Jadi, ceritanya begini (perasaan... dari kemaren ada kalimat ini juga ya?. Apakah kalimat seperti ini memang tidak bisa dihilangkan, selalu ada gitu. Entah di tulisan, waktu ngobrol. Hmmm ini "IDE" juga kan?... Ah sudah. Balik ke topik)
Sudah ada hitungan 6 bulan lebih kami sekeluarga gak cuci mata di toko buku. Terus terang ini mengganggu. Mengganggu kestabilan ketenangan hati dan kesehatan mata. Walau sebenarnya ada "dampak" yang berbahaya juga kalau ke sana. Efek samping terhadap kesehatan kantong Saudara-saudara... Karena lapar mata. Duh...lapar yang satu ini, kalau dituruti ternyata berbahaya. Bukan malah tambah gemuk. Tapi, malah tambah kurus. Isi kantongnya :)
Mengagendakan mengunjungi toko buku bagi saya itu perlu. Yang pertama, karena memang saya suka baca. Dan, ke toko buku adalah cara jitu mendapat bacaan gratisan. Hehehe... penyakit bawaan jaman kuliah ini gak bisa ilang ternyata. Jadi inget, dulu bisa berjam-jam di Gramedia. Apalagi kalau yang diputer sama Mbak-mbak dan Mas-mas operator adalah instrumennya Kenny G... Wuah... makin betah saja tuh... Baca sampai habis... kalau gak malu!!!. Jadi, ke toko buku bukan buat beli buku, tapi buat baca. Padahal... Gramedia bukan perpustakaan!. hehehe... Ah tapi ini sih banyak juga pelakunya. Saya gak sendirian. Betul kan?. he...
Nah yang kedua, sebagai orang tua yang baik, maka kami ingin anak-anak kami juga menjadi anak yang baik, sholih, cerdas, pintar, terampil, suka menolong, rajin menabung... (memenuhi standart dasa darma pramuka)
Membaca buku adalah hal yang baik. Dan... kebiasaan ini harus ditumbuhkan sedari mereka kecil. Mencintai buku, karena buku adalah jendela ilmu. Betul kan. Nah... budaya literasi yang saat ini sudah mulai tergerus arus jaman ini yang harus ada di mereka. Gak boleh hilang. Aku gak mau anak-anak lebih suka main game daripada baca buku. Jadi, mendekatkan mereka ke buku, itu harus!. Ke toko buku dan membiarkan mereka memilih mana buku yang akan dibeli dan akan menjadi miliknya yang harus dirawat juga bagian dari belajar mereka lho. Dan juga jadi ajang belajar kita (ini nanti yang jadi topik cerita saya). Pasti banyak yang setuju dengan pendapat saya. Yang setuju angkat tangannya...
Setengah tahun gak menginjakkan kaki ke toko buku. Ini adalah "prestasi" :) . Bahkan kemaren melewatkan momen IBF (Islamic Book Fair), sebuah ajang pameran buku terbesar, itu adalah ironi... (tapi ya sudahlah, kemaren karena memang sedang ada halangan. Pada hari yang direncanakan, Adek Ali sedang sakit T_T).
Yup enam bulan... Hmmm lama juga ya. Selama jelang waktu itu kami seringnya belanja buku secara online. Dan itu sudah cukup untuk memenuhi nutrisi otak kami. Tapi, tetep saja ada yang terasa hilang. Meskipun belanja online ini memudahkan kami dari sisi kepraktisannya. Praktis waktu, dan praktis tenaga dan perasaan :). Secara... ke toko buku dengan membawa pasukan kecil -walau cuman dua- itu rempong. Karena seringnya Mas Akmal, kalau sudah dapat yang dimau, menganggap sudah selesai, pulang. Padahal, saya belum menjamah yang tadi sudah saya lirik-lirik sambil jalan... Pengorbanan seorang Ibu... T_T . Kalau saya bilang "Sebentar ya sayang, Ummi dan Abi juga mau lihat-lihat dulu". Dijawabnya "Ummi lihat-lihat mulu, ceklis dong... biar cepet... Ummi maunya beli buku apa? Sudah. Ambil. Selesai. Pulang". Aih-aih... sok bijak banget ya ni bocah... Gak inget tuh berjam-jam tadi, waktu habis buat siapa ya? Buat dia... Belanja buku gak sama dengan belanja kebutuhan bulanan Say... kalau belanja bulanan ambil, masuk ranjang. Bayar, sudah selesai, pulang. Nah kalau belanja buku, gak harus ambil masuk ranjang. Tapi... ambil samplenya, buka, baca, masuk ke otak, simpan. Jika diperlukan untuk di beli, masukkan buku ke dalam kantong belanjaan. Tapi kalau harus ditunda, bukunya gak harus dibeli, tapi isi bukunya sudah masuk dan bisa kita bawa pulang. Betul tidak?... Nah... si bocah 5 tahun ini belum mengerti tentang hal itu... Ya... gak pa pa... suatu saat nanti, jika kamu dewasa kau akan mengerti ini semuan Boy... :)
Akhirnya... kegelisahan ini saya sampaikan ke suami. Dan deal... ya bulan ini kita ke toko buku. Kami memang tidak mengagendakan ke toko buku setiap bulan. Minimal 3 bulan sekali. Ini karena alasan ekonomis saja :) . Tapi, gak gitu-gitu juga sih. Kami merasa, buku yang kami beli ini cukup untuk persediaan selama 3 bulan itu. Buku kan gak sama dengan makanan, yang sekali lahap, lep, habis, sudah. kalau buku, sudah habis dibaca, masih bisa dibaca lagi kan. Apalagi kalau sudah jadi favorit, bocah-bocah kecil itu gaaak bosan-bosannnya miinta dibacaiiin terus... malah sayanya yang bosan :) Jadi, tiga bulan cukup rasanya.
Cuman... ada yang kurang ini, ada yang belum saya sampaikan ke suami. Untuk kali ini, saya maunya ke Gramedia. Bukan ke toko buku yang biasanya kami ke sana. Toko Buku Wali Songo. Selama ini, sejak Akmal mulai bisa memilih, kira-kira usia 2.5 tahunan lah, kami memang tidak pernah ke gramedia bersama-sama. Menurut suami, itu tidak aman. Kenapa? Ya karena Gramedia itu kan lengkap banget ya... 4 lantai itu bukan cuman buku isinya. Lantai dasar dan lantai satu itu adalah godaan buat Akmal. Belum lagi kalau melewati buku anak-anak impor. Wola... pokoknya gak boleh berlama-lama di situ. Buku-buku anak impor itu tampilannya memang lebih "hidup" jadi wajarlah kalau bocah-bocah itu terkesima. Dan bagi kami, orang tua yang penghasilannya pas-pasan... :) harus terpaksa menahan air mata melihat kekecewaan mereka. Jadi... daripada tersiksa... kami lebih memilih toko buku yang lain. Dan... selama ini Wali Songo jadi pilihan. Sesuai namanya, toko buku ini memang hanya menyediakan buku-buku Islami. Kalaupun ada yang lain itu sedikit banget jumlahnya. Toko Buku ini juga nyaman. Ada Masjid di Lantai Dasar. Masjid lho ya. Bukan musholla. Terus, kalau sedang ada pengajian di Masjid itu, suaranya dimasukkan ke toko. Jadi, sambil milih-milih buku, juga bisa denger pengajiannya. Kemudian lagi, di bagian buku anak, ada pojok khusus yang digelar karpet untuk selonjoran. Ini pojok favorit. Serasa di taman bacaan dah pokoknya. Bukan di toko buku :)
Nah balik lagi. Kenapa sekarang saya pengennya ke Gramed?. Bukan... bukan karena bosan dengan Wali Songo, tapi semata-mata karena kebutuhan Akmal sudah mulai beragam dan mulai njlimet. Di tahun-tahun kemaren prioritas memang ke buku-buku Islam ya, tapi... seiring bertambahnya usia dan wawasannya, anak-anak itu sudah mulai butuh nutrisi tambahan yang lain untuk otaknya. (Dan, Anda tahu Saudara? Emaknya ini sering kelimpungan nyari jawaban kalau pertanyaannya sudah mulai aneh-aneh). Ini yang tidak didapatkan di Toko Buku Wali Songo itu. Di sisi yang lain, saya juga mulai dirambati kerinduan untuk menapakkan kaki ke sana (sok romantis). Ditambah lagi memang ada "misi" khusus juga sih ke Gramed. Apa? Ssttt rahasia... hehehe... Entar ya. Diceritain lain kali saja. Belum waktunya :)
So, kayaknya memang harus ke Gramed deh Bi. Gitu kata saya ke suami. Aku tatap wajahnya (cie) ada gurat kegelisahan di sana (weh jadi cerpen ini nanti). Hmmm... aha... (pake gaya De Ali). Ummi tahu jawabannya. Ya Ummi tahu Bi... (heboh). Kalau memang kegelisahan itu disebabkan karena Akmal yang mulai "liar", kenapa kita tidak jadikan ini sebagai tantangan kita Bi. Kita uji nyali di sana. Teori menghadapi anak sudah kita dapet nih, soal-soal ujiannya kayaknya harus ditambah fariasinya. Gimana? Alhamdulillah Suami bersedia menerima tantangan ini. Sip... Kami mulai charge stok sabar yang banyak. Dan... Welcome to the jungle ... he he he he he...
Gembiranya hati krucil-krucil itu waktu saya sampaikan kita akan ke toko buku... kita akan ke Gramedia...
tralalalalala
Hari H tiba... sip dah pokoknya... Di sinilah kisah bermula...
Deg-degan saat kami sampai di latar parkiran... Bismillah... Yuhu... belum sampai masuk, di pelataran itu kami sudah mendapatkan soal ujian no.1. Tapi, alhmdulillah terselesaikan dengan baik. Lanjut... Buka pintu, masuk... Wuahhhh... anak-anak itu gembira luar biasa... (hahaha norak banget.). Dan... betul deh... Tapi, di awal ini maslah kok cepet selesai ya. Dia gampang banget diingatkan... wey... Alhamdulillah... Dia manggut-manggut saja saat kami mengingatkan komitmen kami ke Gramed bukan untuk beli mainan, tapi beli buku. Berhasil... Apa kata dia "oh iya, aku kan baru saja beli mainan. Okey... ayo Bi cepet kita ke atas..." Saya beradu pandang dengan suami, sama-sama tersenyum, dengan satu perasaan yang sama. Legaaa....
Sampailah kami di tempat yang dituju... Dua bocah itu heboh luar biasa. Ahay... seneng deh lihat mereka seperti itu. Sayang tadi tidak sempat mengabadikan kehebohan mereka memilih buku. Tapi... saya perhatikan kehebohan mereka masih terbatas pada sampul. Belum isi. Ya sudahlah gak pa pa... Toh memang itu kecenderungan balita. Lha wong mereka memang belum bisa baca. Satu-satunya yang menarik bagi mereka pastilah gambar di sampul depan. Okey... sekarang saatnya mengajarkan ke mereka, bahwa membeli buku tidak cukup dengan melihat sampul. Tapi mesti tahu isinya apa, kita perlukan tidak untuk kita beli. Mulai... Hmmm... cukup alot.. tapi alhamdulillah... Berhasil!. Buku-buku mulai dipilih berdasarkan kebutuhannya... Asik memilih buku, tiba-tiba Mas Akmal ingat sesuatu... Yo ha... Dia sudah jenuh rupanya. Dan... Ayo sudah... Kita belum ke permainan katanya... Huft...Belum sayang... Ummi belum menjalankan misi nih... :) Alhamdulillah Abi berbaik hati. Mempersilahkan Ummi ber-solo- ria dan siap mengawal sendiri anak-anak. Terima kasih Abi... :)
Saat saya sedang sendiri inilah ada pelajaran berharga -bagi saya- dari seorang bapak yang luar biasa sabaaar banget menemani anaknya belanja buku. Sama sih seperti Akmal. Semua semua pengen dibeli (rata-rata anak memang begitu sih ya. Orang dewasa juga). Tapi, si anak ini cenderung kalem. Gak seheboh Akmal. Mungkin karena usia juga. Diam-diam saya perhatikan si bapak menangani anaknya itu. Bapak itu membiarkan anaknya memilih apa saja yang mau dibeli si anak. Setelah dibolak-balik, tahu isinya, suka, ambil, diserahkan ke bapak. Dia gak bawa kantong belanjaan. Begitu seterusnya sampai ada beberapa buku, yang kisaran harganya mungkin sampai 300an lebih. Lha kalau satu bukunya saja 70 - 80 ribu, dikalikan 5 saja, sudah berapa tuh. Sebenarnya angka segitu mungkin biasa saja sih bagi dia -lihat dari penampilannya :) - Cuman, bukan itu pelajarannya. Tapi, bagaimana si bapak dengan sabar menunggu dan menagarahkan si anak untuk menentukan mana yang akan dibeli. Ini pelajaran saya.
ternyata buku-buku yang sudah dipilih tadi tidak dibeli semua Saudara...
Setelah semua dipilih, buku yang terkumpul itu kemudian dibahas satu per satu. Bapak meminta si anak mengeluarkan uang yang akan dipakai belanja. Dan, eksekusi dimulai, mereka berhitung. Sejumlah uang itu cukupnya untuk beli buku yang mana diantara buku-buku yang sudah dipilih. Dan sampai pada satu kalimat "Mana yang adek mau prioritaskan untuk dibeli?". Prioritas!. Sebenarnya, apa yang baru saja saya dan suami lakukan kepada Akmal dan adeknya juga tentang prioritas. Tapi, cara si bapak tadi itu yang menurut saya menarik. Bagi saya. Bisa jadi, banyak juga yang sudah melakukan hal ini. Sementara, saya belum. Dan, saya fikir, di usia Akmal sekarang, cara itu sudah bisa dilakukan. Karena dengan cara seperti itu, sekaligus bisa mengajarkan tentang uang. Bukan saja dari sisi jumlah. Tapi juga bagaimana dia mengelola uang yang dia punya. Mana yang diprioritaskan untuk dibeli, dan mana yang harus ditunda, sesuai kebutuhan. Ini pelajaran untuk saya. Selama ini dia memang tak pernah belanja sendiri. Bahkan untuk sekedar jajan di warung, dia selalu saya temani. Malah, sebenernya jarang juga jajan. Yang ada jajanan sudah saya sediakan di rumah. Bukan karena tak mau melepaskan anak sendirian, atau pelit kasih uang jajan. Tapi, untuk memastikan bahwa makanan yang dia beli adalah makanan yang aman. Dan, agar dia juga tidak terbiasa jajan. Dia memilih, saya cek, aman, tanya harganya, uang saya berikan ke dia, dia yang serahkan ke penjualnya.
Nah itulah pelajaran yang saya peroleh dari si bapak untuk anaknya yang kelas 1 itu. (Kok tahu kalau kelas 1?. Karena tadi saya berbincang sedikit dengan si anak). Uang belanja diberikan ke anak sedari dia di rumah. Dia simpan. Memilih, kumpulkan, seleksi lagi, mana yang lebih dibutuhkan, dan sesuai dengan anggaran yang sudah disiapkan. Itu pelajaran untuk saya.
Tapi tunggu... apa kabar krucil2 di zona permainan?... hohoho abi menghadapi ujiannya sendirian :). Selesai dengan ini itu kami memutuskan pulang. Abi gendong Dek Ali, dan saya gandeng Mas Akmal plus tenteng buku-buku yang sudah diborong. Huhuhu di perjalanan pulang ternyata ujian datang. Dia lupa dengan komitmennya... Wuih ada lego, mobil2 imut itu. Semacam hot wheels. Saya lupa merknya apa.
Untung saja diantara pajangan lego yang dia minati tertera usia yang bukan usianya, jadi gampang… begitu juga dengan si mobil imut nan ciamik harganya itu. Beruntung baru dua hari yang lalu Abi belikan hot wheels untuk dia. Jadi… selamat... Tapi, belum selesai Saudara-saudara… dia bergerak ke arah yang lain. Masih mobil juga… -anak cowok memang gak bisa dipisah dari mainan mobil ya. Ya iyalah kalau dia mainin Barbie malah bahaya jadinya. Glek. Naudzubillah-. Nah, kali ini mainan mobil import yang satu set bisa nyampai 800ribu harganya menjadi inceran. Duh Nak itu bisa buat belanja berapa hari itu Say. Tapi… ahay… kemasan ini bisa jadi senjata untuk menjawab soal kok. “Mas… (kata saya lembut. Ehm). Ini pakai Bahasa Jepang nih. Ummi gak bisa bacanya. Akan sulit nanti baca buku petunjuknya kalau kita merangkai track dan blok mobil-mobilnya. Kita cari yang pake Bahasa Indonesia saja ya." Hiks ternyata dia jawab apa saudara-saudara… “Ummi belajar dong. Biar Ummi bisa… Kan Ummi anak pintar” Lalala Ummi anak pintar katanya… “Okey sayang, Ummi akan usahakan belajar dulu ya. Ehmm Kak Hafshah bisa tuh. Kan Dia sekarang di Jepang. Tapi, kalau nanti ketemu dan sempat ya.” Bla bla bla bla (jurus-jurusnya dikeluarkan semua) Kak Hafshah itu anak teman saya. Alhamdulillah lolos lubang jarum lagi… Saya cuman bisa nyengir dilihatin Mbak-mbak sales di ujung rak. Ke lantai dasar… Oh No… Mata si imut ini tertuju pada CD edukatif. Untungnya dia bisa terhibur walau hanya dengan mencoba di tempat. Dan, saya bisikkan di telinganya, “Wuih Mas Akmal hebat, cepet menyelesaikannya. Mirip-mirip dengan yang kita punya di rumah ya…” Berhasilllllll… hehehe Ummi mah harus jago merayu…
Ini dia buku-buku yang masuk ke kantong belanja kami. Eh kok ada struk belanjaannya *malu... untung gak kelihat angkanya euy..
![]() | ||
| Minta dipoto bareng-bareng bukunya, setelah lihat Ummi sibuk poto-poto buku :) |
![]() |
| Dek Ali tumben ogah narsis. :) oh sedang asyik dengan Diva dan hijaiyyah baru rupanya |
![]() |
| Abi tersenyum bahagia. Lulus ujuan ternyata. Selamat ya Pak. dan si dia manyun! Lihat ekspresinya :D |
--- selesai ---





0 komentar:
Posting Komentar