![]() |
| Ilustrasi hasil dari googling. Asli BUKAN foto saya dengan suami :) |
"Aku jenuh Yan..."
Sesaat kamu terdiam dan menarik nafas panjang.
"Aku masih belum bisa menerima Mas Radit sepenuhnya. Banyak hal yang kuinginkan dari seorang suami tapi tak kutemukan pada dirinya. Kami sering berseberangan pendapat. Apa yang kuanggap penting, dia tak menganggapnya. Bagiku, dia terlalu lemah sebagai seorang laki-laki apalagi kepala keluarga. Passif" Kamu mulai ungkapkan gundah... Matamu mulai berair, meleleh pelan dan akhirnya terisak.
"Aku iri sama kamu Yana... Kamu mendapatkan orang yang tepat sebagai pendamping hidup. Kamu bisa mendapatkan banyak nasehat dari dia, semangat, arahan. Bang Eri bisa diandalkan menjadi teladan bagi anak-anak."
***
Wey... serius banget bacanya... penggalan dialog tadi itu bukan calon cerpen ya... Tadi itu secuplik kisah saja. Fiktif... Tapi ternyata ini nyata lho. Ada di sekitar kita. Pasangan suami istri yang mememui titik jenuh dalam kehidupan berumah tangga (Jenuh?... hah kok bisa?). Atau... jangan-jangan Anda juga mengalaminya? Yang pasti tokoh "Kamu" di atas bukan Anda lho ya... Sekali lagi itu tadi kisah fiktif, jika ada kesamaan peristiwa dan nama itu adalah kebetulan semata (hey serasa nulis skenario sinetron saja...)
Yup... Kejenuhan dalam berumah tangga, tidak bisa menerima kekurangan pasangan, sering menjadi pemicu retaknya jalinan kasih dalam satu ikatan pernikahan... Lalu... ketika hal itu terjadi apa sih yang harus kita perbuat? Bagaimana sebenarnya agama (Islam) mengatur dan menuntun kita mencapai SAMARA? Sakinah Mawaddah wa Rahmah.
Tetep pantengin frekuensi ini ya (ahay...) Tulisan ini bersambung... (ih kebiasaan deh...) Ya maaf... saya baru bisa menuangkan apa yang ada di kepala saya ke depan lepy tua kesayangan nan berjasa ini di waktu-waktu me time, bukan prime time hehehe... dan me time nya saya itu tengah malam. Sumpah kayak Kalong saya... hehehe...
oke Lanjut nanti...
-- Salam --


1 komentar:
Aha! seneng bacanya, mb. ditunggu lanjutnya. :)
Posting Komentar