skip to main | skip to sidebar

Tentang Saya

Foto Saya
cicikretnowati
Jakarta, Indonesia
Ibu rumah tangga biasa yang tak ingin hidupnya biasa-biasa saja :)
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Arsip

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
      • MENGAJAR ANAK MEMBACA, MENULIS DAN MENGEJA
    • ► Mei (10)
      • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurn...
      • Suamiku Bukan Suamiku
      • Eyang BJ Habibie: Sebuah Catatan di Hari Kebangkit...
      • Catatan di Hari Kebangkitan Nasional
      • IDE OH IDE (2)
      • INDAHNYA EKONOMI ISLAM
      • BALITA SUKA MENENDANG
      • KETIKA AKMAL BELANJA BUKU
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Followers

Kategori

  • Catatanku (6)
  • EKONOMI ISLAM (1)
  • HOME SCHOOLING (4)
  • MENULIS ITU MUDAH LHO (3)
  • MUHASABAH (3)
  • PARENTING (3)
  • SAJAK DAN PUISI (2)
  • SAMARA (1)

Isi Blog

  • ▼ 2014 (20)
    • ▼ Agustus (4)
      • BENERMU BENERE SOPO?
      • Belajar Dari Padi
      • Tak Ada Judul
      • Warisan KAOS KAKI SOBEK
    • ► Juni (1)
      • MENGAJAR ANAK MEMBACA, MENULIS DAN MENGEJA
    • ► Mei (10)
      • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurn...
      • Suamiku Bukan Suamiku
      • Eyang BJ Habibie: Sebuah Catatan di Hari Kebangkit...
      • Catatan di Hari Kebangkitan Nasional
      • IDE OH IDE (2)
      • INDAHNYA EKONOMI ISLAM
      • BALITA SUKA MENENDANG
      • KETIKA AKMAL BELANJA BUKU
    • ► April (4)
    • ► Februari (1)

Assalamualaykum...

Tidak ada yang istimewa dari blog ini selain sebagai tempat buat saya untuk berbagi kebaikan. Berbagi apa yang saya rasakan (tentunya yang layak untuk dibagikan. Karena pastinya ada hal-hal yang tak layak untuk saya bagikan, tapi cukup saya simpan), ide, gagasan-gagasan positif -entah itu dari saya sendiri atau dari orang lain-, dan tentunya menyampaikan kebenaran. Semoga bisa menjadi seperti mata air, yang memancarkan sumber kehidupan. Seperti cahaya yang berpendar terang tapi tak menyilaukan.

--- salam ---

Diberdayakan oleh Blogger.

Cahaya

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain

Jumat, 22 Agustus 2014

BENERMU BENERE SOPO?

Apa yang harus dilakukan oleh manusia jika mendapati sebuah masalah?. Lari dari masalah itu, meratapi masalahnya?, atau megurai permaslahan dan menyelesaikannya?
Bagi yang tak mau dianggap pecundang, pilihannya pastilah pada mengurai permasalahan dan menyelesaikannya. Iya kan?
Tapi berikutnya, dengan cara apa dan bagaimana seseorang tersebut menyelesaikan masalahnya? Ini dia yang masing-masing orang akan berbeda penyelesaiannya.

Sebagai contoh. Bagaimana seseorang memenuhi kebutuhannya untuk makan sedangkan pada saat itu dia tak punya apapun untuk dimakan, termasuk uang untuk membeli makanan?.  Akan banyak ditemukan banyak cara untuk mengatasinya.

Bagi si A bisa saja dia datang ke tetangga kemudian minta makan.
Sedangkan B mungkin punya cara yang lain, datang ke tempat hajatan, masuk, salaman, makan deh sepuasnya, menunya bisa milih lagi.
Sementara si C lain lagi caranya. Ia cari baju-baju terbaiknya, dia jual ke siapa saja yang mau beli kemudian hasil penjualannya itu ia pakai untuk beli makanan.
Demikian juga si D. Ia tak punya baju bagus, tapi ia bisa bantu nyuci piring, gosok baju atau ngepel rumah. Lalu ia tawarkan diri ke tetangga yang kebetulan asistennya sedang berhalangan. ia dibayar dan dibelikannya upah yang ia dapatkan itu untuk membeli makanan
Lain pula cara yang ditempuh si E. Ia melihat dagangan tetangga sebelah yang beraneka ragam. Ada lontong, bakwan, donat, wuih macam-macam lah.  Saat itu warung dalam keadan sepi tak ada yang jaga, tanpa ba bi bu secepat kilat 5 buah lontong dan 10 donat berhasil masuk ke kantong plastik. Segera ia pergi dari tempat itu dan makan hasil jarahannya itu hingga kenyang.
Beda lagi cara yang ditempuh si F. Ia datang ke tetangga, menceritakan permasalahan yang dihadapinya, kemudian ia sampaiakan maksud untuk pinjam uang. Uang yang didapatkan dari piutang tetangga itu, ia gunakan untuk membeli makanan.

Nah demikianah manusia menyelesaikan permasalahan hidupnya. Apapun langkah yang dijalankannya semua berdasarkan pada apa yang ada di pikirannya. Itulah yang dipahaminya. Selanjutnya, apakah semua yang dipahami masing-masing orang dalam contoh di atas bisa dikatakan benar?. Setiap orangpun akan mengukurnya berbeda-beda, tergantung pada sudut pandangnya masing-masing. Jika yang menjadi tolok ukur adalah efktifnya, cepat gak pake lama, ya cara si E lebih cepat bukan? (tapi jangan coba-coba...). Demikianlah manusia bisa berbeda-beda melihat sudut pandang penyelesaian masalahnya. Lalu bagaimana kalau semua mengklaim apa yang dilakukan benar. Saya jamin pasti semua akan kacau. Karena kalau semua menganggap benar, maka tidak akan ada yang salah. Iya kan?. Inilah titik lemah manusia.

Terus bagaiamana?. Maka kembalikanlah standard benar dan salah itu pada Dzat Yang Maha Benar.
Dialah Allah SWT. Jangan coba-coba manusia mengambil alih peran itu kalau ingin hidupnya aman, tentram, kerto raharjo...

-- Salam--
Jakarta, di pagi hari sambil nunggu nasi matang untuk sarapan ^_^

Diposting oleh cicikretnowati di 17.31 0 komentar
Label: Catatanku, MUHASABAH

Selasa, 19 Agustus 2014

Belajar Dari Padi

Setiap saya melihat hamparan padi menguning di sawah, saya mencoba untuk mengingat sebuah perjalan kehidupan. Tanaman ini memang banyak dipakai untuk perlambang kemakmuran, atau untuk sebuah pengingat agar kita tak lupa diri. Semakin berisi semakin merunduk. Dalem banget memang ya rasanya. Tapi bagi saya tak cukup itu sih.

Perjalanan panjang yang harus dijalani padi itu yang membuat saya menaruh perhatian khusus padanya. Padi yang siap panen pastilah melewati sebuah proses bermula dari butiran benih pilihan yang ditaburkan di lahan subur, bersemi tumbuh menjadi tunas pohon baru, ketika sudah cukup kuat akar menopang dia dicabut untuk dipindahkan sementara waktu dan selanjutnya kembali ditanam dengan barisan yang teratur. Para petani di Jawa menyebutnya dengan istilah tandur. Membutuhkan banyak orang untuk mengerjakan tandur ini. Setelah beberapa bulan, dengan perawatan yang luar biasa, perlahan bunga bersemi, berisi, berisi, dan semakin padat isi, semakin berat, bulir-bulir itu semakin memberatkan batang-batang penyangganya. Mereka merunduk.

Nah apa coba pelajaran yang bisa kita petik dari situ.
Ya... untuk bisa "berisi" membutuhkan sebuah proses. Tidak ujug-ujug mak bedunduk. Tidak sim salabim aba kedabra. Proses itu kadang lama, kadang juga cepat. Butuh bersabar untuk melewatinya. Betul apa betul. Sabar!. Aargh... satu kata ini cuman lima huruf, mudah untuk diucapkan tapi melaksanakannya banyak godaan yang harus dihadapi. Iya kan?
Setelah bertempur untuk bisa bersabar, hingga waktunya tiba buah dari kesabaran bisa kita nikmati. Tapi semakin berat isi padi, dia semakin berat merunduk.

Ini sebuah filosofi kehidupan yang luar biasa bagi saya.
Subhanallah... Maha suci Allah SWT yang telah menciptakan padi tak hanya untuk bisa kita makan. Tapi, di dalamnya tersemat sebuah pelajaran hidup yang spektakuler.
Sebuah pelajaran yang akan bisa diambil hanya bagi mereka yang mau berfikir.

-- Salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 14.58 0 komentar
Label: Catatanku, HOME SCHOOLING, MUHASABAH

Senin, 18 Agustus 2014

Tak Ada Judul

Baiklah... harus ada upaya penyelamatan terhadap CAHAYA; MATA AIR BUNDA dari tidur panjangnya kalau tidak ingin disebut pingsan atau malah koma agar tak sampai mati suri. Ya curhat-curhat ringan sajalah. Tentang saya dan anak-anak. Kalau curhatan tentang suami jangan di sini. Tak patut... (kata Mail)

Waktu berlalu benar-benar tak terasa. Bener. Ini bukan sok puitis. Tahu-tahu Mas Akmal sudah 5 tahun 6 bulan. Dek Ali, bulan Agustus ini genap 3 tahun. Masa yang tak singkat dengan segala unik perniknya. Naik turunnya emosi jiwa, pasang surutnya gelombang samudra... semua dirasakan.

Dan dalam perjalanannya ini, baru kemaren saya ngeh betapa kanak-kanak itu melewati prosesnya dan menjadi bagian dari proses saya. Ada kejutan-kejutan di setiap masa yang mereka lewati. Termasuk apa yang terjadi kemaren sore membuat saya lagi-lagi jumpalitan saking kagetnya *lebay yang ini mah. Dalam rentang waktu 5 tahun ini, saya baru menyadari kalau Mas Akaml itu suka "lompat-lompat". Bisa diartikan dalam arti yang sebenarnya, juga bisa tidak.

Duh Gusti... kemana saja saya selama ini?... hehehe... Enggak lah ya... Saya ada bersama mereka. Ada bersama dalam prosesnya.

Tapi memang begitulah perjalanan hidup ini seharusnya. Tidak statis. Dan Mas Akmal berada dalam lintasan perjalanan hidupnya. Berada pada alur proses pembentukan karakternya. Pernah dia melewati menjadi "pengamat", "pengikut", "trend setter". Semakin ke sini semakin tampak karakter yang dia miliki. Meskipun yang jelas manusia memang tak ada yang sempurna. Demikian juga bocah kecil itu. Ada pada satu kondisi dia begitu tak bisa mengendalikan dirinya ketika emosinya memuncak naik. Berteriak tak peduli dia sedang ada di mana. Oooo... Burukkah yang demikian itu? Sedihkah aku sebagai ibunya karena ia tak bisa bersikap manis semanis ibunya ini?... hihihi

Awalnya tentu saya sedih lah. Ketika anak-anak orang lain bisa begitu nurutnya dengan apa yang dikatakan orang tuanya, ternyata saya dapati generasi yang lahir dari rahim saya ini... alotnya kalau sedang bernegosiasi. Alhamdulillah saya cepat bisa disadarkan bahwa mereka sedang berproses. Saya harus cepat mengkoreksi diri, segera identifikasi, dan eksekusi. Hya... apaan nih...


Mengenalinya sedalam-dalamnya, saat apa mereka meledak-ledak, saat apa mereka lucu dan manis, bagaimana mereka bisa luluh, dan bagaimana mengendalikan diri. Ya. Itu saja tugas saya. Dan diantara tugas itu justru yang paling sulit adalah mengendalikan diri saya sendiri. Betul itu. Karena suasana hati saya pasti akan berpengaruh pada mereka.

Terakhir tapi yang terpenting, yang menjadi tugas saya adalah mendoakan mereka agar dalam perjalanan proses kehidupan yang kami jalani, kami tetap ada pada jalan-Nya.

-- Salam --



Diposting oleh cicikretnowati di 03.12 0 komentar
Label: Catatanku

Warisan KAOS KAKI SOBEK

*** 

Al-Kisah seorang kaya raya (Milyader), sedang sakit parah. Menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya... Beliau berwasiat: "Anak-anaku... jika ayah sudah dipanggil yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian. Tolong di pakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek, ayah ingin pake barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipake bila ayah dikubur nanti". Singkat cerita Akhirnya sang Ayah meninggal dunia. Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak2nya minta ke pak modin untuk memakaikan kaus kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya. Akan tetapi pak modin menolaknya: "maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dipakaikan kepada mayat..". Terjadi diskusi panas antara anak2 yg ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin yg juga ustad yg melarangnya. Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris. Beliau menyampaikan: "sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka ber-sama2 siapa tahu ada petunjuk.." Maka dibukalah surat wasiat alm milyader buat anak2nya yg di titipkan kepada Notaris tersebut. Ini bunyinya: Anak-anaku pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah... lihatlah anak2ku padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah dan sawah di-mana2, rumah mewah banyak... tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati. Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yg ikhlas. Anak2ku inilah yg ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dg dunia yg sementara. Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah... Semoga mengingatkan kita... 

*** 

Kisah di atas adalah sebuah kisah yang saya dapatkan dari seorang sahabat (hehe ngaku-ngaku), Ustadzah, sekaligus salah satu perempuan yang menginspirasi saya, di TL facebook. Bukan main. Jujur saja nih, pagi-pagi buka FB (ah ketahuan pagi-pagi sudah FB an) membaca tulisan itu rasanya semriwing hati saya. Betapa tiada berharganya segala apa yang kita dapatkan di dunia saat kita tiada. Bahkan barang yang tak bernilai (materi) tak bisa kita bawa serta.

Lalu... apakah dengan demikian, Allah SWT melarang kita untuk kaya?. Ternyata tidak!. Allah SWT tak pernah membatasi seberapa banyak harta yang bisa kita dapatkan saat di dunia. Tak ditemukan satu ayat pun dalam Al Quran atau bahkan dalam hadits yang menyatakan bahwa Allah SWT memberi batas kekayaan yang boleh dimiliki manusia. Secara jumlah Allah SWT tak melarangnya. Bahkan Dia telah nyatakan bahwa telah Dia ciptakan segala apa yang ada di bumi ini untuk manusia. Ini ada dalam firman-Nya di Surat Al Baqarah (2):29.

 هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (manusia), dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.  

Semua apa yang ada di dunia ini dalah milik Allah SWT karena memang Dialah yang menciptakan. Tapi, atas izin yang telah Dia berikan, manusia boleh untuk menikmati segala yang telah Allah SWT cipta. Tentu saja, itu berarti kesempatan bagi manusia untuk "memiliki" apa-apa yang telah Allah SWT izinkan untuk dinikmati. Tanpa batas. Allah SWT hanya memberikan larangan terhadap jenis dan cara memperolehnya. Bukan jumlah. 

"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya" (Terj. Q.S Al Maidah (5):88)

Jadi, demikianlah Allah SWT tak pernah melarang kita untuk itu. Bahkan Allah SWT perintahkan kita untuk tidak bermalas-malasan. Namun, ini semua tak lantas menjadi pembenar bagi manusia untuk berbuat semaunya atas harta yang telah ia dapatkan. Nah disinlah letak peringatannya. Allah SWT tidak membenarkan jika perolehan harta itu untuk menumpuk-numpuk harta atau bermegah-megahan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat Al An'am ayat 141 yang artinya:

"Janganlah kalian berbuat israf (menafkahkan harta di jalan kemaksiatan) karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf". (Terj Quran Surat Al An'am:141)

Dalam sebuah Hadits juga diriwayatkan:  

"Siapa saja yang mencari dunia demi mendapatkan yang halal, seraya menjaga dari kehinaan, untuk memenuhi nafkah keluarganya atau karena empati kepada tetangganya maka dia akan menemui Allah SWT, sementara wajahnya bagaikan sinar bulan purnama. Siapa saja yang mencari dunia untuk mendapatkan yang halal, namun demi suatu kebanggan, memperbanyak harta dan pamer kekayaan maka dia akan menemui Allah SWT, sementara Allah SWT murka kepadanya."
(hadis ini tercantum dalam Al-Mushannaf karya Ibn Abi Syaibah dari jalur Abu Hurairah).

Lalu, apa hubungannya dengan warisan kaos kaki tadi?

Yang pasti, walaupun Allah SWT tak melarang kita untuk menikmati apa yang ada di dunia -tentunya yang halal dan didapatkan dengan cara yang halal- tapi Allah SWT tak inginkan kita untuk mencintai dunia sebegitu rupa sampai kita tergila-gila. Karena, izin yang telah Allah SWT berikan itu hanya berlaku di dunia. Sesaat setelah kita tinggalkan dunia dan hingar bingar kehidupannya, semua yang ada di dunia otomatis habis masa berlakunya. Ekpired!.

Wallahu alam bisshowab

--Salam--
Diposting oleh cicikretnowati di 01.45 0 komentar
Label: Catatanku, MUHASABAH

Selasa, 03 Juni 2014

MENGAJAR ANAK MEMBACA, MENULIS DAN MENGEJA


By Iluvia Dama on Thursday, February 14, 2013 at 12:14pm
dr. Susan R. Johnson, FAAP
diterjemahkan oleh Ellen Kristi
* pernah dimuat secara bersambung dalam e-magazine Sekolah Rumah

PENGANTAR DARI PENERJEMAH
Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis. Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).

Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar baca-tulis semakin cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya, mencekoki anak dengan pelajaran formal terlalu dini justru berbahaya? Berikut ringkasan penuturan dari pakar perkembangan dan perilaku anak, dokter Susan Johnson, yang layak dicermati para orangtua.

Bagian I – Sistem Proprioseptif

Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang, selalu bergeliat-geliut di kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku, mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering terbangun sepanjang tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan orangtua sebelum bisa lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar sistem proprioseptifnya belum matang.

Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus melihat atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa diuji antara lain dengan melihat apakah seorang anak bisa berdiri stabil di atas satu kaki dengan mata terpejam.

Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian. Selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang tidak mampu duduk tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai penderita ADD (Attention Deficit Disorder).

Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah berlatih berpuluh-puluh kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b” dan “d”, atau tanpa sadar menulis angka 2 atau 3 secara terbalik. Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu di punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.

Sistem proprioseptif menjadi kuat melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak mainan, membawakan belanjaan, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, atau bergelantungan di tangga lengkung taman bermain. Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi antara benak dan reseptor di otot, tendon, dan sendi terbentuk. Saat lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak kaki maju, mundur, naik, turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai memperoleh kesadaran tentang ruang di sekeliling mereka.

Dampaknya, saat nanti mereka memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu mengikuti dan melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu. Memori dari gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas terbentuklah gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf ini. Sebelum mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai panduan. Mereka tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2 dan 3.

Bagian II – Membaca, Mengeja, dan Menulis

Belakangan ini, kurikulum dalam Kelompok Bermain (playgroup) dan Taman Kanak-kanak tampak semakin mendesak agar anak balita belajar baca-tulis-eja. Tetapi betulkah waktunya sudah tepat? Sudah siapkah mereka? Mari kita kaji dari aspek perkembangan otak anak.

Jika anak belajar membaca pada usia 4-7 tahun, maka bagian otak yang akan dipakai adalah belahan otak kanan. Belahan ini membuat anak mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf dan angka. Saat diperkenalkan pada sebuah kata, anak akan mengingat huruf pertama dan huruf terakhir, serta panjang dan bentuknya secara umum – dan tergambarlah kata itu di benaknya.

Kelemahannya, kalau cara membaca dengan otak kanan itu terpatri di pola pikir anak, di kemudian hari ia akan mengalami berbagai problem belajar. Sebab, anak jadi terbiasa melihat kata sebagai gambar. Ia melihat huruf pertama, huruf terakhir, panjang dan bentuknya lantas menebak “kata apa itu?”. Kata BURUK bisa dibaca BUSUK atau BULUK. Jika Anda pampangkan kata ARJOLI ia akan membacanya sebagai ARLOJI tanpa sadar bahwa ia telah salah mengeja. Kata-kata seperti SIAP dan SUAP atau SURAT, SARAT, dan SIRAT akan terlihat sama saja.

Membaca via otak kanan oke-oke saja untuk kata-kata pendek, tapi akan sangat melelahkan untuk kata yang panjang, apalagi kalimat. Anak-anak yang membaca dengan belahan otak kanan pasti bakal kewalahan setelah membaca beberapa alinea. Lagipula, karena sibuk membunyikan kata, mereka tak bisa menangkap makna utuh dari suatu bacaan. Tidak ada imaji mental yang timbul sementara mereka membaca buku cerita. Ini akan membatasi pemahaman menyeluruh mereka. Akibatnya, saat harus meringkas atau melaporkan isi bacaan, mereka cenderung mencontek atau menyalin teks apa adanya.

Karena pusat membaca di otak kanan melihat huruf dan angka sebagai gambar, cara belajar membaca terbaik untuk usia 4-7 tahun adalah menghubungkan huruf atau angka dengan gambar-gambar. Misalnya, huruf “M” bisa diwakilkan oleh gambar dua puncak gunung dengan lembah di tengahnya. Contoh lain termasuk menggambar  seekor katak untuk huruf “K”, seekor badak untuk huruf “B” atau wafer untuk huruf “W”.

Kita juga belajar mengenalkan bunyi huruf dengan mengaitkannya ke benda nyata, misalnya bahwa bunyi “M” adalah bunyi pertama dari kata “Mama”. Tapi cara ini tidak bisa dipakai untuk membuat anak hafal bentuk hurufnya. Dari sudut ilmu perkembangan, sangat tidak masuk akal mengharap anak hafal bagaimana menulis huruf B dengan bilang, “Babi, Nak, babi!” karena huruf B sama sekali tidak mirip dengan babi, atau huruf A dengan apel, dsb.

Tetapi untuk belajar membaca secara formal, masih perlu dipenuhi dua faktor lain. Pertama, berkembangnya pusat baca di belahan otak kiri. Ini rata-rata terjadi usia 7-9 tahun (pada anak perempuan bisa lebih cepat, sementara pada anak lelaki bisa lebih lambat, sekitar umur 10-12 tahun). Pusat membaca di otak kiri inilah yang menyanggupkan anak-anak untuk belajar membaca secara fonetis (dari huruf ke huruf). Sekarang mereka dapat mengingat lebih akurat bagaimana mengeja kata-kata.

Belahan otak kanan menyanggupkan anak membaca lewat ingatan visual, sementara belahan otak kiri dengan metode fonik (membunyikan kata dari huruf ke huruf). Membaca dengan ingatan visual sangat efisien untuk kata-kata pendek, sementara metode fonik efisien untuk kata-kata panjang. Jika kedua belahan otak itu telah berkembang dan saling terhubung, anak bisa mengakses keduanya secara bersamaan. Akibatnya, anak akan mampu membaca kata pendek maupun panjang dengan efisien.

Bagaimana kita tahu belahan otak kanan dan kiri telah saling terhubung (integrasi bilateral)? Cobalah tes kemampuan mereka melakukan cross-lateral skip: apakah mereka bisa mengayunkan kaki kiri dengan tangan kanan atau kaki kanan dengan tangan kiri berbarengan tanpa berpikir atau berkonsentrasi. Sebab gerakan-gerakan tubuh bagian kanan terhubung dengan belahan otak kiri, sementara gerakan-gerakan tubuh bagian kiri terhubung dengan belahan otak kanan. Kalau anak dapat menggerakan tangan dan kaki yang berseberangan bersama-sama, berarti belahan otak kanan dan kiri sedang “ngobrol” atau terhubung satu sama lain. Kalau anak hanya bisa mengayunkan tangan dan kaki yang sama (homolateral skip), berarti mereka belum siap membaca, karena mereka belum bisa mengakses kedua belah otak secara simultan.
Kemampuan mengakses secara simultan pusat baca di belahan otak kiri dan kanan memudahkan proses membaca anak. Sembari membaca, ia juga bisa menciptakan imaji visual dalam benaknya tentang isi bacaan sebab ia tidak terpaku pada kegiatan mengeja. Alhasil, saat diajak berdiskusi atau disuruh menceritakan kembali, mereka mampu menguatakannya dengan kata-kata mereka sendiri. Mengapa? Karena imaji itu hidup dalam otak mereka.  Mereka jadi lebih mudah memahami makna di balik cerita dan buku yang mereka baca. Belajar mengeja pun akan jadi lebih mudah.

Saya kuatir melihat makin banyaknya siswa kelas 4, 5, 6 SD bahkan SMP di sekolah negeri maupun swasta yang masih kesulitan mengeja atau masih membaca secara visual. Pernah saya memberi tes. Saya minta sejumlah anak membaca kalimat ini: Enam boach pergi brllibur berasma naik preahu mnemacing ikon. Ternyata banyak yang tidak sadar bahwa kalimat itu mengandung salah eja. Saat saya suruh mereka membaca kertas lain berisi kalimat yang sama namun dieja dengan benar, mereka bilang kalimat kedua ini sama saja dengan yang pertama. Paling banter mereka hanya menyadari 1-2 kata saja yang berbeda ejaan.
Anak-anak ini telah didesak untuk membaca terlalu cepat, saat hanya otak kanan mereka yang sudah siap. Mereka menutupinya dengan belajar membaca segala sesuatu hanya dengan ingatan visual. Saat pusat baca di belahan otak kiri mereka akhirnya siap, mereka masih terbiasa membaca dengan otak kanan.  Baru ketika kata yang mereka baca terlalu sulit, mereka memakai pusat baca otak kiri. Tetapi mereka belum bisa memakai pusat baca di otak kiri dan otak kanan bersama-sama.

Banyak dari anak-anak ini masih belum memiliki integrasi bilateral dalam gerakan fisik mereka seperti juga dalam keterampilan baca mereka. Sebagian anak membaca dengan lambat dan susah payah. Sebagian anak lain punya ingatan visual begitu kuat sehingga mereka bisa membaca cepat tetapi tingkat pehamaman dan ejaan mereka payah. Kedua kelompok ini sama-sama tidak bisa membayangkan dengan mudah adegan-adegan dari teks yang mereka baca atau mengingat bagaimana cara mengeja tiap kata satu per satu.
Anak-anak tingkat akhir sekolah dasar yang masih kesulitan membaca perlu diberikan terapi sesuai kasusnya. Ada banyak opsi terapi yang bisa dipilih. Oh ya, mereka juga perlu sering dilatih melakukan gerakan silang untuk menguatkan integrasi otak kiri dan otak kanan, misalnya lewat permainan tenis, berenang dengan berbagai gaya, atau mendaki gunung. Sebagai catatan, semua terapi ini jangan dijalankan dalam suasana persaingan, sebab stres mengganggu pembentukan jalur syaraf. Setelah itu, mereka harus dilatih ulang membaca fonik dengan otak kiri.

Sekolah dan orangtua berperan besar dalam mendukung proses belajar anak lewat penyediaan makanan yang bergizi, buah dan sayuran segar, dengan menghindari minyak yang setengah terhidrogenisasi dan lemak trans. Tidur yang cukup – yang berarti bertambahnya persentase rapid eye movement (REM) – akan membantu anak mencerna pelajaran yang ia terima di hari sebelumnya. Yang tak kalah pentingnya adalah cinta kasih tanpa syarat. Anak yang merasakan cinta kasih ini akan bertumbuh kembang lebih optimal, termasuk kemampuan akademisnya.

Pembatasan ketat terhadap kegiatan menonton (televisi, video, games komputer), bahkan meniadakannya sama sekali di hari-hari sekolah, akan membebaskan pikiran anak untuk berpikir. Jika tidak, tontonan elektronik itu akan membombardir otak anak dengan rentetan gambar yang menginterupsi proses berpikir. Irama yang teratur dan rutin dalam pola makan dan tidur serta kegiatan sehari-hari akan mendukung sistem syaraf yang rileks dan anak pun lebih siap belajar.

Sekali lagi, anak tidak dapat belajar dengan baik, jaringan syaraf pun tak berkembang sempurna, jika anak stres. Memaksa mereka menulis, membaca, dan mengeja, atau memberi mereka tes-tes “standar” terlalu dini (tidak sesuai dengan tahap perkembangannya) akan menciptakan perilaku bermasalah dan problem-problem belajar, terutama pada anak laki-laki. Mereka bisa benci sekolah, juga benci belajar.

Tahun pertama sekolah dasar adalah waktu untuk memperkenalkan berbagai gambar bentuk. Anak-anak belajar dan membuat huruf-huruf yang dijadikan gambar. Mereka berlatih tulis bersambung (kursif), setiap huruf ditulis berulang kali (misalnya, bentuk kursif “c” disambung seperti ombak lautan).

Satu atau dua tahun kemudian, saat anak sudah mahir berdiri di satu kaki dengan mata tertutup, menebak huruf atau angka yang ditulis di punggungnya, lompat tali maju mundur, dan melakukan gerakan silang – artinya, otak kanan dan otak kiri telah sama-sama berkembang dan saling terhubung – pelajaran formal untuk membaca, mengeja, dan menulis sudah bisa dimulai.

Sudah waktunya untuk menyingkirkan meja-meja dari kelompok bermain dan taman kanak-kanak. KB/TK perlu mengisi kurikulumnya dengan permainan yang melatih integrasi syaraf, keterampilan motorik halus, kemampuan motorik visual, keseimbangan, kekuatan otot, proprioseptif, selain perkembangan sosial dan emosional anak. Kegiatan seperti drama, memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan satu kaki), lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap, melukis, mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik, merajut, serta keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka untuk belajar. Anak-anak butuh semua gerakan yang sehat, harmonis, ritmis, dan tak kompetitif ini untuk mengembangkan otak mereka. Sebab gerakan tubuh itulah, bersama-sama dengan kecintaan mereka pada proses belajar, yang menciptakan jalur-jalur syaraf di otak mereka, agar mereka bisa membaca, menulis, mengeja, berhitung matematis, dan berpikir kreatif


diambil dari amanyaulady*wordpress*com
Diposting oleh cicikretnowati di 02.53 0 komentar
Label: HOME SCHOOLING, PARENTING

Selasa, 20 Mei 2014

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan

Tempel ini di sini karena EYD saya masih acak adul. Bahan untuk belajar lebih dalem lagi. EYD... EYD...

Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang relevan untuk Wikipedia.(diambil dari WIKIPEDIA)
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:
Islam Quran
Kristen Alkitab
Hindu Weda
Allah
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.


Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.


Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.


Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Jawa Tengah

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.


Misalnya:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.


Misalnya:
Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
6. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.


Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere


Catatan:

(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).


Misalnya:
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama

(2) Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.


Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adham
Siti Fatimah binti Salim
Zaitun binti Zainal

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
pascal second Pas
J/K atau JK-1 joule per Kelvin
N Newton

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.


Misalnya:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa Indonesia

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.


Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.


Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Lebaran hari Natal

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.


Misalnya:
Perang Candu
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.


Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi.


Misalnya:
Banyuwangi Asia Tenggara
Cirebon Amerika Serikat
Eropa Jawa Barat

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.


Misalnya:
Bukit Barisan Danau Toba
Dataran Tinggi Dieng Gunung Semeru
Jalan Diponegoro Jazirah Arab
Ngarai Sianok Lembah Baliem
Selat Lombok Pegunungan Jayawijaya
Sungai Musi Tanjung Harapan
Teluk Benggala Terusan Suez

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.


Misalnya:
ukiran Jepara pempek Palembang
tari Melayu sarung Mandar
asinan Bogor sate Mak Ajad

d. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.


Misalnya:
berlayar ke teluk mandi di sungai
menyeberangi selat berenang di danau

e. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.


Misalnya:
nangka belanda
kunci inggris
harimau sumatera
petai cina
pisang ambon
10. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.


Misalnya:


Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.


Misalnya:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang yang berlaku


Catatan:
Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.


Misalnya:
Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.
Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.

Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.

Misalnya:
Dr. doktor
S.E. sarjana ekonomi
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
S.Kp. sarjana keperawatan
M.A. master of arts
M.Hum. magister humaniora
Prof. profesor
K.H. kiai haji
Tn. tuan

Ny. nyonya
Sdr. saudara

Catatan:
Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.
14. b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.


Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.
16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada EYD pasal I B, I C, I E, dan II F15).
Diposting oleh cicikretnowati di 18.35 0 komentar
Label: MENULIS ITU MUDAH LHO

Suamiku Bukan Suamiku

Ilustrasi hasil dari googling. Asli BUKAN foto saya dengan suami :)



"Aku jenuh Yan..."
Sesaat kamu terdiam dan menarik nafas panjang.
"Aku masih belum bisa menerima Mas Radit sepenuhnya. Banyak hal yang kuinginkan dari seorang suami tapi tak kutemukan pada dirinya. Kami sering berseberangan pendapat. Apa yang kuanggap penting, dia tak menganggapnya. Bagiku, dia terlalu lemah sebagai seorang laki-laki apalagi kepala keluarga. Passif" Kamu mulai ungkapkan gundah... Matamu mulai berair, meleleh pelan dan akhirnya terisak.
"Aku iri sama kamu Yana... Kamu mendapatkan orang yang tepat sebagai pendamping hidup. Kamu bisa mendapatkan banyak nasehat dari dia, semangat, arahan. Bang Eri bisa diandalkan menjadi teladan bagi anak-anak."

***
Wey... serius banget bacanya... penggalan dialog tadi itu bukan calon cerpen ya... Tadi itu secuplik kisah saja. Fiktif... Tapi ternyata ini nyata lho. Ada di sekitar kita. Pasangan suami istri yang mememui titik jenuh dalam kehidupan berumah tangga (Jenuh?... hah kok bisa?). Atau... jangan-jangan Anda juga mengalaminya? Yang pasti tokoh "Kamu" di atas bukan Anda lho ya... Sekali lagi itu tadi kisah fiktif, jika ada kesamaan peristiwa dan nama itu adalah kebetulan semata (hey serasa nulis skenario sinetron saja...)

Yup... Kejenuhan dalam berumah tangga, tidak bisa menerima kekurangan pasangan, sering menjadi pemicu retaknya jalinan kasih dalam satu ikatan pernikahan... Lalu... ketika hal itu terjadi apa sih yang harus kita perbuat? Bagaimana sebenarnya agama (Islam) mengatur dan menuntun kita mencapai SAMARA? Sakinah Mawaddah wa Rahmah.

Tetep pantengin frekuensi ini ya (ahay...) Tulisan ini bersambung... (ih kebiasaan deh...) Ya maaf... saya baru bisa menuangkan apa yang ada di kepala saya ke depan lepy tua kesayangan nan berjasa ini di waktu-waktu me time, bukan prime time hehehe... dan me time nya saya itu tengah malam. Sumpah kayak Kalong saya... hehehe...
oke Lanjut nanti...

-- Salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 15.03 1 komentar
Label: SAMARA

Eyang BJ Habibie: Sebuah Catatan di Hari Kebangkitan Nasional

Eyang BJ Habibie... Rasa-rasanya dia satu-satunya tokoh nasional -birokrat- idola saya. Entahlah... diantara sejumlah tokoh nasional negri ini -yang pejabat- tak ada yang melebihi beliau, entah karismatiknya, geniusnya, keuletannya, perjuangannya. Sejak dari kecil saya benar-benar terpukau bahkan hingga saat ini saya sudah punya dua orang putra, beliau masih tetap menjadi idola.

Setiap manusia memang punya salah, termasuk beliau. Tapi, diluar aspek itu, banyak hal positif terus terang yang luar biasa membius saya. Dan, barusan, ketika saya menamatkan membaca buku biografi beliau "Habibie, Tak Boleh Lelah dan Kalah", obsesi untuk bertemu dengan beliau begitu membuncah. Untuk apa? Saya ingin mengenalkannya kepada anak-anak saya. Saya ingin katakan kepada anak-anak saya itu "Nak, inilah kebanggan negeri ini. Tapi sayang, di negeri ini, saat ini, orang-orang seperti beliau ini tersingkir. Tak terpakai. Kelak, saat masamu tiba, Ummi berharap perubahan telah terjadi. Negri ini telah bangkit dengan kebangkitan yang hakiki, hingga orang-orang hebat dan cerdas seperti beliau bisa berada pada tempat yang semestinya. Untuk membangun sebuah bangsa yang beradab, berbudaya tinggi. Menjadi apapun kamu, kawal negri ini sebaik-baiknya. Ummi bisikkan sesuatu. Kebangkitan negri ini hanya bisa dan akan bisa dengan Maba' Islam. Saat ini, Ummi dan teman-teman seperjuangan ummi perjuangkan. dan kelak kaulah yang menjaganya, mengisinya, dan mengawalnya. Kamu bisa lebih hebat dari dia sayang... "

Taqdir membawa saya tinggal menetap di Jakarta, hmmm semakin dekat sebenarnya jarak antara saya dengan beliau (eya memangnya tahu rumahnya di mana? ). Akankah apa yang saya impikan bisa terwujud? Pengidolaan saya ini tak lebih dari seorang anak pada ayahnya, cucu pada eyangnya, generasi muda bangsa pada pemimpinnya.






-- salam --
Diposting oleh cicikretnowati di 14.03 0 komentar
Label: Catatanku

Catatan di Hari Kebangkitan Nasional

Apa yang seharusnya dilakukan anak muda Indonesia untuk membuat negri ini lebih baik?

Jawaban Eyang Habibie: "Meningkatkan disiplin, produktivitas dan kualitas berpikir, bekerja, serta berkarya sesuai kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Untuk mencapai ini, anak muda Indonesia harus cinta pada karya sesama manusianya, cinta pada lingkungan hidupnya, cinta pada pekerjaannya, dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT." (dari buku Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah)

===== >> YES! sepakat bingit... dan... kalimat yang paling akhir itu lho Eyang... cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT! harus bin kudu memang Yang... (Eyang maksudnya lho ya... bukan SaYang! ) dan kecintaan pada Allah SWT yang Esa inilah yang melahirkan konsekwensi kita untuk tunduk dan patuh hanya pada titahNya saja. dalam segala urusan kehidupan kita. Karena, Dia telah rancang segala titahNya itu untuk mengatur segala urusan kehidupan manusia... Ya... kita... Kita MANUSIA. Dia telah atur semua. Untuk yang mengimaniNya maupun yang tidak mengimaniNya.

Untuk yang tidak mengimani-Nya... Dia biarkan dan tak putuskan Rahman-Nya. Ya sudahlah gak pa pa kalau gak mau mengimani-Nya karena itu adalah pilihan hidup mereka. Masalah Aqidah memang tak bisa dipaksakan. Karena itu lahir dari pembenarannya yang pasti sebagai manusia terhadap fakta kehidupan, manusia dan alam semesta serta hubungan ketiganya dengan sebelum kehidupan, kehidupan, dan sesudah kehidupan, Dia tak pernah paksa manusia untuk mengimani-Nya (di Dunia) cukuplah nanti pertanggungjawaban di akhirat yang akan berbicara, karena pertanggungjawaban makhluk-Nya yang bernama manusia memang bukan di dunia, melainkan di akhirat.

So... kepada yang tak mengimani-Nya, cukuplah ketundukan mereka hidup di dunia ini untuk diatur urusan hidup bermasyarakatnya dengan aturan yang sudah Dia buat. Seorang khalifah yang amanahlah yang akan mengatur bagaimana nanti pelaksanaannya. Tentu juga dengan standart operasional yang juga sudah Allah buatkan dan Rasulullah Muhammad telah contohkan bagimana modelnya.

Dan... kepada yang telah mengimani-Nya Allah khususkan kepada-Nya sebuah konsekwensi atas pilahan hidup-Nya. Perjanjian berat telah mengikat mereka. Kesaksian bahwa hanya Allah SWT Yang Maha Mencipta. Tiada duanya, Dan Muhammad adalah utusan-Nya untuk menyampaikan risalah-risalah-Nya. Untuk apa risalah itu? Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengatur kehidupan manusia. Dalam segala urusan kehidupan. Oh... seketat itukah? Tak adakah ruang gerak bagi manusia?.. Hmm tidak begitu maksudnya. Karena ternyata dalam urusan tertentu Allah berikan ruang bagi manusia untuk berkreasi memenuhi hajatnya. Dan... ruang itu ada pada wilayah cara dan sarana. Dengan inilah Allah SWT pelihara fitrah kita sebagai manusia sebagai makhluk yang berakal.
Eyang Habibie adalah contoh manusia yang telah memanfaatkan akal yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita manusia.

Demikian kira-kira Eyang... Ah... seandainya generasi bangsa ini juga mau memanfaatkan dengan baik akal yang sudah Allah SWT karuniakan kepada mereka dengan berfikir jernih, mendalam dan menyeluruh tapi tentu saja dikawal ayat-ayat Nya... Saya yakin dengan seyakin-yakinnya mereka akan menemukan metode untuk bangkit. Bangkit menjadi bangsa yang mulia dan beradab.

Secercah harap bahwa bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan. Dan benarlah harapan itu ada di tangan kami para generasi muda bangsa ini.

Dan... Hari ini tanggal 20 Mei. Kita bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari kebangkitan nasional.

Semoga Allah SWT kabulkan doa kita.




Diposting oleh cicikretnowati di 13.40 0 komentar
Label: Catatanku

Minggu, 18 Mei 2014

IDE OH IDE (2)

Mau menuntaskan tanggungan yang belum tuntas. Okey kita lanjutkan bahas tentang IDE (ehm gayanya sudah kayak mentor saja :) )

Terakhir... waktu itu sudah bahas ya bahwa ide adalah sesuatu yang berharga. Sebenarnya ini bukan mutlak milik penulis saja sih. Hampir di semua aspek kehidupan, ide adalah hal penting. Sepakat dong. Saking penting dan berharganya, kita gak mau kan ide kita dicuri orang. Sampai-sampai manusia kepikir tuh membuat perlindungan hukumnya dengan undang-undang perlindungan kekayaan intelektual dan hak paten.

Yup... lanjut... Nah kalau sudah dapat ide, simpan baik-baik, catat atau rekam. Biasanya kalau pas lagi super duper, ide nih bisa datang beruntun. Wui... seneng dong. Pastinya... Tapi, karena saking banyaknya, justru ini bisa jadi masalah. Lho kok? Iya, begitulah kira-kira yang sering saya alami. Begitu banyak ide, pikiran ini lalu menjelajah ke mana-mana. Gak fokus. Belum selesai nulis yang ini, tiba-tiba mandeg karena keingat yang itu. Ini masalah saya (jadi berasa belum pantas jadi penulis. Ya emang... lha wong nulis saja nunggu mood, dan itu si mood luama banget nongolnya. Hiks). Kalau Anda?

So... apa yang harus dilakukan jika si ide datang beruntun?. Ini dia tips yang sering saya dapatkan di berbagai training penulisan. Buat list, kemudian pilah-pilah dan eksekusi. bagaimana caranya memilah, lha wong semua bagus je?. Oke sepakat. semua ide itu bagus. Gak ada ide yang jelek, kecuali kemaksiyatan :), tapi coba deh dipertimbangkan apakah semua ide itu akan kita tulis saat ini juga? Tidak kan?. Maka buatlah prioritas. Demikian pesan mentor saya. :)

Memilih dan memilah ide bisa berdasar pada beberapa hal. Apa saja?. Ini nih ilmu yang saya peroleh di kelas penulisan Sekolah Perempuan di IIDN.
1. Mana yang lebih realistis
2. Mana yang sumbernya tersedia (literatur maksudnya)
3. Mana yang paling mungkin bisa kita kerjakan
4. Mana yang paling sesuai dengan latar kita
5. Mana yang paling kita minati
6. Mana yang sesuai dengan kondisi saat ini (up to date).
Nah itu kira-kira yang mungkin bisa jadi solusi saat kita bingung dengan membanjirnya ide yang masuk ke kepala kita :)

Selanjutnya... Tentukan satu pilihan. Eksekusi. Dan... menulislah... jangan ditunda... keburu ngilang lagi lho si idenya. Silahkan dituangkan ke dalam bentuk tulisan (genre) yang diminati. Fiksi atau non fiksi. Untuk segmen anak-anak, remaja, atau dewasa. Silahkan dipilih. Cuman... harus diingat...
  • Kalau pilihannya jatuh pada non fiksi, kita harus mengembangkan fakta dan data yang otentik, bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan personal. Kita tidak boleh berimajinasi sesuka hati kita. Apalagi kalau nulis soal agama misal, cuplikan-cuplikan dalil gak boleh main-main. Copas dari literatur? Sah-sah saja, asal... jangan lupa cantumkan dari mana sumbernya. 
  • Nah... kalau  pilihannya pada fiksi -entah itu cerpen, cerbung, ataukah novel-, silahkan saja mau berandai-andai tanpa perlu mengecek kebenaran kisah itu.
Satu hal lagi yang juga gak boleh dilanggar, jangan sekali-kali menuliskan sesuatu yang bisa mengantarkan pada kesesatan atau bertentangan dengan aturan agama ya... misal tulisan-tulisan cabul alias porno. Naudzubillah...
Syukur-syukur kalau tulisan kita bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Wah te o pe be ge te tuh. Bisa jadi lahan ibadah dakwah deh...
Sip... Tuntas sudah tanggungan melanjutkan catatan tentang ide ini. Semoga bermanfaat...

Selamat menulis...
Semangat... Semoga diterima di media, dan semoga bisa jadi satu buku ya... (yang ini menyemangati diri sendiri :) )

--- SELESAI ---
^_^

# senangnya sekolah di Sekolah Perempuan IIDN.
# dapat ilmu, dapat teman. Nambah ilmu, nambah saudara.
Diposting oleh cicikretnowati di 10.47 0 komentar
Label: MENULIS ITU MUDAH LHO

INDAHNYA EKONOMI ISLAM



Ekonomi Islam itu
Tak cuma melarang dan mengatakan haram atas riba dan bunga perbankan
Tapi Islam memberikan jalan keluar, jual beli (berdagang) diperbolehkan
Islam juga jelaskan bagaimana ketika modal tak ada di tangan
Apa yang bisa pedagang akan lakukan

Ekonomi Islam itu
Tak cuma melarang kau berpangku tangan
Tapi Islam juga jelasakan bagaimana mendapatkan kepemilikan
Berbagi keuntungan, bahkan bagaimana menjadi majikan
Dan juga ketika harus jadi karyawan

Ekonomi Islam itu
Tak cuma bicara etika ketika bekerja
Tapi juga jelaskan bagaimana mengelola harta
Mana yang boleh kau punya,
Dan mana yang harus dipunya oleh semua
Bahkan mana harta yang jadi milik negara

Ekonomi Islam itu
Juga bicara soal tanah
mana yang boleh kau kelola,
dan mana yang tak boleh kau jamah.

Ekonomi Islam itu
Tak sekedar haruskan zakat terbayarkan
Tapi juga jelaskan untuk siapa disalurkan
Siapa yang harusnya kelola dan jadi "loket" pembayaran

Ekonomi Islam itu
Tak cuman bicarakan kantong pribadi
Tapi juga tetapkan bagaimana mengatur kantong sebuah negri

Ekonomi Islam itu
Tak cuman bahas agar perhatikan ekonomi dalam negri
Tapi juga bagaiman berkiprah dalam percaturan ekonomi luar negri

Jika demikian, bisakah pribadi muslim yang ingin taat menjalankan agamanya bisa jalankan ini dengan kemampuan individualnya
Jika sekompleks ini peraturannya, pastilah memang butuh negara yang mengelola dan menerapkannya
Dengan kebijakan politik yang bersandar pada Islam juga tentunya
Karena Islam juga mengatur politik, mengatur bagaimana berkuasa.

Sekian
terima kasih
mohon maklum adanya
pembelajar yang sedang terbata membaca firmanNya
Diposting oleh cicikretnowati di 01.58 0 komentar
Label: EKONOMI ISLAM, SAJAK DAN PUISI

Senin, 05 Mei 2014

BALITA SUKA MENENDANG

Yang ini copas dari Ayahbunda.co.id
(Simpan di sini. Sedang menghadapi masalah yang kurang lebih sama. :) )

Secepat kilat kakinya menyasar apa saja setiap kali keinginannya tidak terpenuhi. Balita sedang belajar tentang dalil sebab akibat. Ia melihat dampak dari perbuatannya, termasuk juga menendang.
Anak mengamati efek tendangannya bisa memicu reaksi. Sekalipun tendangannya tidak keras, tetapi bisa menyebabkan orang di dekatnya terkejut dan benda-benda kecil berantakan. Hasil pengamatan ini yang kemudian membuat anak menggunakan tendangan sebagai salah satu cara menyatakan ketidaknyamanan, kekesalan atau putus asa.

Nah, di sini sebaiknya Anda peka dan tepat menangani balita sebelum ia terbiasa menggunakan tendangan untuk mencapai maksud tertentu. Apa yang bisa Anda lakukan? Jangan cuma memastikan tidak ada benda yang bisa ditendangnya. Bantu dia memahami yang Anda harapkan darinya.
Segera bertindak sejak pertama kali melihat balita menendang sesuatu. Jangan biarkan ia mengulangi kelakuannya. “Stop Nak, jangan ulangi lagi!” Peringatan ini bisa membuat balita berhenti menendang.
Kendalikan reaksi seperti mengomel, mencubit, atau mencapnya sebagai anak nakal. Kalau Anda bereaksi seperti itu berarti Anda justru memberikan contoh padanya bahwa ada cara lain untuk mengungkapkan kekesalan. Sebaliknya ketika ia melihat Anda tetap tenang, ia akan mencontoh cara Anda bereaksi.

Tetapkan konsekuensi ketika balita menendang teman atau kakaknya saat bermain. Ajak ia segera menjauh, dan jelaskan konsekuensi dari perbuatannya. “Kamu boleh main lagi, jika tidak menendang. Sekarang, duduk dulu bersama ibu sampai kamu tenang.” Hindari penjelasan yang mengajaknya berempati, misalnya, “Kalau kamu yang ditendang gimana?” Pada usia ini, anak belum memiliki kematangan kognitif untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Tetapi dia secara mudah bisa memahami konsekuensi yang harus dialaminya.

Konsisten dan pastikan Anda selalu melakukan hal yang sama setiap kali balita melancarkan jurus tendangan kungfunya. Hanya dengan proses yang selalu sama polanya, anak usia ini bisa memahami konsekuensi yang diterima akibat perbuatannya.

Asah Benar. Menendang adalah bagian dari perkembangan psikomotor anak sehingga gerakan ini harus diasah. Terlebih jika pendekar cilik Anda termasuk aktif bergerak. Cara yang tepat untuknya antara lain
Aktivitas luar ruang agar anak leluasa melatih semua gerakan motorik kasar, termasuk menendang bola.
Pastikan faktor keamanan supaya ketika ia berlatih menendang tidak menghadapi risikonya terluka.
Ciptakan kesempatan menendang-nendang benda yang memang khusus disediakan. Seperti tumpukan kardus, botol-botol plastik. Pastikan anak mengenakan alas kaki untuk mencegah cedera.
Tendang angin adalah cara paling sederhana melatih anak. Tetapi aktivitas ini justru membutuhkan kemampuan mengatur keseimbangan tubuh yang baik.

Belajar Ungkap Keinginan. Setelah emosinya mereda, beritahu dia untuk meminta maaf atas perbuatannya. Sadarkan dirinya bahwa sekalipun marah, ia tidak boleh main tendang sesukanya. Lebih baik ia melakukan hal lain ketika kesal, sedih atau putus asa. Ajarkan anak mengungkapkan keinginannya secara langsung. Di usia 1 – 2 tahun, anak belum bisa membuat kalimat lengkap. Tetapi, paling tidak, dia bisa mengatakan “Jangan” atau “Pinjam” untuk membuat kakak atau temannya mengerti keinginannya. Mengalihkan perhatian anak pada mainan atau hal lain, berisiko membuatnya keliru memahami situasi. Atau justru merasa tidak perlu menyatakan perasaan tidak nyamannya, yang justru dapat memicu masalah lain dalam perkembangannya kelak.
Diposting oleh cicikretnowati di 23.54 0 komentar
Label: PARENTING

Sabtu, 03 Mei 2014

KETIKA AKMAL BELANJA BUKU

Masih punya hutang melanjutkan sambungan si "IDE". Tapi bentar ah... tunda dulu yang itu ya. Mau menumpahkan kegembiraan dan "hasil belajar" hari ini tadi. Ini ide nih, kalau dilewatkan, bubar deh... (aplikasi ilmu).

Jadi, ceritanya begini (perasaan... dari kemaren ada kalimat ini juga ya?. Apakah kalimat seperti ini memang tidak bisa dihilangkan, selalu ada gitu. Entah di tulisan, waktu ngobrol. Hmmm ini "IDE" juga kan?... Ah sudah. Balik ke topik)

Sudah ada hitungan 6 bulan lebih kami sekeluarga gak cuci mata di toko buku. Terus terang ini mengganggu. Mengganggu kestabilan ketenangan hati dan kesehatan mata. Walau sebenarnya ada "dampak" yang berbahaya juga kalau ke sana. Efek samping terhadap kesehatan kantong Saudara-saudara... Karena lapar mata. Duh...lapar yang satu ini, kalau dituruti ternyata berbahaya. Bukan malah tambah gemuk. Tapi, malah tambah kurus. Isi kantongnya :)

Mengagendakan mengunjungi toko buku bagi saya itu perlu. Yang pertama, karena memang saya suka baca. Dan, ke toko buku adalah cara jitu mendapat bacaan gratisan. Hehehe... penyakit bawaan jaman kuliah ini gak bisa ilang ternyata. Jadi inget, dulu bisa berjam-jam di Gramedia. Apalagi kalau yang diputer sama Mbak-mbak dan Mas-mas operator adalah instrumennya Kenny G... Wuah... makin betah saja tuh... Baca sampai habis... kalau gak malu!!!. Jadi, ke toko buku bukan buat beli buku, tapi buat baca. Padahal... Gramedia bukan perpustakaan!. hehehe... Ah tapi ini sih banyak juga pelakunya. Saya gak sendirian. Betul kan?. he...

Nah yang kedua, sebagai orang tua yang baik, maka kami ingin anak-anak kami juga menjadi anak yang baik, sholih, cerdas, pintar, terampil, suka menolong, rajin menabung... (memenuhi standart dasa darma pramuka)

Membaca buku adalah hal yang baik. Dan... kebiasaan ini harus ditumbuhkan sedari mereka kecil. Mencintai buku, karena buku adalah jendela ilmu. Betul kan. Nah... budaya literasi yang saat ini sudah mulai tergerus arus jaman ini yang harus ada di mereka. Gak boleh hilang. Aku gak mau anak-anak lebih suka main game daripada baca buku. Jadi, mendekatkan mereka ke buku, itu harus!. Ke toko buku dan membiarkan mereka memilih mana buku yang akan dibeli dan akan menjadi miliknya yang harus dirawat juga bagian dari belajar mereka lho. Dan juga jadi ajang belajar kita (ini nanti yang jadi topik cerita saya). Pasti banyak yang setuju dengan pendapat saya. Yang setuju angkat tangannya...

Setengah tahun gak menginjakkan kaki ke toko buku. Ini adalah "prestasi" :) . Bahkan kemaren melewatkan momen IBF (Islamic Book Fair), sebuah ajang pameran buku terbesar, itu adalah ironi... (tapi ya sudahlah, kemaren karena memang sedang ada halangan. Pada hari yang direncanakan, Adek Ali sedang sakit T_T).

Yup enam bulan... Hmmm lama juga ya. Selama jelang waktu itu kami seringnya belanja buku secara online. Dan itu sudah cukup untuk memenuhi nutrisi otak kami. Tapi, tetep saja ada yang terasa hilang. Meskipun belanja online ini memudahkan kami dari sisi kepraktisannya. Praktis waktu, dan praktis tenaga dan perasaan :). Secara... ke toko buku dengan membawa pasukan kecil -walau cuman dua- itu rempong. Karena seringnya Mas Akmal, kalau sudah dapat yang dimau, menganggap sudah selesai, pulang. Padahal, saya belum menjamah yang tadi sudah saya lirik-lirik sambil jalan... Pengorbanan seorang Ibu... T_T . Kalau saya bilang "Sebentar ya sayang, Ummi dan Abi juga mau lihat-lihat dulu". Dijawabnya "Ummi lihat-lihat mulu, ceklis dong... biar cepet... Ummi maunya beli buku apa? Sudah. Ambil. Selesai. Pulang". Aih-aih... sok bijak banget ya ni bocah... Gak inget tuh berjam-jam tadi, waktu habis buat siapa ya? Buat dia... Belanja buku gak sama dengan belanja kebutuhan bulanan Say... kalau belanja bulanan ambil, masuk ranjang. Bayar, sudah selesai, pulang. Nah kalau belanja buku, gak harus ambil masuk ranjang. Tapi... ambil samplenya, buka, baca, masuk ke otak, simpan. Jika diperlukan untuk di beli, masukkan buku ke dalam kantong belanjaan. Tapi kalau harus ditunda, bukunya gak harus dibeli, tapi isi bukunya sudah masuk dan bisa kita bawa pulang. Betul tidak?... Nah... si bocah 5 tahun ini belum mengerti tentang hal itu... Ya... gak pa pa... suatu saat nanti, jika kamu dewasa kau akan mengerti ini semuan Boy... :)

Akhirnya... kegelisahan ini saya sampaikan ke suami. Dan deal... ya bulan ini kita ke toko buku.  Kami memang tidak mengagendakan ke toko buku setiap bulan. Minimal 3 bulan sekali. Ini karena alasan ekonomis saja :) . Tapi, gak gitu-gitu juga sih. Kami merasa, buku yang kami beli ini cukup untuk persediaan selama 3 bulan itu. Buku kan gak sama dengan makanan, yang sekali lahap, lep, habis, sudah. kalau buku, sudah habis dibaca, masih bisa dibaca lagi kan. Apalagi kalau sudah jadi favorit, bocah-bocah kecil itu gaaak bosan-bosannnya miinta dibacaiiin terus... malah sayanya yang bosan :) Jadi, tiga bulan cukup rasanya.
Cuman... ada yang kurang ini, ada yang belum saya sampaikan ke suami. Untuk kali ini, saya maunya ke Gramedia. Bukan ke toko buku yang biasanya kami ke sana. Toko Buku Wali Songo. Selama ini, sejak Akmal mulai bisa memilih, kira-kira usia 2.5 tahunan lah, kami memang tidak pernah ke gramedia bersama-sama. Menurut suami, itu tidak aman. Kenapa? Ya karena Gramedia itu kan lengkap banget ya... 4 lantai itu bukan cuman buku isinya. Lantai dasar dan lantai satu itu adalah godaan buat Akmal. Belum lagi kalau melewati buku anak-anak impor. Wola... pokoknya gak boleh berlama-lama di situ. Buku-buku anak impor itu tampilannya memang lebih "hidup" jadi wajarlah kalau bocah-bocah itu terkesima. Dan bagi kami, orang tua yang penghasilannya pas-pasan... :) harus terpaksa menahan air mata melihat kekecewaan mereka. Jadi... daripada tersiksa... kami lebih memilih toko buku yang lain. Dan... selama ini Wali Songo jadi pilihan. Sesuai namanya, toko buku ini memang hanya menyediakan buku-buku Islami. Kalaupun ada yang lain itu sedikit banget jumlahnya. Toko Buku ini juga nyaman. Ada Masjid di Lantai Dasar. Masjid lho ya. Bukan musholla. Terus, kalau sedang ada pengajian di Masjid itu, suaranya dimasukkan ke toko. Jadi, sambil milih-milih buku, juga bisa denger pengajiannya. Kemudian lagi, di bagian buku anak, ada pojok khusus yang digelar karpet untuk selonjoran. Ini pojok favorit. Serasa di taman bacaan dah pokoknya. Bukan di toko buku :)

Nah balik lagi. Kenapa sekarang saya pengennya ke Gramed?. Bukan... bukan karena bosan dengan Wali Songo, tapi semata-mata karena kebutuhan Akmal sudah mulai beragam dan mulai njlimet. Di tahun-tahun kemaren prioritas memang ke buku-buku Islam ya, tapi... seiring bertambahnya usia dan wawasannya, anak-anak itu sudah mulai butuh nutrisi tambahan yang lain untuk otaknya. (Dan, Anda tahu Saudara? Emaknya ini sering kelimpungan nyari jawaban kalau pertanyaannya sudah mulai aneh-aneh). Ini yang tidak didapatkan di Toko Buku Wali Songo itu. Di sisi yang lain, saya juga mulai dirambati kerinduan untuk menapakkan kaki ke sana (sok romantis). Ditambah lagi memang ada "misi" khusus juga sih ke Gramed. Apa? Ssttt rahasia... hehehe... Entar ya. Diceritain lain kali saja. Belum waktunya :)

So, kayaknya memang harus ke Gramed deh Bi. Gitu kata saya ke suami. Aku tatap wajahnya (cie) ada gurat kegelisahan di sana (weh jadi cerpen ini nanti). Hmmm... aha... (pake gaya De Ali). Ummi tahu jawabannya. Ya Ummi tahu Bi... (heboh). Kalau memang kegelisahan itu disebabkan karena Akmal yang mulai "liar", kenapa kita tidak jadikan ini sebagai tantangan kita Bi. Kita uji nyali di sana. Teori menghadapi anak sudah kita dapet nih, soal-soal ujiannya kayaknya harus ditambah fariasinya. Gimana? Alhamdulillah Suami bersedia menerima tantangan ini. Sip... Kami mulai charge stok sabar yang banyak. Dan... Welcome to the jungle ... he  he he he he...

Gembiranya hati krucil-krucil itu waktu saya sampaikan kita akan ke toko buku... kita akan ke Gramedia...
tralalalalala

Hari H tiba... sip dah pokoknya... Di sinilah kisah bermula...
Deg-degan saat kami sampai di latar parkiran... Bismillah... Yuhu... belum sampai masuk, di pelataran itu kami sudah mendapatkan soal ujian no.1. Tapi, alhmdulillah terselesaikan dengan baik. Lanjut... Buka pintu, masuk... Wuahhhh... anak-anak itu gembira luar biasa... (hahaha norak banget.). Dan... betul deh... Tapi, di awal ini maslah kok cepet selesai ya. Dia gampang banget diingatkan... wey... Alhamdulillah... Dia manggut-manggut saja saat kami mengingatkan komitmen kami ke Gramed bukan untuk beli mainan, tapi beli buku. Berhasil... Apa kata dia "oh iya, aku kan baru saja beli mainan. Okey... ayo Bi cepet kita ke atas..." Saya beradu pandang dengan suami, sama-sama tersenyum, dengan satu perasaan yang sama. Legaaa....
Sampailah kami di tempat yang dituju... Dua bocah itu heboh luar biasa. Ahay... seneng deh lihat mereka seperti itu. Sayang tadi tidak sempat mengabadikan kehebohan mereka memilih buku. Tapi... saya perhatikan kehebohan mereka masih terbatas pada sampul. Belum isi. Ya sudahlah gak pa pa... Toh memang itu kecenderungan balita. Lha wong mereka memang belum bisa baca. Satu-satunya yang menarik bagi mereka pastilah gambar di sampul depan. Okey... sekarang saatnya mengajarkan ke mereka, bahwa membeli buku tidak cukup dengan melihat sampul. Tapi mesti tahu isinya apa, kita perlukan tidak untuk kita beli. Mulai... Hmmm... cukup alot.. tapi alhamdulillah... Berhasil!. Buku-buku mulai dipilih berdasarkan kebutuhannya... Asik memilih buku, tiba-tiba Mas Akmal ingat sesuatu... Yo ha... Dia sudah jenuh rupanya. Dan... Ayo sudah... Kita belum ke permainan katanya... Huft...Belum sayang... Ummi belum menjalankan misi nih... :) Alhamdulillah Abi berbaik hati. Mempersilahkan Ummi ber-solo- ria dan siap mengawal sendiri anak-anak. Terima kasih Abi... :)

Saat saya sedang sendiri inilah ada pelajaran berharga -bagi saya- dari seorang bapak yang luar biasa sabaaar banget menemani anaknya belanja buku. Sama sih seperti Akmal. Semua semua pengen dibeli (rata-rata anak memang begitu sih ya. Orang dewasa juga). Tapi, si anak ini cenderung kalem. Gak seheboh Akmal. Mungkin karena usia juga. Diam-diam saya perhatikan si bapak menangani anaknya itu. Bapak itu membiarkan anaknya memilih apa saja yang mau dibeli si anak. Setelah dibolak-balik, tahu isinya, suka, ambil, diserahkan ke bapak. Dia gak bawa kantong belanjaan. Begitu seterusnya sampai ada beberapa buku, yang kisaran harganya mungkin sampai 300an lebih. Lha kalau satu bukunya saja 70 - 80 ribu, dikalikan 5 saja, sudah berapa tuh. Sebenarnya angka segitu mungkin biasa saja sih bagi dia -lihat dari penampilannya :) - Cuman, bukan itu pelajarannya. Tapi, bagaimana si bapak dengan sabar menunggu dan menagarahkan si anak untuk menentukan mana yang akan dibeli. Ini pelajaran saya.
ternyata buku-buku yang sudah dipilih tadi tidak dibeli semua Saudara...

Setelah semua dipilih, buku yang terkumpul itu kemudian dibahas satu per satu. Bapak meminta si anak mengeluarkan uang yang akan dipakai belanja. Dan, eksekusi dimulai, mereka berhitung. Sejumlah uang itu cukupnya untuk beli buku yang mana diantara buku-buku yang sudah dipilih. Dan sampai pada satu kalimat "Mana yang adek mau prioritaskan untuk dibeli?". Prioritas!. Sebenarnya, apa yang baru saja saya dan suami lakukan kepada Akmal dan adeknya juga tentang prioritas. Tapi, cara si bapak tadi itu yang menurut saya menarik. Bagi saya. Bisa jadi, banyak juga yang sudah melakukan hal ini. Sementara, saya belum. Dan, saya fikir, di usia Akmal sekarang, cara itu sudah bisa dilakukan. Karena dengan cara seperti itu, sekaligus bisa mengajarkan tentang uang. Bukan saja dari sisi jumlah. Tapi juga bagaimana dia mengelola uang yang dia punya. Mana yang diprioritaskan untuk dibeli, dan mana yang harus ditunda, sesuai kebutuhan. Ini pelajaran untuk saya. Selama ini dia memang tak pernah belanja sendiri. Bahkan untuk sekedar jajan di warung, dia selalu saya temani. Malah, sebenernya jarang juga jajan. Yang ada jajanan sudah saya sediakan di rumah. Bukan karena tak mau melepaskan anak sendirian, atau pelit kasih uang jajan. Tapi, untuk memastikan bahwa makanan yang dia beli adalah makanan yang aman. Dan, agar dia juga tidak terbiasa jajan. Dia memilih, saya cek, aman, tanya harganya, uang saya berikan ke dia, dia yang serahkan ke penjualnya.

Nah itulah pelajaran yang saya peroleh dari si bapak untuk anaknya yang kelas 1 itu. (Kok tahu kalau kelas 1?. Karena tadi saya berbincang sedikit dengan si anak). Uang belanja diberikan ke anak sedari dia di rumah. Dia simpan. Memilih, kumpulkan, seleksi lagi, mana yang lebih dibutuhkan, dan sesuai dengan anggaran yang sudah disiapkan. Itu pelajaran untuk saya.

Tapi tunggu... apa kabar krucil2 di zona permainan?... hohoho abi menghadapi ujiannya sendirian :). Selesai dengan ini itu kami memutuskan pulang. Abi gendong Dek Ali, dan saya gandeng Mas Akmal plus tenteng buku-buku yang sudah diborong. Huhuhu di perjalanan pulang ternyata ujian datang. Dia lupa dengan komitmennya... Wuih ada lego, mobil2 imut itu. Semacam hot wheels. Saya lupa merknya apa.


Untung saja diantara pajangan lego yang dia minati tertera usia yang bukan usianya, jadi gampang… begitu juga dengan si mobil imut nan ciamik harganya itu. Beruntung baru dua hari yang lalu Abi belikan hot wheels untuk dia. Jadi… selamat... Tapi, belum selesai Saudara-saudara… dia bergerak ke arah yang lain. Masih mobil juga… -anak cowok memang gak bisa dipisah dari mainan mobil ya. Ya iyalah kalau dia mainin Barbie malah bahaya jadinya. Glek. Naudzubillah-. Nah, kali ini mainan mobil import yang satu set bisa nyampai 800ribu harganya menjadi inceran. Duh Nak itu bisa buat belanja berapa hari itu Say. Tapi… ahay… kemasan ini bisa jadi senjata untuk menjawab soal kok. “Mas… (kata saya lembut. Ehm). Ini pakai Bahasa Jepang nih. Ummi gak bisa bacanya. Akan sulit nanti baca buku petunjuknya kalau kita merangkai track dan blok mobil-mobilnya. Kita cari yang pake Bahasa Indonesia saja ya." Hiks ternyata dia jawab apa saudara-saudara… “Ummi belajar dong. Biar Ummi bisa… Kan Ummi anak pintar” Lalala Ummi anak pintar katanya… “Okey sayang, Ummi akan usahakan belajar dulu ya. Ehmm Kak Hafshah bisa tuh. Kan Dia sekarang di Jepang. Tapi, kalau nanti ketemu dan sempat ya.” Bla bla bla bla (jurus-jurusnya dikeluarkan semua) Kak Hafshah itu anak teman saya. Alhamdulillah lolos lubang jarum lagi… Saya cuman bisa nyengir dilihatin Mbak-mbak sales di ujung rak. Ke lantai dasar… Oh No… Mata si imut ini tertuju pada CD edukatif. Untungnya dia bisa terhibur walau hanya dengan mencoba di tempat. Dan, saya bisikkan di telinganya, “Wuih Mas Akmal hebat, cepet menyelesaikannya. Mirip-mirip dengan yang kita punya di rumah ya…” Berhasilllllll… hehehe Ummi mah harus jago merayu…

Ini dia buku-buku yang masuk ke kantong belanja kami. Eh kok ada struk belanjaannya *malu... untung gak kelihat angkanya euy..

Minta dipoto bareng-bareng bukunya, setelah lihat Ummi sibuk poto-poto buku :)
Dek Ali tumben ogah narsis. :) oh sedang asyik dengan Diva dan hijaiyyah baru rupanya
Abi tersenyum bahagia. Lulus ujuan ternyata. Selamat ya Pak. dan si dia manyun! Lihat ekspresinya :D



--- selesai ---

Diposting oleh cicikretnowati di 15.00 0 komentar
Label: HOME SCHOOLING
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod