. Saat anak melanggar salah satu aturan, bawa anak ke depan tulisan dan ingatkan aturan mana yang dilanggar.
c.       Buat sanksi yang logis dan masuk akal. Buat sangsi yang relevan dan mendidik. Sangsi hendaknya berbeda-beda sesuai pelanggaran. Contohnya, apabila anak tidak hormat pada yang lebih tua, hukumannya berupa menulis surat permohonan maaf pada yang bersangkutan. Apabila tidak salat fardhu, harus mengulangi salat plus shalat sunnah, dan seterusnya. Usahakan sanksinya tidak terlalu keras sehingga mudah diberlakukan.  Memukul bisa diberlakukan jika anak tidak mau shalat asal tidak dengan pukulan yang berbekas dan menyakitkan.
d.      Konsisten. Orang tua harus konsisten memperhatikan dan memberlakukan peraturan dan sanksi yang dibuat. Tanpa itu, aturan dan pembuat aturan, yakni orang tua, tidak akan mendapat respek dari anak.
10.   Melanjutkan penanaman jiwa pejuang
a.       Perbanyak diskusi tentang persoalan umat dan solusinya yang hakiki
b.      Dorong anak untuk menjadi bagian dari umat yang terpilih untuk melakukan perubahan di masyarakat yang rusak
c.       Perkenalkan aktivitas perjuangan yang dilakukan orang tua
d.      Libatkan anak dalam aktivitas perjuangan orang tua sehingga mereka menerima aktivitas seperti itulah yang harus dijalani dalam kehidupannya mendatang.
e.      Berikan pengharapan yang besar atas perjuangan yang dilakukan baik kebaikan di dunia maupun di akhirat.  Ini bertujuan agar anak tidak merasa capek, bosan dan mundur dari keterlibatan perjuangan.
f.        Berikan penghargaan setiap kali anak mampu terlibat dalam perjuangan beserta orang tua.

Penutup
Demikian beberapa panduan teknis pendidikan dan pembinaan anak sejak anak tamyiz hingga menjelang usia baligh sehingga mereka siap memasuki usia baligh dalam keadaan terikat hukum syariat dan siap menjadi pembela Islam.

Diposting oleh cicikretnowati di 13.45 0 komentar
Label: PARENTING
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod